Waspada Leptospirosis : Kenali Risiko dan 4 Cara Mencegahnya!

Leptospirosis

Prolite – Kabar terbaru dari Dinas Kesehatan Sleman mengguncang kesadaran kita akan risiko kesehatan yang terus mengintai di tengah-tengah musim hujan yang belum berlalu di Indonesia.

Satu kasus kematian yang dicatat akibat penyakit leptospirosis menjadi sorotan serius, memperjelas betapa pentingnya kita memahami penyakit ini.

Taukah kamu apa sebenarnya Leptospirosis itu?

 

Menurut Leptospirosis adalah gangguan kesehatan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira interrogans. Ini adalah penyakit zoonosis, yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Beberapa hewan yang sering menjadi penular leptospirosis adalah tikus, anjing, dan hewan ternak.

Leptospirosis memiliki dua fase utama:

  1. Fase leptospiremia (septisemik): Fase ini terjadi dalam rentang waktu 2–14 hari setelah tubuh terinfeksi. Bakteri Leptospira dapat ditemukan dalam darah selama fase ini, sehingga tes darah dapat digunakan untuk mendeteksinya.
  2. Fase imun: Pada fase ini, bakteri Leptospira telah menyebar ke organ tubuh tertentu, terutama ginjal yang memproduksi urine. Oleh karena itu, diagnosis leptospirosis pada fase ini biasanya dilakukan melalui tes urine.

Gejala yang Dirasakan

Ilustrasi demam – royalprogress

Leptospirosis merupakan penyakit yang menunjukkan ragam gejala, yang dapat bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. Gejala awal yang sering muncul meliputi;

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Mata merah
  • Nyeri otot, terutama pada otot betis
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut

Namun, jika leptospirosis tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini berpotensi menyebabkan peradangan pada organ tubuh yang dikenal sebagai sindrom Weil. Sindrom ini sering kali memperlihatkan gejala seperti;

  • Demam
  • Sesak napas
  • Penyakit kuning (jaundice)
  • Batuk berdarah
  • Nyeri dada
  • Penurunan volume urine
  • Perubahan warna feses menjadi kehitaman
  • Adanya darah dalam urine (hematuria)

Penting untuk diingat bahwa gejala leptospirosis dan sindrom Weil dapat bervariasi dari individu ke individu lainnya, dan kondisi ini memerlukan penanganan medis yang tepat sesegera mungkin.

Cara Penularan dan Pencegahan

Leptospirosis adalah penyakit menular yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Menurut dr. Pittara dari Alodokter, penularan bakteri Leptospira ke manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut:

  1. Kontak langsung antara kulit manusia dengan urine hewan pembawa bakteri. Ini bisa terjadi ketika seseorang memiliki kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi, seperti melalui proses pemeliharaan atau kontak fisik dengan hewan yang terinfeksi.
  2. Kontak kulit manusia dengan air dan tanah yang terkontaminasi oleh urine hewan pembawa bakteri. Bakteri Leptospira dapat bertahan hidup dalam lingkungan air dan tanah yang lembab, sehingga orang dapat terinfeksi jika kulit mereka terpapar langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi oleh urine hewan yang terinfeksi.
  3. Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh urine hewan pembawa bakteri. Jika makanan atau minuman terkontaminasi oleh urine hewan yang terinfeksi, dan kemudian dikonsumsi oleh manusia tanpa proses pembersihan atau pengolahan yang memadai, maka orang tersebut berisiko terinfeksi leptospirosis.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pencegahan penularan leptospirosis meliputi langkah-langkah berikut:

  1. Menghindari air yang sudah terkontaminasi dan memastikan kebersihannya sebelum mengkonsumsinya. Ini berarti menghindari kontak langsung dengan air yang diduga terkontaminasi oleh urine hewan, terutama dalam keadaan yang tidak terlihat bersih atau jernih.
  2. Memakai sepatu dari bahan karet dengan ukuran yang tinggi, serta sarung tangan karet bagi kelompok kerja yang berisiko tinggi tertular leptospirosis. Langkah ini dapat membantu melindungi kulit dari paparan langsung terhadap bakteri Leptospira yang mungkin ada di tanah atau air yang terkontaminasi.
  3. Membersihkan bagian-bagian rumah, kantor, atau gedung dengan desinfektan secara teratur. Hal ini penting untuk mengurangi kemungkinan adanya bakteri Leptospira yang menempel pada permukaan yang sering disentuh atau digunakan.
  4. Berperilaku hidup bersih dan sehat, yang mencakup menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Ini termasuk mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan rumah dan tempat tinggal, serta menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menjadi pembawa bakteri Leptospira.

Dalam musim hujan dan banjir seperti saat ini, kesadaran akan leptospirosis menjadi sangat penting. Dengan memahami apa itu leptospirosis dan langkah-langkah pencegahannya, kita dapat mengurangi risiko penularan penyakit ini.

Ilustrasi pasien yang konsultasi dengan dokter – Freepik

 

Selalu waspada terhadap tanda dan gejala yang muncul, serta segera konsultasikan dengan profesional medis jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mencurigakan.

Mari bersama-sama menjaga kesehatan dan keselamatan diri serta orang-orang di sekitar kita di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu ini.

Semoga dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, kita dapat melalui musim hujan dan banjir ini dengan aman dan sehat.




Kasus Anthraks Gunungkidul: Tradisi Masyarakat Diduga Jadi Faktor Pemicu

Anthraks

YOGYAKARTA, Prolite – Ternyata tradisi ini diduga jadi penyebab kasus anthraks di Gunungkidul yang baru-baru ini bikin heboh semua orang. Yuk simak penjelasannya!

Bicarain tentang penyakit anthraks, masyarakat biasanya tau kalo itu lebih sering menyerang hewan ternak kayak sapi. Tapi kenyataannya, manusia juga bisa kena, lho. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Gunungkidul, Yogyakarta, hampir seluruh warganya tertular penyakit ini akibat mengonsumsi daging hewan ternak tersebut.

Freepik

Ternyata, wabah ini bukan yang pertama kali terjadi di sana. Menurut Kompas TV (7/7/2023), kasus wabah ini pertama kali muncul di Kecamatan Karangmojo pada bulan Mei 2019. Lalu, kasusnya juga menyebar ke Kecamatan lain, seperti Pojong, pada bulan Desember 2019 dan Januari 2020.

Pada tahun 2022 kemarin, kasus anthraks juga terjadi di Kecamatan Gedang Sari. Dan yang terbaru, pada bulan Mei-Juni 2023 ini, kasusnya muncul di Dusun Jati, Candirejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Sebanyak satu orang meninggal dunia positif antraks dan 87 orang lain suspect.

Tradisi Mbradu Menjadi Pemicu Wabah Anthraks

Nuryani Zaenuddin – rmolsumut

Menurut keterangan yang diberikan oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementrian Pertanian, Nuryani Zaenuddin, ada salah satu tradisi di salah satu wilayah Gunungkidul yang diduga menjadi faktor yang meningkatkan resiko terjadinya anthraks.

“Mereka mengkonsumsi dan membagi hewan yang sudah mati atau hewan yang sudah kelihatan sakit, kemudian mereka sembelih lalu membagikannya secara gratis kepada tetangga-tetangganya, nah itu yang disebut sebagai mbradu atau purak.” jelas Nutyani.

Wibawanti Wulandari

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, mengatakan bahwa tradisi ini dilakukan warga sebagai bentuk gerakan warga untuk mengganti rugi ketika ada ternak yang mati atau sakit kemudian dikonsumsi bersama.

Dalam tradisi ini, kadang dagingnya juga dijual murah dan uangnya diberikan untuk membantu pemilik sapi.

“Mungkin karena faktor ekonomi, jadi ketika ada sapi mati dibiarkan atau dikubur itu sangat disayangkan. Padahal, kalau tradisi (brandu atau porak) ini diakhiri, kasus ini tak akan berulang setiap tahun karena penyebab utamanya warga mengonsumsi daging ternak yang terpapar,” sambung Wibawanti.

Dalam penanganan kasus antraks ini, Kementan sudah ngirim logistik, obat-obatan, antibiotik, vitamin, sama cairan desinfektan sebagai perangkat utama ke dinas setempat.

Nuryani juga mengatakan bahwa mereka juga sudah memberikan suntik antibiotik ke semua hewan yang rentan terkena di daerah yang terancam. Mereka juga melakukan dekontaminasi lokasi penyembelihan dan penguburan ternak pake desinfektan.