DPRD Kota Bekasi Hadiri Konferensi Kerja I PGRI dengan Masa Bakti XXIII Tahun 2025–2030

DPRD Kota Bekasi Hadiri Konferensi Kerja I PGRI dengan Masa Bakti XXIII Tahun 2025 (dok).

DPRD Kota Bekasi Hadiri Konferensi Kerja I PGRI dengan Masa Bakti XXIII Tahun 2025–2030

BEKASI, Prolite – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bekasi menyelenggarakan Konferensi Kerja I PGRI Kota Bekasi Masa Bakti XXIII Tahun 2025–2030 sebagai forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja organisasi untuk periode lima tahun ke depan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Bekasi, Dr. Sardi Efendi, ., M.M., Ketua PGRI Kota Bekasi, Sekretaris PGRI Provinsi Jawa Barat, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan sinergi yang kuat antara organisasi profesi guru, legislatif, dan pemerintah daerah dalam mendukung kemajuan dunia pendidikan di Kota Bekasi.

Konferensi Kerja I Persatuan Guru Republik Indonesia Kota Bekasi Masa Bakti XXIII Tahun 2025–2030 menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi program kerja organisasi sekaligus menyusun rencana dan strategi ke depan yang selaras dengan kebijakan pendidikan daerah dan nasional. Forum ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi internal Persatuan Guru Republik Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan di bidang pendidikan.

Dalam kegiatan tersebut dibahas berbagai isu strategis terkait peningkatan profesionalisme guru, penguatan peran PGRI dalam mendukung mutu pendidikan, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan di Kota Bekasi.

Melalui pelaksanaan Konferensi Kerja I ini, Persatuan Guru Republik Indonesia Kota Bekasi diharapkan mampu menghasilkan program kerja yang terarah, terukur, dan berdampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan. Dukungan dari DPRD Kota Bekasi dan Pemerintah Kota Bekasi diharapkan dapat terus terjalin guna bersama-sama memajukan dunia pendidikan di Kota Bekasi.




Metode Maria Montessori: Konsep Pendidikan Anak yang Menekankan Kemandirian

Maria Montessori

Prolite – Metode Maria Montessori : Konsep Pendidikan Anak yang Menekankan Kemandirian

Kalau kita bicara soal pendidikan anak, nama Maria Montessori hampir pasti muncul di deretan teratas. Metode pendidikannya dikenal unik, berbeda dari sistem pendidikan konvensional, dan yang paling menonjol: menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran. Bukan guru yang mendominasi kelas, tapi anak yang aktif mengeksplorasi, mencoba, dan menemukan sendiri pengetahuan mereka.

Di tengah tantangan pendidikan modern—mulai dari tekanan akademik, kurangnya ruang eksplorasi, hingga isu kesehatan mental anak—pendekatan Montessori justru terasa makin relevan. Metode ini bukan sekadar tentang cara belajar, tapi juga tentang membangun kemandirian, rasa percaya diri, dan tanggung jawab sejak usia dini.

Lalu, siapa sebenarnya Maria Montessori? Bagaimana latar belakang psikologis dan ilmiahnya membentuk metode pendidikan yang mendunia? Yuk, kita bahas lebih dalam.

Latar Belakang Maria Montessori: Dari Dunia Medis ke Pendidikan Anak

Maria Montessori

Maria Montessori lahir di Italia pada tahun 1870 dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama di Italia yang menjadi dokter. Latar belakang medis inilah yang sangat memengaruhi cara pandangnya terhadap anak dan proses belajar. Montessori tidak memulai kariernya sebagai pendidik, melainkan sebagai dokter yang banyak bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Dari pengamatannya, Montessori menyadari bahwa banyak kesulitan belajar pada anak bukan berasal dari keterbatasan intelektual, melainkan dari lingkungan belajar yang tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka. Anak-anak yang diberi ruang untuk bergerak, menyentuh, dan bereksperimen justru menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Temuan ini kemudian mengantarkannya pada riset mendalam tentang psikologi perkembangan anak. Montessori percaya bahwa anak memiliki dorongan alami untuk belajar—yang ia sebut sebagai inner drive. Tugas orang dewasa bukanlah memaksa anak belajar, melainkan menyediakan kondisi yang memungkinkan potensi itu berkembang secara optimal.

Prinsip Pendidikan Montessori: Anak Bukan Gelas Kosong

 

Salah satu prinsip paling terkenal dari metode Montessori adalah keyakinan bahwa anak bukan gelas kosong yang harus diisi, melainkan individu aktif yang sedang membangun dirinya sendiri. Ada beberapa prinsip utama yang menjadi fondasi pendekatan ini.

Pertama, kemandirian. Dalam kelas Montessori, anak dilatih untuk melakukan banyak hal sendiri—mulai dari memilih aktivitas, merapikan alat belajar, hingga menyelesaikan tugas sesuai ritme mereka. Dari sudut pandang psikologi, ini membantu membangun self-efficacy dan rasa percaya diri sejak dini.

Kedua, kebebasan dalam batasan. Anak memang bebas memilih aktivitas, tetapi tetap ada aturan yang jelas. Kebebasan ini bukan tanpa arah, melainkan dirancang agar anak belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Ketiga, menghormati tahap perkembangan anak. Montessori menekankan bahwa setiap anak memiliki sensitive periods—fase perkembangan di mana mereka sangat peka terhadap keterampilan tertentu, seperti bahasa, gerak, atau keteraturan. Pembelajaran akan jauh lebih efektif jika disesuaikan dengan fase-fase ini.

Lingkungan Belajar yang Disiapkan: Kelas yang Berbicara pada Anak

Dalam metode Montessori, lingkungan belajar bukan sekadar ruang fisik, tapi bagian aktif dari proses pendidikan. Konsep ini dikenal sebagai prepared environment atau lingkungan yang disiapkan.

Ruang kelas Montessori biasanya ditata dengan furnitur berukuran anak, rak terbuka, dan alat peraga yang bisa diakses tanpa bantuan orang dewasa. Tujuannya sederhana tapi mendalam: memberi pesan psikologis bahwa anak dipercaya dan mampu.

Alat belajar Montessori dirancang khusus untuk melibatkan banyak indra—visual, sentuhan, hingga gerak. Pendekatan ini sejalan dengan temuan psikologi modern yang menekankan pentingnya experiential learning dan pembelajaran sensorimotor pada anak.

Menariknya, kelas Montessori juga sering menggabungkan anak dari berbagai usia dalam satu ruangan. Interaksi lintas usia ini membantu perkembangan sosial, empati, dan keterampilan kerja sama. Anak yang lebih besar belajar menjadi panutan, sementara yang lebih kecil mendapatkan model belajar secara alami.

Pengaruh Metode Montessori Hingga Kini

Hingga tahun 2026, metode Montessori telah digunakan di ribuan sekolah di seluruh dunia—dari Eropa, Amerika, hingga Asia. Bahkan, banyak tokoh dunia seperti pendiri perusahaan teknologi dan pemimpin global yang diketahui pernah mengenyam pendidikan berbasis Montessori.

Dalam dunia psikologi pendidikan modern, prinsip Montessori sering dikaitkan dengan teori self-determination, yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial dalam proses belajar. Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar dengan pendekatan Montessori cenderung memiliki keterampilan regulasi diri dan pemecahan masalah yang lebih baik.

Di Indonesia sendiri, minat terhadap sekolah Montessori terus meningkat. Banyak orang tua mulai menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga tentang membentuk karakter dan kesehatan mental anak.

Saatnya Melihat Anak sebagai Subjek, Bukan Objek Pendidikan!

Maria Montessori telah mengajarkan kita satu hal penting: anak adalah individu yang kompeten sejak lahir. Mereka tidak perlu “dibentuk” secara paksa, melainkan didampingi dengan penuh hormat dan kepercayaan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, pendekatan Montessori mengingatkan kita untuk kembali pada esensi pendidikan—membantu anak tumbuh menjadi manusia yang mandiri, percaya diri, dan bahagia.

Jadi, kalau kamu seorang orang tua, pendidik, atau pemerhati psikologi anak, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya: sudahkah kita memberi ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri? Yuk, mulai refleksi dan cari tahu lebih dalam tentang pendekatan pendidikan yang benar-benar berpihak pada anak.




Cari Beasiswa Nggak Pake Ribet: Ini Aplikasi & Website Andalan Tahun 2026

Beasiswa

Prolite – Cari Beasiswa Nggak Pake Ribet: Ini Aplikasi & Website Andalan Tahun 2026

Ngomongin beasiswa, banyak orang langsung mikir, “Ah, itu cuma buat yang super pintar atau anak kampus top.” Padahal, secara psikologis, hambatan terbesar justru sering datang dari rasa minder, takut gagal, dan kebingungan harus mulai dari mana.

Untungnya, tahun 2026 ini sudah banyak aplikasi dan website yang dirancang khusus untuk membantu kamu menemukan beasiswa sesuai kebutuhan dan profil.

Mulai dari beasiswa dalam negeri, luar negeri, fully funded, sampai yang berbasis komunitas dan AI. Artikel ini bakal jadi teman curhat sekaligus peta jalan buat kamu yang lagi serius (atau baru kepikiran) cari beasiswa. Yuk, kita bahas satu per satu!

Situs Web Populer & Terlengkap untuk Cari Beasiswa

Beasiswa

Kalau kamu tipe yang suka riset mandiri dan banding-bandingin peluang, website beasiswa adalah tempat paling aman buat mulai.

: Kalender Beasiswa Paling Rapi & Fitur AI Cerdas

termasuk salah satu platform beasiswa paling populer di Indonesia saat ini. Kenapa? Karena mereka menyediakan kalender beasiswa yang terstruktur, info yang relatif terverifikasi, plus konten edukatif seperti kelas persiapan beasiswa.

Yang bikin beda di 2026, sudah mengembangkan fitur pencocokan beasiswa berbasis AI. Kamu cukup isi profil—jenjang pendidikan, minat studi, tujuan negara—lalu sistem akan merekomendasikan beasiswa yang paling relevan. Cocok banget buat kamu yang gampang overwhelmed sama terlalu banyak pilihan.

& : Gudangnya Info Beasiswa Dalam & Luar Negeri

Dua situs ini bisa dibilang klasik tapi konsisten. dan rutin mengunggah info beasiswa S1, S2, S3, baik dari pemerintah, universitas, maupun lembaga swasta.

Kelebihannya, informasinya cukup detail dan mudah dipahami, mulai dari syarat, timeline, sampai tips pendaftaran. Buat pemula yang baru pertama kali daftar beasiswa, dua situs ini bisa jadi tempat belajar sekaligus referensi utama.

: Ramah Bahasa Indonesia, Cocok untuk Semua Jenjang

Kalau kamu lebih nyaman baca penjelasan panjang dalam bahasa Indonesia, layak masuk bookmark. Situs ini memuat info beasiswa dari jenjang S1 sampai S3, lengkap dengan penjelasan teknis yang nggak terlalu ribet.

juga sering membahas beasiswa yang kurang terekspos tapi realistis untuk pelajar Indonesia, jadi peluangmu nggak harus selalu bersaing di jalur yang super ketat.

Scholarship Positions & ASEAN Scholarships: Fokus Beasiswa Luar Negeri

Buat kamu yang targetnya kuliah ke luar negeri, Scholarship Positions dan ASEAN Scholarships adalah platform internasional yang cukup kredibel. Mereka rutin mengunggah info beasiswa dari universitas dan lembaga pendidikan di Eropa, Australia, Amerika, dan kawasan Asia.

Walau mayoritas kontennya berbahasa Inggris, informasinya ringkas dan langsung ke poin penting. Cocok buat kamu yang sudah siap mental dan administrasi untuk studi global.

PPI Dunia & PPI Negara: Info Paling Dekat dengan Realita

Portal resmi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai negara sering jadi sumber info beasiswa yang underrated tapi super akurat. Selain info resmi, kamu juga bisa dapat insight dari pengalaman langsung pelajar Indonesia di negara tujuan.

Biasanya, PPI membagikan info beasiswa, webinar, sampai sesi sharing yang jujur soal kehidupan kuliah dan hidup di luar negeri.

Aplikasi Pencarian Beasiswa yang Praktis di Genggaman

 

 

 

Kalau kamu lebih sering buka HP daripada laptop, aplikasi beasiswa jelas jadi solusi paling realistis.

Aplikasi LPDP: Wajib Punya Buat Pejuang Beasiswa Negara

Aplikasi resmi LPDP yang tersedia di Play Store dan App Store memudahkan kamu mengakses info terbaru seputar beasiswa LPDP. Mulai dari jadwal pendaftaran, pengumuman resmi, sampai update kebijakan terbaru—semuanya langsung dari sumber utama.

Dengan notifikasi real-time, kamu nggak perlu takut ketinggalan deadline penting.

Scholarships & Grants App: Alternatif Global yang Simpel

Aplikasi ini cukup populer di Google Play untuk mencari berbagai peluang beasiswa dan hibah internasional. Interface-nya sederhana dan memungkinkan kamu melakukan pencarian berdasarkan negara, bidang studi, atau jenjang pendidikan.

Walau tidak spesifik untuk Indonesia, aplikasi ini cocok buat kamu yang ingin memperluas peluang ke skala global.

Pencarian Beasiswa Berbasis AI & Komunitas: Cara Baru yang Lebih Personal

Tahun 2026, cara cari beasiswa sudah naik level. Bukan cuma soal rajin, tapi juga soal strategi dan personalisasi.

AI di : Beasiswa Sesuai Profil, Bukan Sekadar Populer

Fitur AI membantu menyaring beasiswa berdasarkan kecocokan profil. Ini penting karena banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, tapi karena salah target.

Dengan sistem ini, kamu bisa fokus ke peluang yang benar-benar realistis dan relevan.

Gemini AI: Asisten Pintar untuk Riset Beasiswa

Gemini AI bisa dimanfaatkan untuk mencari dan merangkum info beasiswa dengan prompt tertentu, misalnya: “beasiswa S2 fully funded Eropa untuk mahasiswa Indonesia 2026”. AI akan membantu menyusun gambaran awal sebelum kamu riset lebih dalam.

Scholarships360 & Fastweb: Platform Global Berbasis Data Pengguna

Dua platform ini populer di kalangan pelajar internasional karena menggunakan data pengguna untuk mencocokkan beasiswa yang sesuai. Semakin lengkap profilmu, semakin akurat rekomendasinya.

Beasiswa Itu Ada, Tinggal Kamu Mau Jemput atau Tidak

Mencari beasiswa di 2026 sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu. Tantangannya bukan lagi soal akses informasi, tapi konsistensi dan keberanian untuk mencoba.

Mulailah dari satu platform, satu aplikasi, dan satu langkah kecil hari ini. Siapa tahu, dari scrolling santai malam ini, kamu justru menemukan peluang yang mengubah masa depanmu.

Jadi, siap mulai perjalanan beasiswamu?




Disdik Pastikan Program RMP 2026 Berjalan dengan Lancar

Ilustrasi program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP) (Kapol).

Disdik Pastikan Program RMP 2026 Berjalan dengan Lancar

Prolite – Program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP) yang di berikan untuk pelajar jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung memastikan Program RMP tetap berjalan pada 2026 untuk jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan penyesuaian kebijakan hasil evaluasi (31/1/2026).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Asep Saeful Gufron menyatakan program tersebut difokuskan agar siswa dari keluarga tidak mampu tetap dapat mengakses pendidikan.

Program Rawan Melanjutkan Pendidikan memberikan dukungan operasional sekolah serta intervensi bagi siswa yang berisiko putus sekolah.

“RMP masih berlaku seperti biasa untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, tapi ada evaluasi dari pelaksanaan 2025 sampai sekarang,” ujar Asep Saeful Gufron.

Dinas Pendidikan Kota Bandung menghentikan skema bantuan RMP yang sebelumnya disalurkan langsung kepada orang tua murid.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk mencegah tumpang tindih bantuan dengan Program Indonesia Pintar dari pemerintah pusat.

“Yang RMP untuk keperluan murid yang diberikan langsung ke orang tua kami hentikan karena sudah ada Program Indonesia Pintar,” ujar Asep Saeful Gufron.

Anggaran RMP pada 2026 berada di kisaran hampir Rp40 miliar, turun dari tahun sebelumnya yang mendekati Rp43 miliar.

Jumlah penerima manfaat tetap meningkat seiring bertambahnya kuota penerimaan peserta didik baru.

“Kalau peningkatan jumlah penerima pasti ada karena sejalan dengan penerimaan peserta didik baru,” kata Asep Saeful Gufron.

Penyaluran RMP dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bandung diarahkan khusus ke sekolah swasta.

Sekolah negeri dibiayai melalui skema pembiayaan pendidikan lain yang telah tersedia.

Dinas Pendidikan Kota Bandung melakukan monitoring dan evaluasi rutin untuk memastikan bantuan digunakan sesuai peruntukan.

Penetapan penerima manfaat mengacu pada data Dinas Sosial dan akan diperkuat basis data sosial ekonomi nasional dengan segmentasi desil satu hingga desil lima.

Orang tua murid mengapresiasi program ini karena membantu kebutuhan pendidikan keluarga rentan.

Hasil evaluasi menemukan sebagian kecil penerima menyalahgunakan bantuan seperti seragam, sepatu, tas, dan buku.

“Walaupun tidak semuanya, ini menjadi bahan perbaikan ke depan,” ujar Asep Saeful Gufron.

Dinas Pendidikan Kota Bandung menegaskan bantuan rawan melanjutkan pendidikan hanya boleh digunakan untuk mendukung kegiatan belajar siswa dari keluarga tidak mampu.

“Rawan Melanjutkan Pendidikan ini amanat untuk membantu anak didik yang kurang mampu dan harus digunakan sesuai mekanisme,” ujar Asep Saeful Gufron.




Bukan Cuma Bisa Baca-Tulis: Yuk Kenali Jenis Literasi yang Sering Terlupakan di Era Digital

Prolite – Bukan Cuma Bisa Baca-Tulis: Yuk Kenali Jenis Literasi yang Sering Terlupakan di Era Digital

Kalau dulu orang dianggap melek literasi saat bisa baca dan nulis, sekarang standar itu sudah jauh berkembang. Di era yang penuh data, visual, dan opini berseliweran di internet, kemampuan literasi kita diuji lebih dalam.

Banyak orang bisa membaca teks, tapi belum tentu bisa membaca data atau grafik dengan benar. Bahkan, belum tentu bisa membedakan mana informasi valid dan mana yang cuma opini tanpa dasar.

Di sinilah pentingnya tiga jenis literasi yang sering terabaikan: literasi data, literasi visual, dan literasi kritis. Ketiganya jadi kunci agar kita nggak mudah tertipu headline bombastis, salah paham soal grafik ekonomi, atau ikut menyebar hoaks yang tampak meyakinkan. Yuk, kenalan satu per satu 3 jenis literasi!

1. Literasi Data: Belajar Memahami Angka di Balik Informasi

Pernah lihat berita dengan kalimat, “Jumlah kasus meningkat 300%”? Nah, literasi data membuat kita bisa nggak langsung percaya begitu saja. Literasi data adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan data dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk membaca tren, statistik, hingga memahami konteks di balik angka.

Menurut riset dari Data Literacy Project (2025), hanya 27% masyarakat global yang merasa percaya diri menafsirkan data dengan benar. Padahal, kemampuan ini penting banget buat banyak hal: dari membaca hasil survei publik, menilai efektivitas kebijakan, sampai memahami data keuangan pribadi.

Contohnya, kalau kamu lihat grafik tentang tingkat pengangguran, literasi data membantu kamu bertanya, “Sumbernya dari mana?”, “Metodenya apa?”, atau “Apakah angka ini sudah disesuaikan dengan populasi?”. Dengan begitu, kamu nggak gampang termakan angka tanpa konteks.

2. Literasi Visual: Nggak Semua Grafik Itu Jujur

Di media sosial, infografis dan visualisasi data sering banget muncul. Tapi tahu nggak? Banyak visual yang dibuat untuk menggiring opini, bukan memberi pemahaman. Nah, di sinilah literasi visual berperan: kemampuan membaca, menafsirkan, dan mengevaluasi makna dari visual data seperti grafik, diagram, atau infografis.

Riset dari University of Amsterdam (2025) menyebutkan bahwa literasi visual jadi salah satu kemampuan paling krusial di dunia digital. Sebab, manusia cenderung lebih mudah percaya pada sesuatu yang divisualkan, apalagi kalau tampilannya keren dan profesional.

Misalnya, grafik batang bisa dibuat tampak “drastis” hanya dengan mengubah skala sumbu Y. Atau infografis politik bisa menonjolkan data tertentu untuk menimbulkan kesan positif atau negatif. Jadi, literasi visual bikin kita bisa melihat di balik tampilan dan bertanya: “Apakah visual ini mewakili data sebenarnya?”

Selain itu, literasi visual juga bermanfaat dalam dunia kerja modern. Banyak perusahaan kini menilai kemampuan karyawan untuk memahami dashboard data atau presentasi visual sebagai bagian dari kompetensi penting.

3. Literasi Kritis: Skill Wajib di Tengah Lautan Informasi

Kalau dua literasi tadi membantu kita membaca data dan visual, literasi kritis adalah kemampuan untuk mempertanyakan dan mengevaluasi sumber informasi. Di era media sosial, setiap orang bisa jadi “penerbit berita”. Tapi nggak semua informasi yang viral itu benar.

Literasi kritis berarti kita berani bertanya:

  • Siapa yang membuat informasi ini?
  • Apa motifnya?
  • Adakah bukti yang mendukung klaim tersebut?
  • Apakah ada bias yang memengaruhi penyajian informasinya?

Dengan literasi kritis, kita bisa menyusun opini pribadi yang berdasar fakta, bukan cuma ikut arus tren atau komentar netizen. Bahkan dalam konteks akademik, literasi kritis membuat siswa dan mahasiswa bisa menulis argumen yang kuat dan logis.

Menurut laporan UNESCO 2025, masyarakat yang memiliki literasi kritis tinggi lebih kebal terhadap misinformasi dan lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi publik yang sehat.

Kenapa Tiga Jenis Literasi Ini Penting di Dunia Modern?

Karena dunia digital saat ini nggak lagi hanya dipenuhi teks, tapi juga data, angka, grafik, dan opini visual. Kita digempur informasi dari berbagai arah — mulai dari berita politik, statistik ekonomi, sampai meme edukatif. Tanpa literasi data, visual, dan kritis, kita bisa jadi korban salah tafsir.

Bayangkan saja, banyak orang percaya klaim “produk A paling laku di dunia” hanya karena melihat grafik tanpa tahu sumbernya. Atau salah menilai situasi ekonomi hanya karena salah membaca tren data. Jadi, tiga literasi ini bukan cuma penting buat akademisi, tapi juga buat siapa pun yang hidup di dunia digital.

Cara Praktis Melatih Jenis Literasi : Data, Visual, dan Kritis

Biar nggak cuma teori, berikut beberapa langkah kecil yang bisa kamu mulai dari sekarang:

  • Baca sumber berita dari beberapa media. Bandingkan cara mereka menyajikan data dan narasi.
  • Pelajari dasar statistik ringan. Misalnya cara membaca persentase, rata-rata, dan grafik sederhana.
  • Analisis infografis di media sosial. Coba cari tahu: siapa pembuatnya, apa sumber datanya, dan apakah skalanya proporsional.
  • Latih berpikir kritis. Saat membaca berita atau opini, tanyakan: “Apakah ada bukti konkret?”
  • Gunakan data dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, buat keputusan belanja atau pekerjaan berdasarkan angka, bukan sekadar perasaan

Yuk, Jadi Pembaca yang Cerdas, Bukan Sekadar Cepat!

Di era di mana semua orang bisa jadi “pemberi informasi”, kemampuan literasi bukan cuma soal membaca cepat, tapi membaca dengan cermat. Literasi data, visual, dan kritis bukan cuma bikin kamu lebih pintar, tapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Mulailah dari hal kecil: baca grafik dengan teliti, pertanyakan sumber berita, dan beranikan diri untuk bilang, “Tunggu, datanya dari mana?” Siapa tahu, dari langkah sederhana itu, kamu bisa jadi bagian dari generasi yang nggak cuma pintar, tapi juga sadar informasi!




Yuk Bangun Budaya Literasi di Sekitarmu! Tips Seru untuk Orang Tua & Guru

Prolite – Yuk Bangun Budaya Literasi di Rumah dan Komunitas! Tips Seru untuk Orang Tua & Guru

Di era digital seperti sekarang, literasi bukan cuma soal bisa baca dan nulis. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memahami, berpikir kritis, dan mengolah informasi. Nah, masalahnya, banyak anak (dan bahkan orang dewasa) yang mulai kehilangan minat baca karena tergoda gadget dan media sosial.

Padahal, budaya literasi itu penting banget buat pengembangan diri dan masa depan. Jadi, gimana caranya membangun budaya literasi di rumah atau komunitas supaya kegiatan membaca terasa menyenangkan, bukan membosankan? Yuk, simak tips-tipsnya!

Mengapa Budaya Literasi Itu Penting?

Mungkin kamu pernah dengar pepatah, “Buku adalah jendela dunia.” Tapi sebenarnya, literasi bukan cuma soal buku. Literasi membantu kita memahami dunia di sekitar, berpikir lebih kritis, dan bisa mengekspresikan diri dengan lebih baik. Dengan literasi yang kuat, anak-anak tumbuh jadi pribadi yang percaya diri, punya empati, dan mudah beradaptasi.

Menurut laporan UNESCO Global Education Monitoring 2024, negara dengan tingkat literasi tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan masyarakat yang lebih produktif. Jadi, literasi itu bukan sekadar urusan nilai pelajaran, tapi juga bekal penting untuk kehidupan sosial, karier, dan kesejahteraan mental.

Peran Orang Tua: Jadi Role Model Literasi

Anak-anak meniru apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar. Jadi, kalau orang tua ingin anaknya suka membaca, ya orang tuanya juga perlu menunjukkan kebiasaan itu. Beberapa langkah sederhana bisa dimulai dari sini:

  • Sediakan akses bacaan di rumah. Nggak harus rak buku besar, cukup beberapa buku anak, majalah, atau komik edukatif di sudut ruangan yang mudah dijangkau.
  • Batasi waktu layar. Kurangi penggunaan gadget, terutama saat waktu keluarga. Ganti dengan sesi membaca santai bareng.
  • Diskusi ringan setelah membaca. Tanyakan ke anak, apa yang mereka suka dari cerita itu, atau nilai apa yang bisa dipelajari. Ini melatih anak berpikir kritis dan mengungkapkan pendapat.
  • Jadikan membaca sebagai rutinitas harian. Misalnya, membaca 15 menit sebelum tidur. Dengan begitu, membaca terasa seperti kebiasaan yang alami, bukan kewajiban.

Menurut The Reading Agency UK (2025), anak-anak yang sering melihat orang tuanya membaca cenderung memiliki minat literasi dua kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak.

Peran Guru & Sekolah: Menyulut Semangat Literasi Sejak Dini

 

Sekolah adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan cinta baca dan tulis. Guru punya peran penting, bukan cuma mengajarkan teori, tapi juga menanamkan rasa senang terhadap literasi.

Beberapa ide yang bisa dilakukan guru di sekolah:

  • Quiet Reading Time (Waktu Membaca Tenang). Sediakan 10–15 menit setiap pagi untuk membaca buku pilihan sendiri.
  • Klub Buku Sekolah. Siswa bisa berbagi buku favorit dan mendiskusikan isi cerita secara santai.
  • Literasi Digital. Ajarkan anak menggunakan internet untuk mencari informasi positif, menulis blog sederhana, atau membuat resensi buku online.

Dengan pendekatan yang kreatif, sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga jadi ruang eksplorasi ide dan imajinasi. Menurut riset dari Edutopia (2025), siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan literasi sekolah memiliki peningkatan kemampuan menulis hingga 40% dalam satu semester.

Peran Komunitas: Menyebarkan Semangat Lewat Kebersamaan

Budaya literasi nggak bisa tumbuh sendiri. Komunitas punya peran penting dalam memperluas gerakan membaca. Beberapa kegiatan yang bisa dicoba:

  • Grup Baca atau Book Club Lokal. Kumpulkan teman-teman sekampung atau sekompleks buat baca buku bareng setiap minggu.
  • Workshop Menulis & Cerita. Ajak anak dan remaja ikut kelas menulis puisi, cerpen, atau storytelling.
  • Tukar Buku (Book Swap). Aksi kecil tapi seru. Siapa pun bisa menukar buku yang sudah dibaca dengan buku lain.
  • Kampanye Literasi. Adakan acara baca puisi di taman, pameran buku lokal, atau kegiatan sosial berbasis literasi.

Komunitas bisa jadi jembatan penting buat memperkuat rasa kebersamaan dan mendorong anak-anak (juga orang dewasa!) agar terus belajar tanpa merasa sendirian.

Langkah Konkret Membangun Literasi di Rumah

Kalau kamu ingin mulai dari rumah, ini beberapa langkah mudah yang bisa langsung dicoba:

  1. Buat sudut baca yang nyaman. Cukup dengan bantal empuk, penerangan hangat, dan rak kecil.
  2. Challenge membaca 15 menit per hari. Catat buku yang sudah dibaca di papan kecil, beri stiker tiap kali selesai membaca.
  3. Diskusi akhir pekan. Bahas buku atau artikel menarik bareng keluarga.
  4. Gunakan media digital dengan bijak. Ada banyak e-book gratis dan podcast edukatif yang bisa dimanfaatkan.

Langkah kecil ini bisa membentuk rutinitas besar kalau dilakukan secara konsisten. Ingat, literasi itu tumbuh dari kebiasaan, bukan paksaan.

Mulai dari Satu Buku, Bangun Seribu Ide

Budaya literasi nggak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Cukup dari satu buku, satu cerita, atau satu percakapan di meja makan. Dari sana, rasa ingin tahu dan semangat belajar bisa tumbuh perlahan.

Yuk, jadi bagian dari gerakan literasi! Entah kamu orang tua, guru, atau anggota komunitas, setiap tindakan kecilmu bisa membuka dunia baru bagi anak-anak dan lingkunganmu. Karena, pada akhirnya, literasi bukan sekadar membaca kata-kata—tapi memahami kehidupan.




Bukan Sekadar Ketua: Belajar Kepemimpinan & Kolaborasi dari Psikologi Pendidikan

Kepemimpinan

Prolite – Bukan Sekadar Ketua: Membangun Kepemimpinan & Kerja Sama di Tugas Kelompok Lewat Psikologi Pendidikan

Siapa pun yang pernah mendapat tugas kelompok pasti tahu: kerja tim bisa jadi pengalaman menyenangkan — atau justru penuh drama. Dari anggota yang ghosting sampai ketua yang terlalu dominan, semuanya bisa memengaruhi hasil akhir.

Tapi, ternyata kunci sukses tugas kelompok bukan cuma soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang bisa memimpin dan membangun kerja sama. Menurut penelitian psikologi pendidikan terbaru (2025), dinamika kelompok yang sehat bisa meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan emosional anggota tim.

Nah, kalau kamu ingin jadi ketua yang disukai sekaligus efektif, yuk pahami dulu dasar psikologinya!

Psikologi Pendidikan dan Dinamika Kelompok: Bukan Sekadar Bagi Tugas

Dalam psikologi pendidikan, kelompok dipandang sebagai mini-society — ada interaksi sosial, peran, dan motivasi yang bekerja di dalamnya. Penelitian terbaru dari Journal of Educational Psychology (2025) menunjukkan bahwa kelompok yang heterogen (beragam kemampuan dan latar belakang) justru cenderung lebih kreatif, asal pemimpinnya mampu memfasilitasi kerja sama.

Pemimpin kelompok ideal bukan hanya pengatur tugas, tapi juga fasilitator motivasi. Ia tahu kapan harus mendorong, kapan harus mendengarkan. Motivasi intrinsik (dorongan dari dalam diri untuk berkontribusi) jauh lebih efektif daripada sekadar ancaman nilai buruk. Jadi, kalau kamu jadi ketua, tanamkan semangat bahwa tugas ini bukan cuma kewajiban, tapi kesempatan tumbuh bareng-bareng.

Membangun Kepercayaan dan Rasa Tanggung Jawab: Fondasi Tim yang Solid

Salah satu faktor terpenting dalam kerja kelompok adalah trust. Tanpa kepercayaan, semua anggota akan sibuk curiga dan defensif, bukan fokus menyelesaikan tugas. Psikolog organisasi Amy Edmondson menyebut konsep ini sebagai psychological safety — rasa aman untuk berpendapat tanpa takut disalahkan.

Cara membangun kepercayaan? Mulai dari hal sederhana: tepat waktu, terbuka soal progres, dan menghargai komitmen anggota. Jangan langsung menyalahkan kalau ada yang telat menyerahkan bagian; tanyakan dulu penyebabnya dan tawarkan solusi bersama.

Selain itu, kenali kompetensi masing-masing. Kalau seseorang jago desain, beri dia tanggung jawab di bagian visual. Kalau ada yang kuat dalam riset, percayakan pencarian data padanya. Ketika setiap orang merasa perannya penting, rasa tanggung jawab tumbuh dengan sendirinya.

Teknik Motivasi ala Psikologi: Dari Micro Goals sampai Reward Internal

Ketua Kelompok

Menjaga semangat kelompok itu tricky. Di awal, semua bersemangat. Tapi makin lama, energi bisa menurun. Di sinilah teknik motivasi dari psikologi pendidikan bisa membantu.

  1. Setting micro goals – Daripada fokus pada tugas besar yang terasa berat, bagi menjadi target kecil (misal: “Hari ini kita selesaikan outline dulu.”). Ini membuat tim merasa lebih sering mencapai keberhasilan kecil.
  2. Reward internal – Nggak harus selalu imbalan fisik. Pujian, pengakuan, dan ucapan terima kasih sudah cukup membuat anggota merasa dihargai.
  3. Social accountability – Diskusikan progres secara terbuka di grup chat atau pertemuan mingguan. Saat semua tahu siapa yang sudah berkontribusi, motivasi untuk tetap aktif meningkat.

Kombinasi tiga hal ini bisa menjaga energi kelompok tetap stabil sampai tugas selesai.

Kepemimpinan Inklusif: Ruang Aman untuk Semua Suara

Kepemimpinan yang efektif bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang bisa membuat semua orang merasa didengar. Dalam kelompok, selalu ada anggota yang pendiam tapi punya ide bagus. Pemimpin yang bijak tahu cara mengeluarkan potensi itu.

Kamu bisa mulai dengan membuat rundown rapat yang memberi ruang untuk setiap anggota menyampaikan pendapat. Hindari dominasi satu suara saja. Kalau ada ide yang berbeda, jangan langsung ditolak; gunakan teknik reframing — ubah sudut pandang agar ide tersebut bisa diolah bersama.

Penelitian dari Harvard Educational Review (2025) menunjukkan bahwa lingkungan belajar inklusif meningkatkan partisipasi hingga 40%. Jadi, keberhasilan kelompok seringkali dimulai dari empati dan keterbukaan pemimpinnya.

Psikologi Konflik: Bedakan Ide vs Personal

Adanya konflik ide dalam kelompok itu wajar, tapi yang berbahaya adalah ketika konflik ide berubah jadi konflik personal. Dalam psikologi sosial, ini disebut relationship conflict, yang bisa merusak kepercayaan dan fokus kerja.

Solusinya adalah komunikasi asertif: sampaikan ketidaksetujuan dengan tetap menghargai lawan bicara. Contoh: daripada bilang, “Kamu salah,” lebih baik, “Aku rasa cara itu bisa kita pertimbangkan, tapi gimana kalau kita coba opsi lain juga?”

Jika situasi mulai memanas, pemimpin bisa berperan sebagai mediator — netral, mendengarkan dua sisi, dan mencari titik temu.

Selain itu, jadikan konflik sebagai bahan refleksi. Kadang perbedaan pendapat justru memunculkan ide terbaik, asal diarahkan dengan baik. Seperti kata pepatah: api memang panas, tapi kalau dikendalikan bisa jadi cahaya.

Jadi Pemimpin yang Bikin Orang Mau Ikut, Bukan Takut!

Kepemimpinan di tugas kelompok bukan soal siapa yang paling dominan, tapi siapa yang bisa membuat semua anggota merasa penting dan terlibat.

Dengan memahami prinsip-prinsip psikologi pendidikan — seperti motivasi, kepercayaan, dan komunikasi asertif — kamu bisa menciptakan kelompok yang bukan cuma produktif, tapi juga harmonis.

Jadi, kalau nanti kamu terpilih (atau ditunjuk paksa) jadi ketua kelompok, jangan panik. Jadilah pemimpin yang bisa menginspirasi, bukan memerintah.

Karena pada akhirnya, tugas kelompok bukan cuma soal nilai, tapi tentang belajar bekerja sama, memahami orang lain, dan tumbuh bareng dalam prosesnya. Siap jadi pemimpin yang bikin tim kamu bangga?




Kasus Pelecehan di SMK Pasundan 2 Bandung Terus Berlanjut, 4 Laporan Sudah Diterima Polrestabes Bandung

Polrestabes Bandung bentuk tim khusus untuk mengusut peristiwa dugaan pelecehan yang terjadi di SMK Pasundan 2 Bandung (Tribatanews).

Kasus Pelecehan di SMK Pasundan 2 Bandung Terus Berlanjut, 4 Laporan Sudah Diterima Polrestabes Bandung

Prolite – Kasus dugaan pelecehan oleh oknum guru yang terjadi di lingkungan sekolah SMK Pasusndan 2 masoh terus berlanjut.

Dalam hal ini Polrestabes Bandung sudah menerima 4 laporan dari alumni dan siswa SMK Pasusndan 2 sendiri.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Budi Sartono, mengatakan, “Kami sudah membentuk tim khusus agar kasus ini bisa diterangkan dengan baik dan cepat,” .

Pertama kesus dugan elecehan terungkap karena adanya laporan dari salah satu korban pada 23 September 2025 lalu.

Usai adanya laporan dari salah satu korban tersebut Polrestabes Bandung melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dan membuat laporan.

Namun tak lama berselang kepolisian kembali menerima laporan dari beberapa orang juga sebagai korban tindakan cabul yang dilakukan oleh oknum guru SMK Pasundan 2 Bandung.

“Pada tanggal 25 September, polisi kembali mendapatkan informasi setelah didatangi 10 orang yang kemudian membuat tiga laporan ihwal dugaan tindakan cabul tersebut. Jadi, ada 4 LP yang sudah dilapor di jajaran Polrestabes Bandung. Dari keempat LP tersebut, ada 4 orang yang juga terlapor, yang dilaporkan untuk kasus ini,” ujar Budi.

Keempat terlapor atas dugaan pelecehan terdiri atas oknum guru dan sekuriti SMK Pasundan 2.

“Dari 4 orang yang diduga terlapor, ataupun dilaporkan, ada dugaan guru, dan juga ada security,” tambah Budi.

Pihak kepolisisan berencana akan memanggil saksi tambahan untuk dimintai keterangan lebih lanjut atas kejelasan dugaan peristiwa pelecehan yang terjadi di lingkungan sekolah, yang memang seharusnya menjadi tempat aman untuk menuntut ilmu.




Mengawal Demokrasi Lokal: FISIP UNIBBA Hadirkan Ketua Bawaslu

Mengawal Demokrasi Lokal FISIP UNIBBA Hadirkan Ketua Bawaslu (dok).

Mengawal Demokrasi Lokal: FISIP UNIBBA Hadirkan Ketua Bawaslu

Prolite – FISIP Universitas Bale Bandung (UNIBBA) menggelar kuliah umum bertajuk “Mengawal Demokrasi di Tingkat Lokal: Temuan Bawaslu dalam Dinamika Politik Kabupaten Bandung” pada hari Sabtu (27/9). Dalam kesempatan ini, Ketua Bawaslu Kabupaten Bandung hadir sebagai pembicara utama untuk membedah berbagai dinamika politik lokal, termasuk tantangan pengawasan pemilu serta upaya menjaga kualitas demokrasi di tingkat daerah, khususnya Kabupaten Bandung, didampingi Dosen Tetap dari FISIP UNIBBA, yakni .

Ketua Bawaslu periode 2023-2028, yakni Kahpiana, menjelaskan secara komprehensif terkait temuan-temuan maupun pelanggaran pemilu yang terjadi menjelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2024 di Kabupaten Bandung. Ragam temuan secara komprehensif dijelaskan mulai dari temuan dan persentasi politik uang, pelanggaran alat peraga kampanye, hingga konflik terbuka antara tim sukses di lapangan. Bawaslu mengklaim bahwa pemilu 2024 telah terwujud secara kondusif, jujur, dan adil.

dok
dok

Sebagai bagian dari iron stock, peserta yang terdiri dari mahasiswa Ilmu Pemerintahan dari seluruh angkatan, bergantian memberikan pertanyaan, sekaligus keluh kesah yang terjadi di lapangan. Mengingat, tidak sedikit pula mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNIBBA yang pada saat pemilihan umum 2024 berlangsung, bertugas sebagai petugas pemilu baik di tingkat Desa maupun Kecamatan. Kegiatan berlangsung hidup karena adanya agenda pertukaran opini, sharing pengalaman, dan pembagian cindera mata dari penyelenggara maupun narasumber dari Bawaslu. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNIBBA juga banyak berbagi pengalaman dari kegiatan belajar mengajar, mengingat, bagian dari kurikulum FISIP UNIBBA mendorong mahasiswa untuk terjun ke lapangan dalam program magang, baik di Partai Politik, KPU, maupun Bawaslu. Sehingga, kehadiran Kahpiana beserta rombongan Bawaslu bukanlah pertemuan baru, melainkan reuni kecil bagi sebagian mahasiswa.

Dekan FISIP UNIBBA, Rendy Adiwilaga, yang juga aktif menulis tentang demokrasi dan partai politik baik Jurnal maupun buku, menanggapi kegiatan ini secara positif. Menurutnya “kami menginisiasi acara ini sebagai upaya kami mempersiapkan lulusan yang tidak cuma fasih dalam teori, tapi juga peka terhadap situasi dan dinamika lapangan sebagai bagian dari serunya demokrasi. Saya berharap, apa yang saya tulis, juga kami dosen-dosen yang concern di bidang ini, dapat dibuktikan oleh mahasiswa dari pengamatannya melalui point of view pelaksana langsung. Alhamdulillah, respon teman-teman juga positif. Memang ini acara kita bersama”

Di waktu yang berbeda, ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Rifi Rivani Radiansyah, juga menjelaskan “ya acara ini memang acara rutin kami, setiap awal semester kami melaksanakan kuliah umum tidak hanya sebagai seremoni belaka, tapi kami juga mempersiapkan mahasiswa agar ‘meregangkan’ otaknya untuk bersiap menyambut semester yang seru ke depannya. Kuliah bukan sesuatu yang menakutkan, tapi sesuatu yang men-challenge teman-teman mahasiswa agar selalu terus updating dan menjadi manusia lebih baik lagi di hari esok”.

FISIP UNIBBA merupakan fakultas yang fokus pada keilmuan sosial politik, dan merupakan satu-satunya di Bandung Selatan. Selain mengusung tagline “harmonis, humanis, progresif”, FISIP UNIBBA juga memperkenalkan dirinya sebagai kampus “sadar HAM, ramah gender, dan anti korupsi”. Dekan FISIP UNIBBA dalam wawancara lanjutan juga menjelaskan bahwa ke depan, FISIP UNIBBA akan dirancang sebagai laboratorium negarawan, sebagai lanjutan dari visi misinya menciptakan lulusan berintegritas dan anti korupsi.

Kegiatan kuliah umum sendiri merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap awal semester baik genap maupun ganjil. Setelah sebelumnya mengundang praktisi birokrasi, anggota legislatif, maupun pakar bereputasi nasional, di tahun ini, FISIP UNIBBA mengundang perwakilan praktisi dari kalangan profesional. Diharapkan ke depan, FISIP UNIBBA mampu melebarkan sayap dan reputasinya dengan mengundang narasumber skala nasional maupun internasional. Dari Bandung Selatan, untuk Indonesia dan dunia, salam hangat dari FISIP UNIBBA.




Mendikdasmen Larang Game Roblox Dimainkan Oleh Anak-anak

Ilustrasi Game Roblox (telkomsel).

Mendikdasmen Larang Game Roblox Dimainkan Oleh Anak-anak

Prolite – Aplikasi game Roblox mungkin sudah tidak asing lagi, permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak ini kini dilarang untuk dimainkan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, baru-baru ini menyampaikan larangan kepada anak-anak untuk bermain game Roblox.

Menurutnya, game ini memuat unsur kekerasan yang dikhawatirkan dapat ditiru oleh anak-anak dalam kehidupan nyata.

Maka dari kepada para siswa di imbau untuk tidak terlalu lama bermain ponsel dan jauhi dari konten kekerasan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti

“Itu kan banyak kekerasan ya di game itu, kadang-kadang anak-anak ini tidak memahami bahwa yang mereka lihat itu kan sebenarnya sesuatu yang tidak nyata,” ujar Abdul Mu’ti sebagaimana dikutip dari .

“Sehingga karena itu kadang-kadang praktik kekerasan yang ada di berbagai game itu, itu memicu kekerasan di kehidupan sehari-hari anak-anak,” lanjutnya.

Game yang satu ini memang sangat popular di kalangan anak-anak terutama di kalangan anak usia 13 tahun ke bawah.

Aplikasi Roblok sendiri dikategorikan sebagai game ramah anak oleh Play Store, dengan catatan perlu pengawasan dari orang tua.

Lewat fitur Roblox Studio, pengguna bisa mendesain permainan yang kemudian bisa dibagikan dan dimainkan oleh orang lain.

Di dalamnya tersedia jutaan game dari berbagai genre, mulai dari balapan, petualangan, memasak, memancing, hingga bertani.

Game yang resmi diluncurkan ke public pada tahun 2006 ini langsung diminati banyak pengguna aktif bahkan hingga saat ini jumlahnya terus meningkat hingga 111,8 juta orang.