Dalam novel ini, air mata digambarkan sebagai simbol kejujuran emosi. Air mata hadir ketika beban terlalu berat untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ia menjadi ruang bagi luka untuk bernapas. Namun, bagi Tara, bahkan air mata pun tak lagi bisa keluar. Kehilangan tersebut membuatnya mati rasa, terjebak dalam kesunyian batin yang dalam.
Tara dan Raka: Rumah Tangga yang Retak oleh Trauma
Hubungan Tara dengan suaminya, Raka, menjadi salah satu fokus utama dalam cerita. Impian mereka untuk memiliki anak diambil oleh langit, meninggalkan kekosongan yang sulit diisi. Rumah tangga yang dulu hangat perlahan berubah menjadi sandiwara tanpa penonton, penuh luka yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Raka percaya bahwa luka Tara hanya bisa pulih jika ia berani menatap traumanya. Ia meyakini bahwa proses penyembuhan membutuhkan keberanian untuk menghadapi rasa sakit. Namun, di balik sikap tenang Raka, tersimpan ketidaktahuan tentang pilihan Tara yang jauh lebih gelap.
Ketika Dendam Menjadi Jalan yang Dipilih
Hal yang membuat “Langit Mengambil” terasa semakin intens adalah keputusan Tara untuk memilih jalan dendam. Alih-alih berdamai dengan kehilangan, ia justru terjerumus ke dalam selimut amarah dan luka yang tak terselesaikan. Pilihan ini bukan hanya mengancam sisa cinta dalam pernikahannya, tetapi juga membahayakan nyawa Tara dan orang-orang yang ia cintai.





Tinggalkan Balasan