Pada kesempatan itu, KDS menegaskan Pemerintah Kabupaten Bandung akan terus berkomitmen mendukung keberadaan pesantren dan para tokoh agama. Menurutnya, perhatian kepada guru ngaji, pesantren, dan ulama akan tetap menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan daerah.

“Pemerintah daerah tidak akan berhenti melakukan berbagai upaya perbaikan. Pada periode kedua ini kami tetap konsisten memberdayakan tokoh agama dan memuliakan ulama,” tegasnya.

Pondok Pesantren Al-Husaeni sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Bandung. Cikal bakal pesantren tersebut dimulai sekitar tahun 1919 ketika KH Husen bersama istrinya Hj Rukiyah menyelenggarakan pengajian di Dusun Ciheulang.

Seiring bertambahnya jumlah santri, kegiatan tersebut berkembang menjadi pondok pesantren yang kemudian diberi nama Al-Husaeni pada 1940 untuk mengenang jasa KH Husen. Hingga kini, pesantren yang menaungi berbagai jenjang pendidikan mulai dari RA, MI, SMP, hingga SMA tersebut telah mendidik ribuan santri dari berbagai daerah di Jawa Barat maupun luar provinsi.

Rizki Oktaviani
Editor