Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992. Bedanya, getaran kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan peta intensitas guncangan BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis. Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan