Impostor syndrome biasanya muncul di masa-masa transisi besar atau lingkungan yang kompetitif banget, misalnya:
- Mulai kerja di tempat baru atau naik jabatan.
- Masuk ke kampus baru, apalagi program pascasarjana.
- Bekerja di bidang dengan tekanan tinggi seperti medis, teknologi, atau akademik.
- Hidup di era media sosial yang bikin kita terus membandingkan diri dengan orang lain.
Kalau dibiarkan, impostor syndrome bisa berdampak serius: tingkat stres meningkat, burnout, sulit tidur, performa kerja menurun, bahkan bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi.
Yuk, Refleksi Diri: “Apakah Saya Merasakan Ini?”
Coba jawab jujur pertanyaan ini:
- Apakah saya sering merasa tidak pantas di posisi saya sekarang?
- Apakah saya sering berpikir keberhasilan saya cuma kebetulan?
- Apakah saya sering takut orang tahu bahwa saya sebenarnya nggak sepintar yang dikira?
Kalau jawabannya iya, bukan berarti kamu gagal, tapi ini tanda kamu perlu re-evaluasi cara pandang terhadap diri sendiri. Impostor syndrome sering muncul justru saat seseorang berhasil — artinya kamu sedang berkembang dan menantang diri keluar dari zona nyaman!
Strategi Psikologis untuk Menghadapi Impostor Syndrome

Halaman
Tag Terkait:





Tinggalkan Balasan