Karena itu, Pemkot Bandung perlu memastikan sistem transaksi baru dapat mengakomodasi kepentingan seluruh pihak, mulai dari pengguna, pengemudi, hingga operator angkutan.
Selain itu, kesiapan pengemudi dalam menggunakan aplikasi juga menjadi perhatian. Nantinya, setiap sopir diharapkan memiliki aplikasi yang dapat terhubung dengan sistem informasi perjalanan penumpang.
Melalui integrasi dengan Google Maps, masyarakat diharapkan bisa mengetahui keberadaan angkot dan perkiraan waktu kedatangannya. Misalnya, ketika pengguna mencari rute menuju SMP Negeri 7 Bandung, aplikasi dapat memberikan informasi alternatif perjalanan menggunakan angkot, termasuk estimasi kedatangannya.
Di sisi lain, Farhan menegaskan aspek keselamatan menjadi tanggung jawab pemerintah, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.
Dia memahami masih ada orang tua yang ragu membiarkan anaknya menggunakan angkot karena faktor keamanan. Keraguan tersebut harus dijawab melalui peningkatan standar keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi publik.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan