ARFID tidak muncul begitu saja. Biasanya melibatkan kombinasi beberapa faktor:
Sensori & Neurodiversitas
Sebagian individu memiliki sensitivitas tinggi terhadap tekstur, rasa, atau bau makanan. Kondisi ini sering berkaitan dengan spektrum autisme atau sensitivitas sensori lainnya.
Pengalaman Traumatis
Pengalaman tersedak, muntah hebat, atau sakit setelah makan bisa memicu ketakutan makan yang menetap.
Kecemasan & Gangguan Mental Lain
ARFID sering muncul bersamaan dengan gangguan kecemasan, OCD, atau fobia spesifik.
Pola Makan Sejak Kecil
Tekanan makan, pemaksaan, atau pengalaman negatif di masa anak-anak bisa memperkuat hubungan negatif dengan makanan.
Cara Mengatasi : Pendekatan Klinis & Praktis
Kabar baiknya, ARFID bisa ditangani dengan pendekatan yang tepat.
Pendekatan Klinis
- Terapi kognitif perilaku (CBT) untuk mengurangi kecemasan dan pola pikir menghindar
- Terapi paparan bertahap terhadap makanan yang dihindari
- Pendampingan ahli gizi untuk memastikan kecukupan nutrisi
- Pada kasus tertentu, terapi okupasi untuk sensitivitas sensori
Pendekatan Sehari-hari
- Hindari memaksa makan
- Bangun rasa aman saat makan
- Fokus pada kemajuan kecil, bukan langsung “normal”
- Libatkan keluarga sebagai sistem pendukung
Prosesnya memang bertahap, tapi perubahan kecil yang konsisten sangat berarti.
ARFID Bukan Pilihan, Tapi Kondisi yang Perlu Dipahami
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder bukan soal kurang niat, bukan pula sikap kekanak-kanakan. Ini adalah kondisi psikologis nyata yang membutuhkan empati, bukan penghakiman. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pemulihan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan