Farhan menjelaskan, penerapan sistem tersebut masih dalam tahap uji coba atau versi beta. Pemkot Bandung ingin melihat sejauh mana aplikasi dan model bisnis yang disiapkan dapat berjalan, termasuk kesiapan para pengemudi dan operator angkot.
“Kalau dalam aplikasi itu masih beta, ya kita jalankan dulu. Setelah berjalan, kita bisa mengetahui kesalahannya di mana, kekurangannya di mana. Dari situ kita analisis dan sempurnakan,” ujarnya.
Dia menegaskan, evaluasi harus dilakukan secepat mungkin. Sebab, sistem angkot pelajar tersebut diharapkan sudah mencapai tahap yang lebih matang sebelum Bus Rapid Transit (BRT) beroperasi. Dengan demikian, integrasi angkutan pengumpan atau feeder tidak lagi dalam tahap percobaan ketika BRT mulai melayani masyarakat.
Farhan juga menyoroti pentingnya penyesuaian model bisnis agar tidak mengganggu operasional pengemudi angkot. Selama ini, sistem pendapatan sopir masih bergantung pada jumlah penumpang yang diangkut. Kondisi tersebut berpotensi memicu persaingan mencari penumpang di jalan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan