Self-Talk : Benarkah Berbicara Sendiri adalah Gejala Gangguan Jiwa?

Self-Talk

Prolite – Apakah kamu sering berbicara sendiri atau bergumam? Kalau ya, mungkin kamu khawatir akan dianggap aneh saat melakukannya di depan umum.

Orang-orang di sekitarmu mungkin berpikir bahwa kamu aneh atau sedikit gila, padahal sebenarnya berbicara pada diri sendiri adalah hal yang umum dan normal.

Berbicara dengan diri sendiri dikenal sebagai self-talk, yang dapat didefinisikan sebagai bentuk dialog internal yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadarmu, dan ini mencerminkan pikiran, keyakinan, pertanyaan, dan ide-ide yang kamu miliki.

Berbicara dengan diri sendiri ini bisa berupa hal positif atau hal negatif. Ini bisa memberikan dorongan semangat, atau sebaliknya, menimbulkan kekhawatiran. 

Sebagian besar dari berbicara pada diri sendiri tergantung pada kepribadianmu. Jika kamu optimis, self-talkmu mungkin lebih positif, tetapi jika kamu pesimis, self-talkmu mungkin lebih cenderung negatif.

Pemikiran dan Self-talk Positif 

Ilustrasi – Freepik

  1. Memberi dorongan semangat pada diri sendiri, misalnya, dengan mengatakan, “Saya bisa melakukannya” atau “Saya memiliki kemampuan ini.”
  2. Mengakui aspek positif dalam situasi, bahkan jika ada masalah. Contohnya, “Meskipun ada tantangan, ada juga peluang dalam situasi ini.”
  3. Menggunakan logika dan alasan yang meyakinkan untuk mengatasi pikiran negatif. 
  4. Mengadopsi perspektif yang lebih nuansa daripada melihat dunia dalam hitam-putih. 

Penting untuk diingat bahwa berbicara dengan diri sendiri yang positif dapat meningkatkan kinerja dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Orang dengan self-talk positif lebih mungkin memiliki keterampilan mental yang memungkinkan mereka mengatasi stres dan kecemasan dengan lebih baik.

Pemikiran dan Self-talk Negatif 

Ilustrasi – Freepik

  1. Menyalahkan diri sendiri dalam berbagai situasi.
  2. Lebih memusatkan perhatian pada aspek negatif dari suatu keadaan.
  3. Mengabaikan segala hal yang positif.
  4. Selalu mengantisipasi hal terburuk, dan jarang membiarkan logika atau alasan meyakinkan untuk berpikir sebaliknya.
  5. Membayangkan dunia dalam terminologi yang sangat hitam-putih, di mana semuanya dianggap baik atau buruk.

Jika kamu ingin mengubah self-talk negatifmu menjadi positif, kamu perlu mengidentifikasi jenis pikiran negatif yang mungkin kamu miliki dan berusaha mengubahnya. 

4 Tips yang Dapat Membantu 

Ilustrasi –

  1. Mengidentifikasi pemikiran negatif
  2. Memeriksa perasaanmu
  3. Temukan humor
  4. Mengelilingi diri dengan orang-orang positif
  5. Mmemberi dirimu afirmasi positif

Mengubah self-talk negatif menjadi lebih positif memerlukan waktu dan latihan yang konsisten. Dengan tekad dan usaha yang terus menerus, kamu pasti dapat membentuk kebiasaan berbicara pada diri sendiri yang lebih positif. Tetap semangat dan teruslah berprogres!




Play Victim : 5 Alasan Mengapa Seseorang Suka Berperan Sebagai Korban

Play Victim

Prolite – Kalian pasti tau kan istilah “Play Victim” yang sering dibahas sama orang-orang? Yap, itu perilaku toxic yang dianggap menyimpang dan punya efek luar biasa bagi orang di sekitarnya. Kok bisa ya?

Kamu mungkin pernah ketemu sama orang yang suka ngeluh soal nasib buruknya. Pokoknya, mereka kayak tokoh di drama dan berperan sebagai korban terus. Nah, itu tuh namanya “play victims”. Kalo gitu, apa sih sebenernya playvict itu? Kenapa mereka bisa kayak gitu, apa aja dampak negatifnya, dan bagaimana kita bisa ngatasi masalah ini? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Apa itu “Play Victim”?

Jadi, play victims itu adalah perilaku orang-orang yang dengan sengaja berpura-pura jadi korban dalam situasi tertentu. Mereka nggak peduli sama tanggung jawab mereka sendiri atau apa yang mereka lakukan dalam permasalahan itu, dan gak pernah mau mengaku kalo mereka juga punya kesalahan.

Mereka gak mikirin solusi dan cuman fokus ke masalahnya dengan terus mengeluh. Yang mereka mau cuma cari perhatian dan simpati orang lain. Mereka suka ngeluh-ngeluh dan menyalahkan orang lain demi dapetin itu.

Kenapa Bisa Ada Orang yang Play Victims?

Ada banyak hal yang bisa bikin seseorang jadi kayak gitu. Ini dia beberapa alasan kenapa ada yang suka main play victim :

1. Punya pengalaman masa kecil yang traumatis

Jadi, orang yang suka nyalahin orang lain ini seringkali punya masa lalu yang nggak enak banget. Jadi ketika mereka playing victim, sebenernya mereka lagi ngejaga diri. Dan ternyata, rasa sakit emosional yang mereka alamin juga bisa bikin mereka susah kontrol diri dalam segala hal. Jadi, ya nggak mudah juga buat mereka.

2. Gangguan kepribadian narsis dan suka manipulasi

Orang yang suka playing victim itu biasanya seneng banget nyalahin orang lain dan pura-pura jadi korban. Mereka suka banget manipulasi orang lain buat dapetin simpati dan perhatian.

Eits, tapi jangan lupa, ini juga seringkali terkait sama kepribadian yang narsistik, loh. Mereka mikirnya mereka itu paling penting dibanding orang lain. Kalian bisa cari tau soal kepribadian narsistik di artikel berikut guys!

Mengenal Si NPD, Obsesi dengan Diri Sendiri yang Melampaui Batas

3. Punya rasa rendah diri dan kurang PD

Mereka merasa nggak berharga atau merasa nggak sanggup menghadapi tantangan hidup. Dengan berperan sebagai korban, mereka berharap bisa dapet pengakuan dan perhatian dari orang lain, yang pada akhirnya bisa bantu mereka meningkatkan kepercayaan diri. Jadi, intinya mereka nyari validasi dari luar biar mereka merasa lebih oke.

4. Dendam terhadap orang yang lebih sukses dari mereka

Pada dasarnya, perilaku playing victim ini adalah cara mereka melindungi diri ya kan. Nah, mereka merasa gak boleh kalah sama orang lain, jadi ada rasa iri dalam hati mereka. Rasa iri ini akhirnya berubah jadi dendam. Ketika ada kesempatan, mereka bakal manfaatin kesalahan orang lain dan ngerusak nama baik mereka. Makannya, mereka jadi korban buat bikin orang lain tampak jelek.

5. Adanya kecenderungan untuk menghancurkan diri sendiri

Maksudnya, mereka sering banget terjebak dalam pikiran negatif tentang diri mereka sendiri. Mereka lebih gampang percaya sama kalimat negatif kayak “hal buruk bakalan nimpa gue nih”, ”gue emang pantes dapet hal-hal buruk”, “gak ada yang peduli sama gue”, dan masih banyak lagi.

Padahal, pikiran-pikiran negatif itu malah bikin mereka tambah hancur. Nah, ini karena self talk yang negatif bisa merusak pertahanan diri mereka, dan bikin mereka terjebak dalam lingkaran keputusasaan. Jadinya, susah banget buat mereka bangkit dari keadaan yang buruk.

Dampak Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain

Perilaku play victim ini punya dampak negatif yang bisa mempengaruhi baik diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Yuk, kita lihat dampak negatifnya dan juga cara mengatasinya!

Dampak negatif bagi diri sendiri:

Freepik

1. Keterbatasan pertumbuhan pribadi

Kalo udah stuck jadi korban terus, kita jadi susah banget buat berkembang. Kita jadi nggak bisa belajar dari kesalahan dan menghadapi tantangan hidup dengan caranya sendiri.

Penting buat ubah pola pikir dan komit buat belajar dari pengalaman, baik yang bagus maupun yang nggak bagus. Jangan takut buat tanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang kita ambil sendiri.

2. Rendahnya harga diri

Hal ini bisa bikin kita merasa rendah diri dan nggak berharga. Tapi, buat ngebangun harga diri yang lebih baik, kita perlu hargai diri kita sendiri dulu.

Kenali kelebihan dan prestasi yang udah kita capai, dan terima bahwa setiap orang punya kekurangan. Dengan punya penghargaan diri yang sehat, kita bisa atasi perasaan rendah diri tersebut.

3. Ketergantungan pada simpati orang lain

Orang yang main play victim biasanya nyari simpati dan perhatian dari orang lain. Tapi, sebenernya itu cuma ngasih kepuasan sesaat aja.

Kita perlu bangun kepercayaan diri dan lebih mengandalkan penghargaan dari dalam diri sendiri daripada tergantung pada pengakuan dari luar. Fokus pada pencapaian pribadi dan kepuasan yang kita dapetin dari hal-hal yang bener-bener berarti buat diri kita sendiri.

Dampak negatif bagi orang lain:

doktersehat

1. Kelelahan dan frustrasi

Temen-temen yang harus terus dengerin keluhan dan penyalahgunaan dari orang yang main play victim bisa capek dan kesel juga. Jadi, penting banget buat kita sadar kalo orang lain juga punya batasan. Kita perlu dukung mereka dengan empati, tapi nggak boleh menyalahgunakan perhatian mereka.

2. Kerusakan hubungan

Perilaku play victim bisa rusakin hubungan sama orang lain. Kalo terus-terusan nyalahin orang lain dan ngindarin tanggung jawab, bisa bikin kerenggangan dan kurang kepercayaan.

Kita perlu belajar bertanggung jawab atas tindakan kita, berkomunikasi jujur, dan bangun kepercayaan lewat tindakan yang konsisten. Jadi, kita harus punya tanggung jawab, komunikasi yang jujur, dan tunjukin aksi yang konsisten buat bangun kepercayaan.

Nah, sekarang udah pada tau kan, apa itu play victims dan efek sampingnya? Jadi, yuk kita tinggalkan pola pikir ini dan jadi orang yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Mari berusaha untuk berkembang, menghargai diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Dengan begitu, kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih positif. Stay positive guys! 🌞




Jadilah Versi Terbaik : 6 Buku Self Improvement yang Bakal Mengubah Hidupmu!

self improvement

Prolite – Halo buat kamu yang lagi cari buku-buku self improvement terbaik di tahun ini! Kita punya rekomendasi enam buku yang udah jadi best seller dan pastinya bakal bikin hidup kalian makin keren.

Buku-buku self improvement ini tuh kayak guru pribadi yang siap ngebantu kamu untuk jadi versi terbaik dari diri sendiri. Mereka punya trik-trik keren, cerita inspiratif, dan ilmu-ilmu yang bisa bikin kita makin sukses, bahagia, dan puas dengan diri kita sendiri.

Makanya, gak heran kalau buku-buku ini jadi best seller, banyak orang yang nyampein kalau mereka bener-bener bermanfaat. Jadi, jangan sampai ketinggalan ya, bisa jadi buku-buku ini ngubah hidup kalian jadi lebih baik! So, let’s get to the list!

Buku Self Improvement Terbaik di Tahun Ini

1. What’s So Wrong About Your Self Healing By Ardhi Mohamad

Self Improvement

Buku self improvement yang pertama ada dari Ardhi Mohamad. Kamu pernah ngalamin rasa cemas, kesepian, pasrah, atau sedih? Pasti, kan? Nah, salah satu cara buat sembuhin perasaan terpuruk gara-gara itu adalah self-healing.

Tapi, apakah cuma self-healing aja udah cukup? Kok masih ada emosi negatif yang muncul meskipun udah berusaha self-healing berulang kali? Ada apa dengan self-healing yang selama ini kita lakuin?

Nah, Ardhi Mohamad bakal bahas semua pertanyaan itu di bukunya ini. Dia akan ngebahas 10 bab tentang masalah-masalah yang sering kita alamin sejak kecil.

Dia nggak cuma ngomongin tentang self-healing, tapi juga ngajak kita buat liat pentingnya pengasuhan dari orang tua terhadap pola pikir kita. Bahasanya juga gampang dimengerti buat anak muda. Dia ngebahas penelitian dan teori tanpa bertele-tele.

2. A Guide Book To Slow Down Your Life by Astrid Savitri

Buku self improvement ini ditulis sama Astrid Savitri yang isinya ngomongin tentang gaya hidup slow living. Kadang-kadang, kita udah ngelakuin banyak hal tapi tetep rasanya kosong dan pengen ubah arah hidup.

Slow living lagi jadi tren baru belakangan ini. Konsep hidup yang simpel dan sederhana itu keliatannya jadi impian buat banyak orang.

Slow living bisa dilakuin dengan berbagai cara, mulai dari decluttering kayak yang dilakuin sama Marie Kondo, sampe planning hidup tanpa rasa khawatir berlebihan.

Nah, di buku ini, konsep slow living bakal dibahas secara lebih luas dan dijelasin gimana kita bisa dapetin kebahagiaan dengan menerapin konsep slow living itu. Jadi, buku ini bisa bantu kita buat ngelambatin hidup dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana.

3. Wake Up Sloth by Aulia Hanifa

Goodreads

Buku ini ditulis oleh penulis lokal, yaitu Aulia Hanifa yang inspirasinya datang dari si kukang yang pemalas.

Di buku ini, kalian bakal nemuin motivasi untuk bangkit dan ngejar impian kalian. Selain itu, bukunya juga ngomongin tentang semua kegalauan yang kita hadapi dalam hidup, passion, dan karir. Seru banget, kan?

Yang lebih seru lagi, setiap halamannya dihiasi dengan ilustrasi lucu yang bikin mata kita senyum-senyum sendiri. Kalian juga akan diminta untuk aktif ikutan latihan dan nulis catatan di dalam buku ini. Jadi, gak akan ada alasan buat bosen deh saat baca buku ini.

4. Insecurity is My Middle Name by Alvi Syahrin

Buku ini ditulis oleh Alvi Syahrin dan sukses banget bikin pembaca merasa kayak dipeluk waktu baca bukunya. Alvi ngomongin tentang rasa insecure yang sering muncul pas kita liat pencapaian orang lain atau karena kita kurang pede dengan diri sendiri.

Kalau kamu sering merasa insecure, cobain deh baca buku ini. Ada 45 bab yang bakal bantu kamu buat berdamai sama rasa insecurity. Buku ini bakal nemenin kamu dan buka wawasan serta cara pandang kamu terhadap hal-hal yang biasanya bikin kamu insecure.

Jadi, siap-siap deh buat jadi versi lebih pede dari diri sendiri setelah baca buku ini!

5. Tak Apa-Apa Tak Sempurna by Brene Brown, Ph.D., .

Goodreads

Pasti semua orang pernah merasakan tekanan hidup, cuma beda porsi aja. Sebagai manusia, banyak dari kita yang pernah ngerasa kegagalan itu masalah besar banget.

Pernah merasa kurang kemampuan, nggak berharga, dan merasa rendah dibanding orang lain. Tapi tau gak, sebenernya nggak sempurna itu bukan hal buruk lho? Gak perlu terlalu mikirin kata-kata orang lain.

Di buku self improvement ini, Dokter Brown bakal bantu kita buat belajar terima diri apa adanya dan gak perlu khawatir sama pendapat orang lain tentang kita. Jadi, kita bisa fokus buat lebih sayang diri sendiri dan bangun keberanian buat berkembang.

Buku ini masuk ke jajaran buku best seller di New York Times dan banyak orang yang rekomen buku ini di Goodreads.

6. Menyakitkan, Tapi Tak Seburuk yang Kupikirkan by Lee You-Jeong

Goodreads

Buku self improvement yang terakhir ada dari penulis Korea yang bernama Lee You-Jeong. Buku ini cocok banget buat kamu yang lagi dihadapkan dengan cobaan dan rintangan hidup.

Lewat bukunya, Lee You-Jeong pengen banget ngebahas bahwa kebahagiaan nggak selalu datang dari hal-hal yang luar biasa atau keren banget. Kadang-kadang, kebahagiaan bisa muncul cuma dengan ngeliat pemandangan indah atau makan malam bareng orang-orang tercinta.

Jadi, buku ini ngajakin kita buat liat sisi kecil kebahagiaan dalam hidup yang mungkin sering kita lewatin begitu aja. Yuk, kita buka buku ini dan temukan kebahagiaan dalam momen-momen yang mungkin kita anggap sepele.

Nah, itu dia, guys! Enam rekomendasi buku self improvement best seller yang wajib kalian cek! Buku-buku ini bener-bener bikin hidup kita jadi lebih keren dan penuh semangat.

Jangan sampai ketinggalan, ya! Ambil salah satu atau bahkan semua buku ini, dan jangan lupa baca dengan hati yang terbuka dan pikiran yang positif. Lakukan latihan dan tips yang ada di dalam buku-buku ini, dan rasakan perubahan positif dalam diri kalian.

Ingat, kita punya potensi besar dalam diri kita, dan buku-buku self improvement ini bakal bantu kita untuk menggali potensi itu. Jadilah versi terbaik dari diri kita sendiri dan gapai kesuksesan serta kebahagiaan dalam hidup kita.

Selamat menikmati perjalanan self improvement kalian, dan semoga buku-buku ini membawa banyak manfaat dan kebahagiaan dalam hidup kalian. Teruslah belajar, tumbuh, dan menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri!