Ketakutan akan Eksploitasi Kerja: Bukan Paranoid, Tapi Waspada
Ini adalah inti dari semua resistensi Gen Z terhadap tugas di luar jobdesk — dan memahaminya membutuhkan konteks sejarah yang jujur.
Gen Z adalah generasi yang tumbuh besar menyaksikan budaya kerja “hustle” yang meromantisasi pengorbanan diri — dan melihat langsung bahwa pengorbanan itu sering tidak sebanding dengan hasilnya. Mereka melihat Milenial yang bekerja keras, “fleksibel”, dan selalu mau diminta bantuan ekstra — tapi tetap di-PHK saat perusahaan kesulitan, tetap tidak naik gaji bertahun-tahun, dan tetap burn out.
Data mendukung kewaspadaan mereka: 61% Gen Z akan sangat mempertimbangkan meninggalkan pekerjaan mereka jika mendapat tawaran dengan benefit kesehatan mental yang lebih baik menurut SHRM Research (2025). Ini menunjukkan bahwa loyalitas Gen Z sangat kondisional — dan kondisinya adalah: perlakukan saya dengan adil, atau saya pergi.
Mereka juga menghadapi realita pasar kerja yang sangat kompetitif. Lowongan kerja untuk posisi entry-level (0–2 tahun pengalaman) menurun rata-rata 29 poin persentase sejak Januari 2024 menurut Randstad (2025).
Dalam pasar yang semakin ketat ini, mereka paham bahwa “mau mengerjakan apa saja” tidak secara otomatis meningkatkan nilai mereka di mata perusahaan. Justru sebaliknya — tanpa batas yang jelas, mereka rentan dieksploitasi tanpa penghargaan yang setara.
Ketakutan akan eksploitasi ini bukan paranoia — ini adalah respons adaptif terhadap ekosistem kerja yang memang secara historis sering memanfaatkan “kebaikan” dan “kefleksibelan” karyawan tanpa kompensasi yang proporsional.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan