Syuting di Tengah 30 Ribu Penonton Pestapora

Salah satu daya tarik terbesar film ini ada pada proses produksinya.

Produser Ernest Prakasa mengaku sempat bingung ketika pertama kali mendengar konsep dari sutradara Edy Khemod. Pasalnya, sebagian adegan harus direkam di lokasi yang benar-benar ramai, termasuk di tengah festival musik Pestapora yang dipadati sekitar 30.000 penonton.

Selain itu, tim produksi juga mengambil gambar di pinggir rel kereta api hingga studio yang melibatkan sekitar 500 figuran. Tantangan logistik yang besar ini membuat Operasi Pesta Copet disebut sebagai salah satu proyek Imajinari paling ambisius hingga saat ini.

Bukan Mengagungkan Copet, tetapi Mengangkat Isu Sosial

Meski mengangkat dunia pencopet sebagai premis utama, film ini bukan dibuat untuk mempromosikan tindakan kriminal.

Produser Ernest Prakasa menjelaskan bahwa perubahan judul dari Operasi Pesta Pora menjadi Operasi Pesta Copet dilakukan agar lebih menggambarkan inti cerita, yaitu fenomena copet sebagai “gunung es” ketimpangan sosial.

Lewat kisah empat sahabat, penonton diajak melihat bahwa kejahatan kadang lahir dari situasi yang rumit, bukan semata-mata karena niat jahat. Tema ini membuat film terasa lebih reflektif dibanding sekadar komedi aksi biasa.

Ananditha Nursyifa
Editor