Membentuk Kepribadian dari Hati: Psikologi Islam sebagai Pondasi Karakter Seimbang

Membentuk Kepribadian

Membentuk Kepribadian dari Hati: Psikologi Islam sebagai Pondasi Karakter Seimbang

Prolite – Di tengah dunia yang makin cepat dan penuh distraksi, pembahasan soal kepribadian dan kesehatan mental makin sering muncul ke permukaan. Banyak orang mulai sadar bahwa kepribadian bukan cuma soal bakat atau sifat bawaan, tapi juga hasil dari proses panjang: pola asuh, lingkungan, nilai hidup, dan cara kita memaknai pengalaman. Di titik inilah psikologi Islam hadir sebagai perspektif yang menarik dan relevan.

Psikologi Islam menawarkan cara pandang yang holistik tentang manusia. Bukan hanya melihat aspek pikiran dan perilaku, tapi juga hati, jiwa, dan hubungan dengan Tuhan. Dalam konteks pembentukan kepribadian, pendekatan ini menekankan keseimbangan antara akal, emosi, dan spiritualitas. Jadi, kepribadian yang dibentuk bukan sekadar “berfungsi secara sosial”, tapi juga bermakna dan berorientasi pada kebaikan.

Konsep Akhlak dalam Islam sebagai Inti Kepribadian

Dalam psikologi Islam, konsep akhlak menempati posisi sentral dalam pembentukan kepribadian. Akhlak bukan hanya soal sopan santun, tapi mencakup sikap batin, niat, dan konsistensi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa salah satu tujuan diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Akhlak dalam Islam terbentuk dari kesadaran hati (qalb) yang terhubung dengan nilai tauhid. Artinya, perilaku baik bukan sekadar karena tekanan sosial atau aturan, melainkan karena kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki nilai moral dan spiritual. Dalam psikologi modern, ini sejalan dengan konsep internal locus of control, yaitu dorongan dari dalam diri, bukan dari luar.

Ketika akhlak menjadi fondasi, kepribadian yang terbentuk cenderung stabil. Individu tidak mudah goyah oleh situasi, karena ia punya kompas nilai yang jelas. Inilah yang membuat psikologi Islam menekankan pembinaan akhlak sejak dini sebagai investasi kepribadian jangka panjang.

Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Membentuk Kepribadian

Psikologi Islam memandang keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Lingkungan rumah menjadi tempat awal pembentukan nilai, kebiasaan, dan cara berpikir. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tapi dari contoh nyata yang ia lihat setiap hari.

Orang tua yang menampilkan akhlak baik, komunikasi hangat, dan nilai keislaman dalam keseharian secara tidak langsung sedang membentuk kepribadian anak. Dalam perspektif psikologi perkembangan, hal ini sejalan dengan teori belajar sosial yang menekankan peran modeling atau peniruan perilaku.

Selain keluarga, lingkungan sosial juga berperan besar. Teman sebaya, sekolah, dan media digital bisa memperkuat atau justru melemahkan nilai yang sudah ditanamkan. Karena itu, psikologi Islam menekankan pentingnya lingkungan yang sehat secara moral dan emosional. Bukan berarti menghindari dunia luar, tapi membekali individu dengan filter nilai agar mampu menyaring pengaruh negatif.

Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Islam

Pendidikan karakter dalam Islam tidak berhenti di ranah kognitif. Ia menyentuh aspek afektif dan perilaku. Tujuannya bukan sekadar membuat anak tahu mana yang benar, tapi mampu dan mau melakukan kebaikan secara konsisten.

Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, sabar, dan amanah menjadi pilar utama pendidikan karakter Islam. Menariknya, nilai-nilai ini juga diakui secara universal dalam psikologi positif modern sebagai karakter strengths yang mendukung well-being.

Di era sekarang, banyak lembaga pendidikan mulai mengintegrasikan pendekatan psikologi Islam dengan metode pembelajaran modern. Misalnya, mengajarkan regulasi emosi melalui konsep sabar dan tawakal, atau membangun resiliensi melalui pemaknaan ujian hidup sebagai bagian dari proses pertumbuhan.

Pendekatan ini membuat pendidikan karakter tidak terasa menggurui, tapi membumi dan relevan dengan tantangan psikologis anak dan remaja masa kini.

Relevansi Psikologi Islam dengan Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan mempelajari perubahan perilaku dan kepribadian manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Psikologi Islam memberikan kerangka nilai yang memperkaya pemahaman ini.

Dalam Islam, setiap fase perkembangan dipandang sebagai amanah. Anak bukan miniatur orang dewasa, melainkan individu yang sedang tumbuh dan perlu diperlakukan sesuai tahapannya. Konsep tarbiyah menekankan proses bertahap, penuh kesabaran, dan kasih sayang.

Penelitian-penelitian terbaru hingga 2026 juga menunjukkan bahwa pendekatan spiritual yang sehat dapat mendukung perkembangan psikologis, terutama dalam membangun makna hidup, kontrol diri, dan kesehatan mental. Di sinilah psikologi Islam dan psikologi perkembangan modern saling melengkapi.

Dengan menggabungkan keduanya, pembentukan kepribadian menjadi lebih utuh: tidak hanya adaptif secara sosial, tapi juga kuat secara moral dan emosional.

Saatnya Membentuk Kepribadian yang Utuh dan Bermakna

Tazkiyah

Psikologi Islam mengingatkan kita bahwa kepribadian bukan sekadar citra diri, tapi cerminan nilai yang hidup di dalam hati. Dengan menjadikan akhlak sebagai fondasi, keluarga sebagai lingkungan utama, dan pendidikan karakter berbasis nilai Islam, kita bisa membentuk kepribadian yang seimbang dan berdaya.

Di tengah tantangan zaman, pendekatan ini justru terasa semakin relevan. Yuk, mulai refleksi dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Karena perubahan kepribadian yang besar selalu berawal dari langkah kecil yang konsisten.




Tazkiyah sebagai Terapi Psikologis dalam Islam

Tazkiyah

Prolite – Tazkiyah: Terapi Jiwa dari Islam yang Relevan untuk Kesehatan Mental Zaman Sekarang

Di era serba cepat dan penuh tuntutan seperti sekarang, isu kesehatan mental makin sering dibicarakan. Burnout, overthinking, kecemasan, sampai perasaan hampa jadi pengalaman yang tidak asing bagi banyak orang.

Menariknya, jauh sebelum istilah mental health populer seperti sekarang, Islam sudah menawarkan konsep pemulihan jiwa yang sangat dalam dan humanis, yaitu tazkiyah.

Tazkiyah bukan sekadar istilah spiritual yang abstrak. Ia adalah proses pemurnian hati dan jiwa dari penyakit batin yang secara tidak langsung sangat berkaitan dengan kondisi psikologis manusia. Dalam artikel ini, kita akan membahas tazkiyah bukan hanya dari sisi agama, tapi juga bagaimana ia bisa dipahami sebagai bentuk terapi psikologis yang sejalan dengan pendekatan psikologi modern.

Apa Itu Tazkiyah? Definisi Menurut Al-Qur’an dan Ulama

Secara bahasa, tazkiyah berasal dari kata zakka yang berarti menyucikan, membersihkan, sekaligus menumbuhkan. Dalam Al-Qur’an, konsep ini disebutkan dalam banyak ayat, salah satunya dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa tazkiyah adalah proses membersihkan hati dari penyakit seperti iri, dengki, sombong, riya, dan cinta berlebihan terhadap dunia, lalu mengisinya dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, tawakal, dan syukur.

Dengan kata lain, tazkiyah adalah inner work versi Islam—pekerjaan batin yang fokus pada kesehatan hati sebagai pusat perilaku dan emosi manusia.

Tujuan Tazkiyah dalam Kehidupan Seorang Muslim

Tujuan utama tazkiyah bukan hanya untuk menjadi “orang baik” secara moral, tapi untuk mencapai ketenangan jiwa (nafs mutmainnah). Jiwa yang tenang ini adalah kondisi batin yang stabil, tidak mudah goyah oleh tekanan hidup, dan mampu merespons masalah dengan lebih jernih.

Dalam kehidupan sehari-hari, tazkiyah membantu seorang Muslim:

  • Lebih sadar terhadap emosi dan reaksinya sendiri
  • Tidak mudah dikuasai amarah atau kecemasan
  • Memiliki makna hidup yang lebih dalam
  • Menjalani ibadah bukan sebagai beban, tapi kebutuhan jiwa

Tazkiyah sebagai Terapi Psikologis: Perspektif Islam dan Psikologi Modern

Kesamaan dengan Konsep Self-Regulation dan Emotional Regulation

Dalam psikologi modern, self-regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku secara sadar. Ini sangat selaras dengan konsep tazkiyah yang menekankan pengendalian hawa nafsu dan kesadaran batin.

Proses menahan amarah, mengelola iri hati, atau melatih kesabaran dalam tazkiyah sejatinya adalah latihan emotional regulation. Bedanya, tazkiyah tidak hanya berorientasi pada fungsi sosial, tapi juga pada hubungan manusia dengan Tuhan.

Peran Kesadaran Diri (Self-Awareness)

Tazkiyah dimulai dari kesadaran diri—mengenali isi hati sendiri dengan jujur. Dalam psikologi, self-awareness dianggap fondasi penting dalam proses penyembuhan mental.

Islam mengenal konsep muhasabah, yaitu evaluasi diri secara rutin. Praktik ini sangat mirip dengan journaling reflektif atau mindfulness dalam psikologi kontemporer, yang terbukti secara ilmiah dapat menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional.

Mengapa Pemurnian Hati Berdampak pada Kesehatan Mental

Banyak gangguan psikologis modern berakar pada konflik batin yang tidak terselesaikan: rasa bersalah, kemarahan terpendam, kecemasan eksistensial. Tazkiyah bekerja dengan membersihkan akar-akar batin tersebut.

Hati yang lebih bersih cenderung lebih lapang dalam menerima realitas, lebih mudah memaafkan, dan tidak terjebak dalam pola pikir negatif yang berulang.

Pelengkap, Bukan Pengganti Terapi Klinis

Penting untuk digarisbawahi bahwa tazkiyah bukan pengganti terapi psikologis atau psikiatris. Dalam konteks modern, tazkiyah berfungsi sebagai pelengkap yang memperkuat proses penyembuhan.

Bagi individu dengan gangguan mental klinis seperti depresi berat atau gangguan kecemasan, pendekatan profesional tetap diperlukan. Tazkiyah dapat menjadi fondasi spiritual yang membantu proses terapi berjalan lebih bermakna dan berkelanjutan.

Tahapan Tazkiyah: Dari Muhasabah hingga Islah Diri

Proses tazkiyah bukan sesuatu yang instan. Ia berjalan bertahap dan berulang. Tahap pertama adalah muhasabah, yaitu refleksi diri yang jujur. Setelah itu, ada mujahadah, perjuangan melawan kebiasaan buruk dan dorongan negatif.

Tahap berikutnya adalah taubat sebagai pelepasan beban batin, lalu riyadhah atau latihan jiwa melalui ibadah yang konsisten. Puncaknya adalah islah diri, yaitu perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan cara memandang hidup.

Merawat Jiwa, Merangkul Keseimbangan

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, tazkiyah menawarkan ruang jeda—kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri dan Tuhan. Ia mengajarkan bahwa kesehatan mental bukan hanya soal menghilangkan gejala, tapi juga membersihkan sumbernya.

Jika kamu sedang lelah secara batin, mungkin ini saatnya mulai melirik tazkiyah sebagai bagian dari perjalanan merawat diri. Pelan-pelan, jujur pada diri sendiri, dan konsisten. Karena jiwa, seperti tubuh, juga butuh dirawat.

Yuk, mulai tazkiyah hari ini—bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi lebih sadar dan utuh sebagai manusia.




Mengenal Nafs: Jalan Memahami Diri Lewat Psikologi Islam

Psikologi Islam

Prolite – Mengenal Nafs: Jalan Memahami Diri Lewat Psikologi Islam

Di tengah maraknya pembahasan kesehatan mental dan self-healing, konsep tentang mengenal diri semakin sering muncul. Kita diajak memahami emosi, pikiran, dan luka batin agar hidup terasa lebih seimbang. Namun, jauh sebelum istilah psikologi modern berkembang, Islam telah lama membahas tentang diri manusia melalui konsep nafs.

Dalam Al-Qur’an dan tradisi keilmuan Islam, nafs bukan sekadar istilah populer yang sering diartikan sebagai hawa nafsu, melainkan konsep psikologis dan spiritual yang kompleks.

Nafs membahas tentang dorongan, kecenderungan, konflik batin, hingga potensi pertumbuhan manusia menuju kondisi jiwa yang lebih tenang dan matang. Memahami nafs berarti memahami bagaimana manusia bergulat dengan dirinya sendiri: antara keinginan, kesadaran moral, dan hubungan dengan Allah.

Artikel ini mengajak kamu mengenal konsep nafs dalam psikologi Islam dengan bahasa yang lebih santai, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Nafs? Lebih dari Sekadar Hawa Nafsu

Mengenal Nafs: Jalan Memahami Diri Lewat Psikologi Islam

Dalam psikologi Islam, nafs merujuk pada diri manusia secara utuh, mencakup aspek emosional, dorongan biologis, kecenderungan psikologis, serta kesadaran moral. Al-Qur’an menggunakan istilah nafs dalam berbagai konteks, mulai dari menyebut jiwa manusia, keinginan batin, hingga identitas diri.

Berbeda dengan pemahaman populer yang sering menyamakan nafs dengan sesuatu yang negatif, tradisi Islam melihat nafs sebagai sesuatu yang dinamis. Ia bisa menjadi sumber masalah jika tidak dikendalikan, tetapi juga bisa menjadi sarana pertumbuhan spiritual jika diarahkan dengan benar.

Para ulama dan sufi memandang nafs sebagai medan perjuangan batin (jihad an-nafs). Artinya, perjalanan hidup manusia bukan hanya tentang menghadapi dunia luar, tetapi juga tentang mengelola dorongan dan konflik internal. Dari sudut pandang psikologi, konsep ini sejalan dengan gagasan tentang regulasi emosi, kontrol diri, dan pengembangan kepribadian.

Tingkatan Nafs dalam Tradisi Sufistik

Mengenal Nafs: Jalan Memahami Diri Lewat Psikologi Islam

Salah satu kekayaan konsep nafs dalam Islam adalah pembagian tingkatan nafs yang menggambarkan evolusi jiwa manusia. Pembagian ini banyak dibahas dalam tradisi tasawuf sebagai peta perjalanan batin.

1. Nafs Ammarah

Ini adalah tingkat nafs paling dasar. Nafs ammarah mendorong manusia untuk mengikuti hawa nafsu, impuls, dan keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan nilai moral. Dalam Al-Qur’an, nafs ini digambarkan sebagai nafs yang “selalu menyuruh kepada keburukan”.

Secara psikologis, kondisi ini mirip dengan dominasi impuls: sulit menunda kepuasan, mudah terpancing emosi, dan cenderung mencari pelarian instan. Jika dibiarkan, nafs ammarah dapat memicu stres, konflik relasi, hingga perilaku adiktif.

2. Nafs Lawwamah

Pada tahap ini, seseorang mulai memiliki kesadaran diri. Nafs lawwamah adalah jiwa yang mampu menyesali kesalahan dan mengkritisi diri sendiri. Meski masih jatuh pada kesalahan, sudah ada proses refleksi dan rasa bersalah.

Dalam kacamata psikologi modern, ini berkaitan dengan munculnya self-awareness. Individu mulai menyadari pola perilakunya, meski belum sepenuhnya konsisten dalam perubahan. Tahap ini penting karena menjadi jembatan menuju pertumbuhan yang lebih sehat.

3. Nafs Mulhimah

Nafs mulhimah adalah jiwa yang mulai mendapatkan ilham untuk membedakan kebaikan dan keburukan secara lebih intuitif. Dorongan untuk berbuat baik semakin kuat, dan konflik batin mulai berkurang.

Pada tahap ini, seseorang cenderung lebih stabil secara emosional dan mulai merasakan makna dalam hidup. Banyak ulama mengaitkan fase ini dengan meningkatnya empati dan kepedulian sosial.

4. Nafs Muthmainnah

Inilah tingkat nafs yang sering dikaitkan dengan ketenangan batin. Nafs muthmainnah adalah jiwa yang damai, menerima ketentuan Allah, dan tidak lagi mudah terguncang oleh tekanan hidup.

Dari perspektif kesehatan mental, kondisi ini mirip dengan emotional regulation yang matang dan penerimaan diri. Individu dengan nafs muthmainnah memiliki resiliensi yang kuat, mampu menghadapi stres tanpa kehilangan arah hidup.

5. Nafs Radhiyah dan Mardhiyah

Pada tingkat ini, jiwa tidak hanya menerima ketentuan Allah, tetapi juga merasa ridha dan diridhai. Hubungan dengan Tuhan menjadi pusat kehidupan, bukan lagi sekadar ritual.

Tahap ini mencerminkan integrasi penuh antara spiritualitas dan kesejahteraan psikologis. Hidup dijalani dengan rasa syukur, makna, dan tujuan yang jelas.

Pengaruh Nafs terhadap Perilaku dan Kesehatan Mental

Mengenal Nafs: Jalan Memahami Diri Lewat Psikologi Islam

Konsep nafs sangat relevan dengan pembahasan kesehatan mental. Ketika nafs didominasi oleh dorongan impulsif, seseorang lebih rentan mengalami kecemasan, kemarahan, dan kelelahan emosional. Sebaliknya, nafs yang terkelola dengan baik membantu individu memiliki kontrol diri, makna hidup, dan keseimbangan emosi.

Psikologi Islam melihat masalah mental bukan hanya dari sisi gejala, tetapi juga dari hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan Allah. Praktik seperti muhasabah (refleksi diri), dzikir, dan shalat dipahami sebagai cara menenangkan nafs dan memperkuat kesehatan batin.

Penelitian kontemporer dalam Psikologi Islam juga menunjukkan bahwa spiritualitas yang sehat dapat meningkatkan well-being, mengurangi stres, dan memperkuat daya tahan mental. Ini menunjukkan bahwa konsep nafs bukan sesuatu yang kuno, melainkan sangat relevan dengan tantangan hidup modern.

Mengelola Nafs sebagai Perjalanan Seumur Hidup

Memahami nafs dalam sudut pandang Psikologi Islam bukan tentang menjadi manusia sempurna, tetapi tentang menyadari proses. Setiap orang berada di tahap yang berbeda, dan naik-turun dalam perjalanan batin adalah hal yang wajar.

Dengan mengenal konsep nafs, kita diajak lebih jujur pada diri sendiri, lebih lembut dalam proses perubahan, dan lebih sadar bahwa kesehatan mental tidak terpisah dari kesehatan spiritual. Jadi, daripada terus berperang dengan diri sendiri, mungkin sudah saatnya kita belajar berdialog dengan nafs—dan menuntunnya menuju versi diri yang lebih tenang dan bermakna.




5 Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Indonesia: Dari Padusan hingga Pawai Obor!

Menyambut Ramadan

Prolite – Intip 5 Tradisi Menyambut Ramadan di Berbagai Daerah: Mulai Dari Padusan hingga Pawai Obor!

Bulan Ramadan bukan sekadar waktu untuk berpuasa, tapi juga momen penuh kebersamaan dan keberkahan yang selalu dinanti. Menariknya, setiap daerah di Indonesia punya cara unik dalam menyambut datangnya bulan suci ini.

Ada yang mandi di sumber mata air, ada yang menggelar pawai meriah, bahkan ada yang membunyikan meriam sebagai tanda awal Ramadan. Yuk, kita intip tradisi-tradisi unik ini!

1. Padusan di Yogyakarta: Ritual Penyucian Diri Sebelum Ramadan

Salah satu tradisi khas yang masih dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta adalah padusan. Ritual ini berupa mandi di sumber mata air sebagai simbol membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci.

Biasanya, masyarakat berbondong-bondong ke tempat-tempat seperti Sendangsono atau Umbul Ponggok untuk melakukan tradisi ini. Maknanya sederhana namun mendalam, yakni agar memasuki Ramadan dengan tubuh yang bersih dan hati yang suci.

2. Balimau di Sumatera Barat: Mandi dengan Jeruk Nipis dan Rempah-Rempah

Kalau di Yogyakarta ada padusan, di Sumatera Barat ada balimau. Tradisi ini juga berupa mandi, tapi yang unik adalah air mandinya dicampur dengan jeruk nipis dan berbagai rempah-rempah.

Masyarakat percaya bahwa mandi balimau bukan hanya untuk menyucikan diri tetapi juga menyegarkan tubuh dan pikiran sebelum menjalani ibadah puasa. Biasanya, tradisi ini dilakukan bersama keluarga besar di sungai atau pemandian umum.

3. Munggahan di Jawa Barat: Kumpul Keluarga Sebelum Puasa

Masyarakat Sunda punya tradisi munggahan, yang intinya adalah berkumpul bersama keluarga dan teman-teman sebelum Ramadan tiba. Biasanya, acara ini diisi dengan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan ajang mempererat silaturahmi.

Selain itu, masyarakat juga sering mengirim makanan ke orang tua, saudara, atau tetangga yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan. Menu yang disajikan dalam munggahan biasanya sederhana tapi penuh makna, seperti nasi liwet, ayam goreng, dan kue-kue tradisional.

4. Dugderan di Semarang: Bedug, Meriam, dan Pasar Malam Meriah

Di Semarang, ada satu tradisi yang super meriah dalam menyambut Ramadan, yaitu dugderan. Tradisi ini diawali dengan bunyi bedug dan dentuman meriam sebagai tanda bahwa Ramadan sudah dekat.

Yang membuat dugderan makin seru adalah adanya pasar malam yang menjual berbagai macam makanan khas, pakaian, hingga pernak-pernik Ramadan. Selain itu, ada pula pawai budaya yang menampilkan kesenian daerah sebagai bentuk rasa syukur menyambut bulan suci.

5. Pawai Obor: Tradisi yang Menerangi Malam Ramadan

Di banyak daerah di Indonesia, pawai obor menjadi tradisi yang tak bisa dilewatkan saat menyambut Ramadan. Warga akan berjalan kaki sambil membawa obor atau lampion, menerangi jalan dengan cahaya yang indah.

Pawai ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dan remaja sebagai bentuk kegembiraan dalam menyambut bulan puasa. Selain obor, ada juga yang menambahkan tabuhan bedug atau shalawat sebagai bagian dari perayaan.

Tradisi Lain yang Tak Kalah Unik

Selain lima tradisi di atas, masih banyak cara lain yang dilakukan masyarakat untuk menyambut Ramadan. Di Aceh, ada meugang, yaitu tradisi memasak dan menikmati daging bersama keluarga sebagai tanda syukur.

Di Madura, ada toron, yakni tradisi mudik lebih awal sebelum puasa untuk berkumpul bersama keluarga besar. Sementara di Lombok, ada tradisi maleman, di mana masyarakat menyalakan lampion dan lampu-lampu hias sebagai simbol cahaya Ramadan yang penuh berkah.

Menjaga dan Melestarikan Tradisi Ramadan

Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekadar kebiasaan turun-temurun, tapi juga bentuk kearifan lokal yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Dengan menjaga dan melestarikannya, kita turut menghormati warisan budaya yang kaya sekaligus menambah keberkahan dalam menyambut Ramadan.

Jadi, bagaimana tradisi di daerahmu? Yuk, ceritakan pengalamanmu dalam menyambut Ramadan dan sebarkan semangat kebersamaan kepada orang-orang di sekitarmu! 😊




Peringati Maulid Nabi 2023 : Antara Sunnah dan Bid’ah, Momentum Meningkatkan Kecintaan Umat

Maulid Nabi

Prolite – Umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Kamis (28/9/2023). Peringatan ini jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 1445 Hijriah.

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi atau Maulud ini dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari acara keagamaan hingga kegiatan sosial.

Beberapa acara yang umum dilakukan antara lain pembacaan maulid, pengajian, dan ceramah. Selain itu, ada pula beberapa daerah yang memiliki tradisi khusus untuk merayakan Maulud, seperti tahlil, ziarah, dan karnaval.

Pada tahun ini, peringatan Maulid Nabi di Indonesia menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan dan kesadaran umat terhadap ajaran dan sunnah Rasulullah SAW.

Hal ini sejalan dengan tema Maulud yang diangkat oleh pemerintah tahun ini, yaitu “Peringati Maulid Nabi, Meningkatkan Kecintaan dan Kesadaran Umat Terhadap Ajaran dan Sunnah Rasulullah SAW”

Hukum Maulid Nabi

– iStock

Peringatan Maulid Nabi sering menimbulkan perdebatan di kalangan umat Islam, khususnya terkait hukum dan cara perayaannya.

Maulud sebagai Sunnah: Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa merayakan Maulud adalah sunnah dan dianjurkan. Alasannya, peringatan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.

Mereka menilai bahwa dengan memperingati Maulud, umat Islam dapat mengingat serta menghargai jasa-jasa dan pengorbanan Rasulullah dalam menjalankan dakwah dan menyebarkan ajaran Islam.

Maulud sebagai Bid’ah: Di sisi lain, ada ulama yang berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan bid’ah. Alasan mereka adalah tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa Sahabat Nabi atau generasi awal umat Islam merayakannya.

Bagi mereka, setiap bentuk ibadah yang tidak diajarkan oleh Nabi atau tidak ditemukan dalam praktik generasi Salaf dianggap sebagai inovasi dalam agama yang seharusnya dihindari.

Akan tetapi, para ulama kontemporer menegaskan bahwa selama perayaan Maulud tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran dasar Islam dan tetap berlandaskan pada nilai-nilai yang baik, maka merayakannya adalah boleh.

Bahkan, peringatan ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan dan kesadaran umat terhadap ajaran dan sunnah Rasulullah SAW.




Bahaya Kekeringan Melanda Kota Bandung, MUI Megajak Umat Muslim Berdoa Bersama

Ilustrasi kekeringan melanda MUI meminta umat muslim berdoa meminta turun hujan (IStockphoto)

Kota Bandung Dilanda Kekeringan, MUI Megajak Umat Muslim Berdoa Bersama

BANDUNG, Prolite – Kekeringan telah melanda di seluruh penjuru Kota Bandung, bahkan beberapa daerah di Bandung mengalami kelangkaan air bersih.

Menyikapi masalah kekeringan di beberapa daerah maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung mengajak untuk seluruh umat muslim berdoa bersama.

Berdoa bersama ini diperuntukan untuk seluruh umat muslim agar meminta kepada Allah SWT untuk turun hujan.

Ilustrasi kekeringan (dok Okezone).
Ilustrasi kekeringan (dok Okezone).Ilustrasi kekeringan (dok Okezone).

Bahkan MUI telah mengeluarkan surat resmi untuk doa yang bisa dilafalkan warga yakni:

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda”.

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang merata, segera, menyuburkan, lebat, merata, segera tanpa kelambatan, bermanfaat tanpa bahaya. Hujan yang dapat memenuhkan (kantong kelenjar) susu binatang ternak, yang menumbuhkan tanaman, yang menghidupkan tanah setelah mati (karena kekeringan).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abbad bin Tamim, ia berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah mengajak orang-orang keluar untuk memohon turunnya hujan. Beliau shalat dua rakaat bersama mereka, dan beliau membaca dengan suara keras. Setelah memindahkan kain selendang, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu berdo’a memohon diturunkan hujan sambil menghadap kiblat.” (HR Bukhari).

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang (ciptaan)-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah negeri-Mu yang sebelumnya mati”.

Do’a yang biasa dibacakan oleh Al-Hasan sebagai mana diriwayatkan oleh AthThabrani :

Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu dan memohon siraman hujan dari-Mu; Ya Allah, kami sungguh sungguh memohon ampunan kepada-Mu, karena sesunguhnya Engkau Maha Pengampun, curahkanlah hujan yang lebat kepada kami;

Ya Allah, siramlah kami dengan siraman hujan yang bermanfa’at dan menjadi simpanan yang bisa menambah rasa syukur kami, berikanlah rizki kepada kami, rizki keimanan dan buah keimanan, sesungguhnya pemberian-Mu itu tidak akan tercegah;

Ya Allah, turunkanlah hujan itu kepada hamba hamba-Mu dan negri-negri-Mu, hidupkanlah binatang-binatang (ciptaan)-Mu, tebarkanlah rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang;

Ya Allah, turunkanlah (hujan) ke tanah kami di musim semi, dan turunkan pula (hujan itu) ke tanah tempat kediaman kami; berikan rizki kepada kami dari keberkahan langit dan bumi, karena Engkau sebaikbaik pemberi rizki;

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat yang merata, segera tanpa ditunda, bermanfa’at tanpa mencelakakan, harga-harga menjadi murah, rizki kami terus mengalir, dan jadikanlah dengan hujan itu
kenikmatan atas pengembaraan kami dan keberadaan kami (di tempat kami) dan jadikanlah kami orang-orang yang barsyukur kepada-Mu. (Riwayat Ath-Thabrani dalam kitab “Al-Du’a” miliknya (960)).