Pertama-tama, penting untuk tahu bahwa ketergantungan kafein berbeda dengan kecanduan zat berat seperti nikotin atau alkohol.
Dalam dunia medis, kafein diakui dapat menyebabkan “caffeine dependence” atau ketergantungan ringan. Bahkan, dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), kondisi “caffeine withdrawal” diakui sebagai kondisi klinis yang nyata.
Artinya, tubuh memang bisa beradaptasi dengan asupan kafein harian. Ketika asupan itu tiba-tiba dihentikan, tubuh bisa menunjukkan gejala tertentu seperti sakit kepala atau lemas.
Namun, ketergantungan kafein biasanya tidak sampai menyebabkan perilaku destruktif berat seperti zat adiktif lainnya. Jadi, jangan panik dulu. Tapi tetap perlu waspada.
Bagaimana Kafein Bekerja di Otak?
Secara sederhana, kafein bekerja dengan memblokir zat kimia di otak bernama adenosin.
Adenosin adalah senyawa yang membuat kita merasa mengantuk. Semakin lama kita terjaga, semakin banyak adenosin menumpuk, dan semakin kuat rasa lelah.





Tinggalkan Balasan