3. Kemampuan Mengelola Perpisahan: Bukan Anak yang “Manja”

Menangis saat ditinggal di sekolah sering kali dilihat sebagai tanda anak yang “kurang mandiri” atau “terlalu manja.” Tapi psikologi perkembangan melihatnya berbeda.

Separation anxiety yang wajar adalah tanda bahwa attachment anak dengan orang tua sehat — dan itu adalah hal yang baik. Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak untuk mempercayai bahwa orang tua akan kembali, dan bahwa lingkungan sekolah adalah tempat yang aman.

Proses ini tidak bisa dipaksakan, tapi bisa difasilitasi. Kunjungan pra-sekolah sebelum hari pertama, ritual perpisahan yang konsisten (misalnya selalu cipika-cipiki dan bilang “mama akan jemput jam sekian”), dan pengenalan lingkungan sekolah secara bertahap adalah strategi yang terbukti membantu anak membangun rasa aman di tempat baru.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Mulai Sekarang?

Psikologi perkembangan tidak hanya menjelaskan masalah — ia menawarkan langkah konkret. Beberapa hal yang bisa mulai dilakukan:

Pertama, latih rutinitas sebelum tahun ajaran dimulai — jam tidur yang teratur, waktu makan yang konsisten, dan kebiasaan berpakaian sendiri membantu anak membangun rasa kontrol dan prediktabilitas yang sangat penting untuk kesiapan sekolah.

Kedua, bermain peran situasi sosial — ajak anak bermain peran “bagaimana jika temanmu mengambil mainanmu?” atau “apa yang akan kamu lakukan kalau guru memberikan instruksi yang tidak kamu mengerti?” Ini membangun kosakata emosional dan kemampuan problem-solving sosial.

Ketiga, validasi emosi, jangan padamkan — ketika anak menangis karena takut, jangan langsung berkata “nggak apa-apa, nggak usah nangis.” Akui perasaannya dulu: “Mama tahu kamu takut, itu wajar. Yuk kita pikir sama-sama apa yang bisa membuat kamu lebih nyaman.”

Keempat, kurangi fokus pada baca-tulis-hitung yang dipaksakan — anak yang belajar membaca dalam suasana stres atau tekanan justru lebih lambat berkembang secara keseluruhan. Biarkan baca-tulis-hitung datang secara alami melalui permainan dan eksplorasi.

Ananditha Nursyifa
Editor