“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto.

Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman. Wilayah prioritas berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.

Lebih lanjut, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pasca guncangan. Masyarakat juga diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi.

Rizki Oktaviani
Editor