Bagaimana Hardiknas 2026 Diperingati?

Tahun ini, seluruh instansi wajib menyelenggarakan upacara bendera secara luring pada 2 Mei 2026 pukul 07.30 waktu setempat, dengan mengenakan pakaian adat sebagai simbol nasionalisme dan pelestarian budaya. Dari sekolah PAUD hingga perguruan tinggi, dari kantor pusat hingga perwakilan RI di luar negeri, semuanya bergerak serentak.

Tapi Hardiknas 2026 tidak berhenti di lapangan upacara. Peringatan tahun ini juga diramaikan dengan sejumlah aktivitas bermakna yang berlangsung di berbagai daerah:

  • Gerakan “Pagi Ceria” di sekolah-sekolah membuka hari dengan semangat kolektif yang menyenangkan sebelum upacara dimulai. Pameran karya siswa menjadi ruang apresiasi nyata atas kreativitas dan potensi generasi muda.
  • Gerakan donasi buku mengajak masyarakat luas turut berkontribusi dalam pemerataan akses belajar, terutama di daerah-daerah yang masih kekurangan bahan bacaan.
  • Sementara penggunaan pakaian adat Nusantara dalam upacara bukan sekadar aturan seremonial — ini adalah pernyataan bahwa pendidikan Indonesia berakar pada keberagaman budaya yang kaya.

Relevansi Hardiknas di Era Scrolling Culture

Di sinilah Hardiknas 2026 terasa benar-benar kontekstual.

Kita hidup di era di mana rata-rata orang menghabiskan lebih dari 6 jam sehari di layar digital — sebagian besar untuk konten yang berdurasi kurang dari 60 detik. Kemampuan berpikir kritis, membaca panjang, dan berkonsentrasi dalam belajar semakin tergerus oleh apa yang disebut para peneliti sebagai “scrolling culture”.

Di tengah kondisi inilah tema “partisipasi semesta” menjadi semakin relevan: guru tidak bisa berjuang sendirian melawan distraksi digital. Orang tua perlu hadir. Teknologi perlu diarahkan. Komunitas perlu membangun ekosistem yang mendukung belajar — bukan hanya menghibur.

Tiga program prioritas yang tercermin dalam logo Hardiknas 2026 adalah revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan kesejahteraan guru — tiga pilar yang saling bergantung dan semuanya membutuhkan dukungan dari “semesta” yang lebih luas dari sekadar birokrasi pendidikan.

Ananditha Nursyifa
Editor