image_pdfimage_print

Artinya, kecerdasan itu kontekstual. Tidak melulu soal cepat menghitung atau jago logika.

Ia menolak gagasan bahwa kecerdasan hanya bisa diukur lewat tes IQ standar. Berdasarkan riset di bidang psikologi perkembangan, neurosains, dan studi kasus individu dengan kerusakan otak tertentu, Gardner menyimpulkan bahwa manusia memiliki beberapa sistem kecerdasan yang relatif berdiri sendiri.

Dengan kata lain, otak kita tidak bekerja dalam satu jalur tunggal. Ada banyak potensi berbeda yang bisa berkembang tergantung pengalaman, lingkungan, dan kesempatan.

Konsep ini terasa lebih inklusif dan humanis. Setiap orang punya kekuatan unik. Tinggal bagaimana sistem pendidikan dan lingkungan memberi ruang untuk berkembang.

Jenis-Jenis Kecerdasan Menurut Gardner

Multiple Intelligence ala Howard Gardner – Smile and Learn

Awalnya Gardner mengidentifikasi tujuh kecerdasan, lalu berkembang menjadi delapan yang paling umum dikenal hingga sekarang:

  1. Linguistic Intelligence
    Kemampuan menggunakan bahasa secara efektif, baik lisan maupun tulisan. Biasanya menonjol pada penulis, jurnalis, pembicara, atau content creator.
  2. Logical-Mathematical Intelligence
    Kemampuan berpikir logis, analitis, dan numerik. Sering dimiliki ilmuwan, matematikawan, analis data, atau programmer.
  3. Spatial Intelligence
    Kemampuan memahami ruang dan visualisasi. Terlihat pada arsitek, desainer grafis, fotografer, atau ilustrator.
  4. Musical Intelligence
    Kepekaan terhadap nada, ritme, dan komposisi. Dimiliki musisi, komposer, produser musik.
  5. Bodily-Kinesthetic Intelligence
    Kemampuan mengontrol gerakan tubuh dengan presisi. Biasanya ada pada atlet, penari, aktor.
  6. Interpersonal Intelligence
    Kemampuan memahami orang lain, empati, dan komunikasi efektif. Penting bagi guru, pemimpin, konselor.
  7. Intrapersonal Intelligence
    Kemampuan memahami diri sendiri, emosi, motivasi, dan tujuan hidup.
  8. Naturalist Intelligence
    Kepekaan terhadap alam, lingkungan, dan pola di dunia natural.

Gardner juga sempat membahas kemungkinan Existential Intelligence, yaitu kemampuan merenungkan pertanyaan besar tentang makna hidup dan keberadaan manusia.

Ananditha Nursyifa
Editor