image_pdfimage_print

Ika Natassa dengan cermat menggambarkan bagaimana trauma yang tidak tertangani bisa mendorong seseorang pada keputusan ekstrem. Novel ini menjadi pengingat bahwa luka batin yang dipendam terlalu lama dapat menjelma menjadi sesuatu yang destruktif.

Gaya Penulisan Ika Natassa yang Dewasa dan Reflektif

Salah satu kekuatan utama “Langit Mengambil” terletak pada gaya penulisannya. Ika Natassa tetap setia pada ciri khas narasi yang intim, reflektif, dan penuh dialog batin. Pembaca diajak masuk ke kepala Tara, merasakan kebingungan, kemarahan, dan kesepiannya.

Tema kehilangan rahim dan trauma reproduktif diangkat dengan sensitivitas tinggi. Hingga 2026, isu ini masih jarang dibahas secara terbuka dalam karya sastra populer Indonesia. Karena itu, “Langit Mengambil” terasa relevan dan berani, sekaligus membuka ruang empati bagi pembaca.

Mengapa “Langit Mengambil” Layak Dibaca?

Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita dengan kedalaman emosi dan konflik psikologis. “Langit Mengambil” tidak menawarkan akhir yang manis secara instan, tetapi justru mengajak pembaca merenungkan makna kehilangan, cinta, dan pilihan hidup.

Ananditha Nursyifa
Editor