#1ThBandungUtama Sirkular Bandung Utama: dari Sampah Jadi Pangan, dari Pangan Jadi Harapan

#1ThBandungUtama Sirkular Bandung Utama dari Sampah Jadi Pangan, dari Pangan Jadi Harapan (dok).

#1ThBandungUtama Sirkular Bandung Utama: dari Sampah Jadi Pangan, dari Pangan Jadi Harapan

Prolite – Satu tahun perjalanan Program Sirkular Bandung Utama menandai babak baru transformasi lingkungan dan ketahanan pangan di Kota Kembang.

Melalui kolaborasi tiga program utama Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dashat, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadirkan solusi terintegrasi dari hulu ke hilir, mengelola sampah, menanam pangan, hingga memenuhi gizi keluarga.

Program ini menggabungkan gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), inovasi urban farming Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis), serta Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting) dalam satu ekosistem bernama Karasa.

Konsepnya sederhana namun berdampak besar, sampah organik diolah menjadi kompos, kompos digunakan untuk menanam bahan pangan, hasil panen dimanfaatkan dapur sehat, dan sisa dapur kembali masuk ke sistem pengolahan.

Wali Kota Muhammad Farhan menjelaskan, tantangan utama saat ini adalah pemerataan keberadaan Dashat di setiap RW. Karena itu, Pemkot Bandung memastikan minimal satu dapur sehat tersedia di setiap kelurahan.

dok Pemkot Bandung
dok Pemkot Bandung

“Kalau Buruan SAE dan pengolahan sampah rata-rata sudah ada. Yang kita pastikan sekarang adalah Dapur Sehat Atasi Stunting di tingkat kelurahan,” ujarnya.

Perhatian khusus juga diberikan kepada kelurahan dengan keterbatasan lahan, terutama dalam pengelolaan sampah.

Pemkot Bandung menyiapkan skema khusus agar seluruh wilayah tetap bisa terlibat dalam sistem sirkular ini.

Program ini bukan sekadar konsep di atas kertas. Warga merasakan langsung manfaatnya.

Warga Kelurahan Mekarjaya, Opi S. Inayah mengungkapkan, Buruan SAE kini menjadi sumber pangan keluarga.

“Kami bisa menanam, memanen, dan hasilnya dimanfaatkan untuk dapur sehat. Ini gerakan yang terintegrasi dan sangat bagus,” ujarnya.

Senada, Lismawati merasakan kehadiran Dashat membantu pemenuhan gizi anak-anak.

“Dari hasil buruan lahir menu sehat untuk warga. Ini sangat menunjang penurunan stunting,” katanya.

Sementara itu, Ujang Mamat menilai, Kang Pisman membuat lingkungan lebih bersih dan tertata.

“Sampah organik dan non-organik sudah dikelola. Lingkungan jadi lebih nyaman,” tuturnya.

Salah satu contoh keberhasilan tampak di Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Rancasari.

Di wilayah ini, rantai sirkular berjalan utuh: sampah diolah jadi kompos, kompos menyuburkan kebun, hasil panen masuk dapur sehat, dan sisa dapur kembali dikelola.

Model ini membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari tingkat kelurahan dari halaman rumah, dari dapur warga, dari kepedulian bersama.

Satu tahun Sirkular Bandung Utama bukan sekadar angka. Sirkular Bandung Utama menjadi simbol kolaborasi, gotong royong, dan komitmen menghadirkan kemajuan nyata menjadikan Bandung lebih bersih, sehat, dan berdaya dari lingkungannya sendiri.




Dinkes Kota Bandung Gelar Penyusunan SOP Program Gizi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan

Dinkes Kota Bandung Gelar Penyusunan SOP Program Gizi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan (Eka Hospial).

Dinkes Kota Bandung Gelar Penyusunan SOP Program Gizi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan

Prolite – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung terus berupaya melakukan peningkatan pelayanan kesehatan khususnya di bidang Program gizi.

Program gizi ini memang sangat penting untuk dapat memantau warga masyarakat Kota Bandung yang masih banyak kekurangan gizi.

Melalui kegiatan Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Program Gizi pelaksanaan program dapat berjalan lebih terarah, dan efektif.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, DR ., dr . Sony Adam, S.H ., M.M bersama Ketua Tim Kerja Kesehatan dan Gizi Keluarga, Kiki Riezki Yudistiani. Kegiatan digelar di Grand Tebu Hotel, Kota Bandung, pada selasa (16/09/2025)

Dalam sambutannya, Sony Adam menekankan perlunya penyusunan SOP sebagai pedoman kerja yang jelas dan terstruktur dalam pelaksanaan program gizi di Kota Bandung.

Dinkes Kota Bandung
Dinkes Kota Bandung

“SOP ini akan menyediakan seperangkat pedoman umum untuk menjalankan program gizi. SOP ini mencakup perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Dengan SOP ini, kita dapat memberikan layanan gizi yang lebih baik, lebih konsisten, dan lebih akuntabel. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kesehatan gizi masyarakat Bandung,” ujar Sony Adam.

Penyusunan SOP ini bertujuan untuk menghadirkan pedoman kerja yang baku dan terstandar dalam setiap tahapan pelaksanaan program gizi di Kota Bandung.

Dengan adanya SOP, pelaksanaan program dapat berjalan lebih terarah, dan efektif, menciptakan pemahaman dan praktik kerja yang sama di antara seluruh tenaga kesehatan, termasuk di kantin, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya.

SOP ini akan mencakup berbagai bidang, seperti pengelolaan layanan gizi masyarakat, Selain itu, memastikan bahwa upaya penanggulangan permasalahan gizi seperti stunting, maupun gizi buruk, dapat dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan.

SOP ini juga diharapkan dapat meningkatkan koordinasi lintas sektor. Isu gizi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga pangan, pendidikan, dan faktor sosial ekonomi masyarakat.

Ketua Tim Kerja Kesehatan dan Gizi Keluarga, Kiki Riezki Yudistiani, menekankan bahwa penyusunan SOP ini merupakan langkah kunci dalam peningkatan layanan gizi.

“Dengan SOP yang jelas, kami berharap program gizi di Kota Bandung akan lebih terarah, terukur, dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam upaya penurunan angka stunting dan peningkatan kesehatan keluarga,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Bandung mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendukung program ini. Mari kita bangun masyarakat Bandung yang lebih sehat, dan bebas dari masalah gizi.