Jembatan Antara Keyakinan dan Pikiran: Mengenal Intermediate Belief
Kalau core belief adalah pondasi, maka intermediate belief adalah dinding yang dibangun di atasnya. Lapisan ini berisi aturan, asumsi, dan sikap yang kita ciptakan sebagai cara untuk “bertahan hidup” dari core belief kita.
Misalnya, seseorang yang punya core belief “aku tidak cukup baik” mungkin akan membangun intermediate belief seperti: “Aku harus selalu sempurna agar diterima,” atau “Kalau aku gagal sekali saja, semua orang akan tahu betapa buruknya aku.”
Menurut Dr. Judith Beck (2020) dalam wawancara di Psychiatry & Psychotherapy Podcast, intermediate belief ini sering berbentuk pernyataan kondisional — “jika… maka…” atau “harus/wajib… jika tidak maka…”. Misalnya: “Jika aku memuaskan semua orang, maka aku akan diterima. Tapi jika aku menolak permintaan orang, maka aku akan ditolak.”
Yang menarik, intermediate belief ini bisa bersifat adaptif maupun maladaptif. Artinya, tidak semua aturan yang kita buat itu buruk — tapi saat aturannya terlalu kaku dan tidak realistis, di sinilah masalah mulai muncul. Kamu jadi mudah stres, perfeksionis berlebihan, atau selalu merasa bersalah.
Lapisan ini lebih tersembunyi daripada automatic thoughts — kamu nggak akan langsung sadar bahwa kamu punya “aturan hidup” tertentu. Biasanya baru ketahuan lewat pola yang berulang dalam reaksimu terhadap berbagai situasi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan