BPBD Kota Bandung Beri Sosialisasi Ubah Tanaman Palawija Menjadi Tanaman Daya Serap Air Tinggi

BPBD Kota Bandung Beri Sosialisasi Ubah Tanaman Palawija Menjadi Tanaman Daya Serap Air Tinggi
KOTA BANDUNG, Prolite – Mitigasi bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD} Kota Bandung lakukan sosialisasi ubah kebiasaan menanam tanaman palawija menjadi tanaman daya serap air tinggi.
Kepala BPBD Didi Ruswandi membenarkan hal itu, bahkan beberapa waktu telah menanam sekitar 400 pohon buah-buahan di lokasi rawan bencana yakni Pasirwangi dan Ujungberung.
“Kita tanamin buah-buahan ada nangka, jambu, durian, tinggi pohonnya variasi mulai dati 1 – 1,5 meter, kita harap itu tumbuh besar dan bermanfaat menahan dan menyerap air,” ujar Didi saat dihubungi.
Penanaman ini bukan hanya sekali, kata Didi pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat. Pada pertemuan itu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat tertarik melakukan penanaman.
“Malah beliau, ingin ada kesejahteraan buat petaniny selama tanaman itu belum tumbuh. Rencana akan di tanam pohon kopi nah nanti petaninya dibayar ‘sabedugeun cenah seharina’ . Jadi kalau nanti berbuah petani penggarapnya beralih ke kopi, kalau ini deal dengan provinsi dan sudah disampaikan ke masyarakat juga pemilik lahan setuju nanti baru kita tanam kembali,” paparnya.
Alasan perubahan tanaman ini lanjut Didi, guna bukan hanya luasan terpenuhi tetapi juga indeks hijaunya yang saat ini tidak terpenuhi.
“Nah kita mengejar indeks hijaunya jangan hanya luasan tapi indeks hijaunya, setelah tumbuh dewasa itu kemampuan ekologi makin tinggi, kalau di RT RW itu namanya ruang terbuka hijau (RTH) tapi oleh masyarakat ditanami palawija gak ada tegakannya. Kalau hujan palawija itu meresp air tapi tidak menahan air yang berpotensi tanah tergerus,” tegasnya.
Saat curah hujan tinggi dan luapan air besar, pohon palawija tak bisa menahannya berbeda dengan pohon pelindung, potensi air terbawa kecil. Kemudian resapan air makin tinggi sehingga mampu menahan air, efek positifnya ketika musim kemarau tidak kering.
“Satu giat ini untuk banyak manfaat, kalau dari kami, itu bagian dari mitigasi bencana longsor dan banjir. Bagi DSABM itu bagian dari pengurangan daya rusak air dan banjir, mungkin DPKP itu bagian pemenuhan hutan kota, bagi DKPP itu adalah budi daya perkebunan, bagi DLHK itu adalah mengurangi global warming. Ini baru dua titik karena kebetulan pohon habis kemarin,” tutupnya.