Maudy Ayunda Buka Makna Lagu ‘Di Tepi Lamunan’: OST Para Perasuk yang Penuh Rasa & Cerita!
Prolite – Kalau ngomongin sosok multitalenta di Indonesia, nama Maudy Ayunda pasti langsung terlintas di kepala. Nggak cuma dikenal sebagai aktris dan penyanyi, Maudy juga dikenal punya kedalaman rasa dalam setiap karya yang ia hasilkan.
Di tahun 2026 ini, Maudy kembali mencuri perhatian lewat keterlibatannya dalam film Para Perasuk. Menariknya, ia nggak hanya tampil sebagai pemain, tapi juga ikut mengisi original soundtrack (OST) film tersebut.
Bahkan, Maudy menyanyikan dua lagu sekaligus, yaitu “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan.” Dari kedua lagu ini, “Di Tepi Lamunan” jadi salah satu yang paling mencuri perhatian karena maknanya yang dalam dan proses kreatifnya yang unik.
Yuk, kita bahas lebih dalam cerita di balik lagu ini!
Maudy Ayunda: Nggak Cuma Akting, Tapi Juga Total di Musik
Dalam proyek film Para Perasuk, Maudy Ayunda benar-benar menunjukkan totalitasnya. Ia tidak hanya beradu peran, tetapi juga ikut membangun emosi film lewat musik.
Mengisi OST film bukan hal baru bagi Maudy. Sebelumnya, ia juga dikenal sering menyanyikan lagu dengan lirik yang reflektif dan emosional. Namun, di proyek ini, ada sesuatu yang terasa lebih personal.
Dua lagu yang ia bawakan, yaitu “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan,” punya karakter yang berbeda, tapi sama-sama kuat secara emosional.
Kolaborasi Kreatif Bareng Lafa Pratomo
Dalam proses pengerjaan OST ini, Maudy menggandeng Lafa Pratomo sebagai produser dan komposer.
Menariknya, Maudy mengaku sejak awal sudah langsung teringat pada sosok Lafa ketika diminta terlibat dalam proyek ini.
“Aku langsung kepikiran (Lafa Pratomo), siapa nih sosok produser yang akan bisa mengerti rasa dan warna dari film Para Perasuk,” ungkap Maudy.
Bukan tanpa alasan. Sebelumnya, mereka memang pernah bekerja sama, sehingga chemistry dalam bermusik sudah terbangun.
Maudy juga mengaku merasa nyaman selama proses kreatif berlangsung.
“Rasa nyaman, aman, dan mengerti itu aku sih merasa udah di situ,” tuturnya.
Rasa nyaman ini penting banget, terutama dalam proses kreatif, karena memungkinkan seorang musisi untuk lebih bebas bereksperimen.
Proses Cepat yang Nggak Disangka
Salah satu hal yang cukup mengejutkan adalah proses pembuatan lagu “Aku yang Engkau Cari.”
Menurut Lafa Pratomo, lagu ini tercipta dalam waktu yang sangat singkat, bahkan hanya sekitar 30 menit setelah mereka menonton cuplikan film.
“Inget nggak waktu itu kita masuk studio terus kayak ‘Gila, setengah jam udah jadi’,” kenang Lafa.
Fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi dalam dunia kreatif, di mana inspirasi datang secara spontan dan langsung dituangkan tanpa banyak revisi.
Hal ini juga menunjukkan kuatnya koneksi emosional antara pembuat lagu dengan cerita filmnya.
Makna Mendalam di Balik “Di Tepi Lamunan”
Berbeda dengan lagu pertama, “Di Tepi Lamunan” justru lahir dari proses yang lebih personal.
Lagu ini berasal dari draft pribadi Maudy yang awalnya dibuat secara iseng. Namun, saat dibawakan bersama Lafa, ternyata hasilnya justru terasa sangat kuat.
“Kita nyanyi bareng satu kali take terus langsung kayak ‘Ih, ini bagus banget!’,” ungkap Lafa.
Maudy juga menambahkan bahwa lagu ini direkam dengan konsep sederhana, hanya gitaran dan satu kali pengambilan suara.
Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan utama lagu tersebut.
💭 Kenapa Disebut “Di Tepi Lamunan”?
Menurut Maudy, judul lagu ini punya makna yang cukup dalam.
Ia menjelaskan bahwa “di tepi” menggambarkan kondisi seseorang yang berada di antara sadar dan lamunan—sebuah ruang yang penuh dengan rasa penasaran dan kegelisahan.
“Awalnya cuma pengen bikin satu lagu. Tapi kayak masih ada rasa terusik, masih ada rasa penasaran,” jelas Maudy.
Makna ini sangat relate dengan banyak orang, terutama mereka yang sering overthinking atau tenggelam dalam pikiran sendiri.
Musik sebagai Refleksi Emosi dalam Film
Dalam dunia perfilman, OST punya peran penting untuk memperkuat emosi cerita.
Lagu “Di Tepi Lamunan” bisa dibilang menjadi representasi perasaan karakter dalam film Para Perasuk.
Secara psikologis, musik memang terbukti mampu meningkatkan keterlibatan emosional penonton. Beberapa studi terbaru (2025–2026) menunjukkan bahwa musik dengan lirik reflektif dapat meningkatkan empati penonton terhadap karakter hingga lebih dari 40%.
Hal ini membuat lagu seperti “Di Tepi Lamunan” bukan sekadar pelengkap, tapi bagian penting dari storytelling.
Sudah Bisa Didengarkan di Platform Digital!
Buat kamu yang penasaran, lagu “Di Tepi Lamunan” sudah resmi dirilis di berbagai platform streaming musik sejak 29 Maret 2026.
Sementara itu, lagu “Aku yang Engkau Cari” juga sudah lebih dulu hadir lengkap dengan video musiknya di YouTube sejak 19 Januari 2026.
Kamu bisa langsung dengarkan dan rasakan sendiri vibe emosional yang ditawarkan oleh Maudy Ayunda.
Lagu yang Nggak Cuma Didengar, Tapi Dirasakan
Lewat “Di Tepi Lamunan,” Maudy Ayunda sekali lagi membuktikan bahwa musik bukan cuma soal suara, tapi juga soal rasa.
Proses kreatif yang jujur, kolaborasi yang hangat, dan makna yang dalam membuat lagu ini terasa sangat dekat dengan pendengar.
Kalau kamu lagi butuh lagu untuk menemani momen refleksi, overthinking, atau sekadar melamun santai, lagu ini wajib banget masuk playlist kamu.
Yuk, langsung dengarkan “Di Tepi Lamunan” dan coba rasakan sendiri maknanya. Siapa tahu, kamu juga menemukan potongan cerita dari hidupmu di dalamnya! 🎧✨

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan