Dalam hubungan seperti ini biasanya terjadi pola siklus: konflik, luka emosional, kemudian diikuti dengan momen perhatian atau kasih sayang yang intens. Pola naik turun emosi ini dapat menciptakan keterikatan yang sangat kuat.
Secara biologis, otak melepaskan hormon seperti dopamin dan oksitosin ketika seseorang menerima perhatian atau kasih sayang. Ketika perhatian itu muncul setelah konflik atau penolakan, efek emosionalnya bisa terasa lebih kuat.
Akibatnya, seseorang bisa merasa sangat sulit meninggalkan hubungan tersebut meskipun sebenarnya hubungan itu menyakitkan.
Repetition Compulsion: Mengulang Luka Lama
Psikologi juga mengenal konsep repetition compulsion, yaitu kecenderungan manusia untuk mengulang pola pengalaman emosional dari masa lalu.
Tanpa disadari, seseorang mungkin mencoba “memperbaiki” pengalaman masa lalu melalui hubungan saat ini. Misalnya, seseorang yang dulu merasa tidak cukup dihargai oleh orang tuanya mungkin tertarik pada pasangan yang sulit memberikan validasi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan