Memang, prevalensi tertinggi ditemukan pada remaja dan perempuan muda. Namun, kasus pada laki-laki, orang dewasa, bahkan anak-anak semakin banyak teridentifikasi. APA dan berbagai jurnal psikologi klinis menegaskan bahwa perbedaan gender sering kali membuat anoreksia pada laki-laki kurang terdeteksi, karena stigma bahwa gangguan makan adalah “masalah perempuan”.

Selain itu, anoreksia juga dapat muncul pada usia dewasa akibat stres berat, perubahan hidup besar, atau tekanan sosial tertentu—membuktikan bahwa kondisi ini tidak terbatas pada satu fase kehidupan saja.

Tanda dan Gejala Anoreksia Nervosa yang Sering Terlewatkan

1. Perilaku Makan yang Tampak “Normal”, tapi Sebenarnya Mengkhawatirkan

Salah satu alasan anoreksia sulit dikenali adalah karena perilaku awalnya bisa tampak wajar. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Sangat membatasi porsi makan atau jenis makanan tertentu.
  • Terobsesi menghitung kalori, lemak, atau berat makanan.
  • Menghindari makanan yang dianggap “berlemak” atau “tidak sehat”, meskipun tubuh membutuhkannya.
  • Alasan sering tidak lapar atau sudah makan sebelumnya.

Dalam konteks psikologi klinis, pola ini bukan sekadar kebiasaan makan, melainkan bentuk kontrol ekstrem terhadap tubuh.

2. Citra Tubuh Negatif dan Distorsi Persepsi

Ciri utama anoreksia adalah distorsi citra tubuh. Individu dengan anoreksia bisa melihat dirinya “gemuk” atau “belum cukup kurus”, padahal secara medis berat badannya sudah sangat rendah. DSM menjelaskan bahwa penilaian diri sangat bergantung pada berat dan bentuk tubuh, sehingga angka di timbangan menjadi tolok ukur harga diri.

3. Gejala Fisik yang Sering Disalahartikan

Gejala fisik anoreksia sering dianggap sebagai kelelahan biasa atau efek diet, padahal bisa menjadi tanda serius, seperti:

  • Kelelahan ekstrem dan lemah tanpa sebab jelas.
  • Merasa kedinginan terus-menerus akibat rendahnya lemak tubuh.
  • Rambut rontok, kulit kering, dan kuku rapuh.
  • Pada perempuan, amenore (menstruasi berhenti), yang menurut literatur medis merupakan sinyal gangguan hormonal akibat kekurangan nutrisi.

4. Gejala Psikologis yang Menguatkan Gangguan

Dari sisi psikologis, anoreksia sering disertai:

  • Obsesi berlebihan terhadap berat badan dan bentuk tubuh.
  • Kecemasan tinggi terkait makan atau kenaikan berat badan.
  • Denial atau penyangkalan bahwa ada masalah, meskipun kondisi fisik memburuk.
  • Perfeksionisme dan kebutuhan tinggi akan kontrol.

Penyebab Anoreksia Nervosa: Kombinasi Biologis, Psikologis, dan Sosial

Tidak ada satu penyebab tunggal anoreksia nervosa. Psikologi modern memandang gangguan ini sebagai hasil interaksi berbagai faktor.

Faktor Biologis

Penelitian neurobiologis menunjukkan adanya peran genetika dan ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti serotonin dan dopamin, yang memengaruhi regulasi emosi, impuls, dan nafsu makan.

Faktor Psikologis

Ciri kepribadian seperti perfeksionisme, harga diri rendah, kebutuhan akan kontrol, serta kesulitan mengelola emosi sering ditemukan pada individu dengan anoreksia.

Faktor Sosial dan Budaya

Tekanan standar tubuh ideal, komentar tentang berat badan, bullying, serta paparan media yang menyanjung tubuh sangat kurus dapat menjadi pemicu kuat—terutama pada individu yang sudah rentan secara psikologis.

Anoreksia nervosa bukan pilihan hidup atau bentuk disiplin diri, melainkan gangguan mental serius yang membutuhkan pemahaman dan penanganan profesional. Semakin dini dikenali, semakin besar peluang pemulihan.

Ananditha Nursyifa
Editor