Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga role model literasi. Ketika guru menunjukkan antusiasme terhadap buku dan pengetahuan, siswa lebih mudah terinspirasi.
Belajar dari Budaya Literasi Negara Lain
Untuk memahami mengapa minat baca siswa masih rendah, kita bisa melihat praktik di negara lain tanpa perlu membandingkan secara negatif.
Negara seperti Finlandia dan Jepang dikenal memiliki budaya literasi yang kuat. Di Finlandia, perpustakaan publik sangat mudah diakses dan menjadi ruang komunitas yang aktif. Sementara di Jepang, budaya membaca sudah ditanamkan sejak usia dini melalui buku anak yang menarik dan kebiasaan membaca di transportasi umum.
Kuncinya bukan hanya pada sistem pendidikan, tetapi pada kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Membaca menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar tugas akademik.
Indonesia juga memiliki potensi besar untuk membangun budaya literasi yang kuat, terutama dengan dukungan teknologi dan komunitas literasi yang semakin berkembang di berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan