Jejak Sejarah Tari Jaipong, Identitas Budaya Sunda yang Mendunia

Tari Jaipong

Prolite – Jejak Sejarah Tari Jaipong, Identitas Budaya Sunda yang Mendunia

Kalau bicara soal kesenian Jawa Barat, Tari Jaipong hampir selalu masuk daftar teratas. Gerakannya enerjik, iramanya menghentak, dan ekspresi penarinya penuh percaya diri. Tapi di balik popularitasnya, Jaipong bukan sekadar tarian hiburan. Ia lahir dari proses budaya yang panjang, pertemuan berbagai tradisi lokal, hingga dinamika sosial masyarakat Sunda.

Tari Jaipong bukan tarian kuno yang diwariskan ratusan tahun tanpa perubahan. Justru sebaliknya, Jaipong adalah hasil kreativitas seniman Sunda yang berani bereksperimen, menggabungkan tradisi lama dengan semangat zaman. Inilah yang membuat Jaipong terasa hidup, relevan, dan terus bertahan hingga hari ini.

Akar Sejarah Tari Jaipong dari Tanah Sunda

 

Tari Jaipong berasal dari Jawa Barat dan berkembang pesat di wilayah Karawang dan Bandung. Kelahirannya tidak bisa dilepaskan dari upaya seniman Sunda untuk meramu berbagai kesenian tradisional menjadi satu bentuk tari baru yang segar dan komunikatif.

Beberapa kesenian yang menjadi fondasi utama Jaipong antara lain Ketuk Tilu, Pencak Silat, Wayang Golek, dan tari Topeng Banjet. Dari Ketuk Tilu, Jaipong menyerap pola irama dan interaksi antara penari dan penonton. Dari Pencak Silat, lahir gerakan yang tegas, lincah, dan penuh tenaga. Sementara Wayang Golek dan Topeng Banjet memberi pengaruh pada ekspresi wajah serta dramatika gerak.

Perpaduan inilah yang menjadikan Jaipong berbeda dari tarian tradisional lainnya. Gerakannya tidak kaku, tetapi fleksibel dan ekspresif, mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang dikenal luwes dan komunikatif.

Jaipong dan Era 1970-an: Titik Balik Perkembangannya

Meski akarnya berasal dari tradisi lama, Tari Jaipong mulai dikenal luas pada era 1970-an. Periode ini menjadi fase penting yang menandai lahirnya Jaipong sebagai bentuk seni pertunjukan yang utuh.

Salah satu tokoh kunci dalam perkembangan Jaipong adalah H. Suwanda, seniman asal Karawang. Ia dikenal sebagai pelopor yang mengolah unsur Ketuk Tilu menjadi bentuk tari yang lebih dinamis dan atraktif. Karya-karyanya menjadi dasar lahirnya gaya Jaipongan awal.

Tokoh lain yang tak kalah penting adalah Gugum Gumbira dari Bandung. Gugum melakukan pengembangan lebih lanjut dengan menata gerak, irama musik, serta struktur pertunjukan Jaipong agar lebih rapi dan mudah diterima masyarakat luas. Melalui sentuhan kreatifnya, Jaipong tidak hanya tampil di ruang-ruang rakyat, tetapi juga naik ke panggung pertunjukan formal dan festival seni.

Sejak saat itu, Jaipong mulai menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan dikenal hingga mancanegara sebagai salah satu ikon budaya Jawa Barat.

Dari Mana Asal Nama “Jaipong”?

Nama “Jaipong” sendiri memiliki cerita yang unik. Istilah ini diyakini berasal dari onomatopoeia, yaitu tiruan bunyi kendang dalam musik pengiringnya. Bunyi ritmis seperti “jae-pong, jae-pong” yang sering terdengar dalam tabuhan kendang menjadi identitas musikal yang kuat.

Nama ini mencerminkan karakter Jaipong yang ritmis, menghentak, dan penuh energi. Kendang tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi menjadi pengatur dinamika gerak penari. Hubungan antara penabuh kendang dan penari bersifat dialogis, saling merespons satu sama lain.

Jaipong sebagai Ekspresi Budaya Sunda

Lebih dari sekadar hiburan, Tari Jaipong adalah cerminan ekspresi budaya masyarakat Sunda. Gerakan yang enerjik dan cepat melambangkan keceriaan dan semangat hidup. Sementara gestur yang tegas menunjukkan ketangguhan dan kepercayaan diri.

Ekspresi wajah penari Jaipong juga memainkan peran penting. Tatapan mata, senyum, hingga ekspresi menggoda bukan dimaksudkan sebagai sesuatu yang vulgar, melainkan bentuk komunikasi nonverbal dengan penonton. Ini menunjukkan keterbukaan dan keakraban khas budaya Sunda.

Jaipong sering ditampilkan dalam berbagai perayaan, seperti hajatan, pesta rakyat, festival budaya, hingga penyambutan tamu penting. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan dan identitas komunitas.

Tantangan Sosial dan Kontroversi di Masa Lalu

Pada awal kemunculannya, Tari Jaipong sempat menuai kontroversi. Gerakannya yang dinilai terlalu bebas dan ekspresif dianggap bertentangan dengan norma konservatif oleh sebagian kalangan. Tidak sedikit yang memandang Jaipong sebagai tarian yang terlalu berani.

Namun, seiring waktu, pandangan tersebut mulai bergeser. Jaipong dipahami sebagai bagian dari ekspresi seni yang sah dan memiliki akar budaya yang kuat. Justru dari kontroversi inilah Jaipong menunjukkan daya tahannya sebagai kesenian rakyat yang adaptif terhadap perubahan sosial.

Jaipong di Era Modern: Tetap Relevan dan Dicintai

Hingga kini, Tari Jaipong terus mengalami perkembangan. Banyak koreografer muda yang menghadirkan Jaipong dengan sentuhan kontemporer tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya. Jaipong juga kerap diajarkan di sekolah, sanggar tari, hingga tampil di ajang internasional.

Di era media sosial, Jaipong bahkan menemukan ruang baru. Potongan gerakan Jaipong sering muncul di platform digital, menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mempelajari tarian ini lebih dalam.

Menjaga Jaipong sebagai Warisan Budaya Sunda

Tari Jaipong adalah bukti bahwa budaya tradisional bisa lahir dari proses kreatif dan tetap relevan lintas generasi. Ia bukan hanya warisan seni, tetapi juga identitas dan kebanggaan masyarakat Sunda.

Sebagai generasi masa kini, mengenal sejarah dan makna Jaipong adalah langkah awal untuk ikut menjaga keberlanjutannya. Menonton pertunjukan, belajar menari, atau sekadar membagikan kisahnya—semua bisa menjadi bentuk dukungan agar Jaipong terus hidup dan menari di tengah zaman yang terus berubah.




Audisi Roadshow Got Talent Nasional – Panggung Impian Talenta Nusantara

Audisi Roadshow Got Talent Nasional – Panggung Impian Talenta Nusantara (dok).

Audisi Roadshow Got Talent Nasional – Panggung Impian Talenta Nusantara

Prolite – PDP Festival 2026 hadir sebagai ruang perayaan kreativitas dan keberagaman bakat anak bangsa melalui Audisi Roadshow Got Talent Nasional. Event ini menjadi panggung terbuka bagi para talenta terbaik Indonesia untuk menunjukkan kemampuan, menembus batas, dan melangkah menuju pengakuan nasional.

Mengusung semangat “Dari Daerah untuk Indonesia”, PDP Festival 2026 akan menjelajah berbagai kota di tanah air, membuka kesempatan seluas-luasnya bagi individu maupun kelompok berbakat di bidang seni dan kreativitas. Mulai dari seni tari, dance, musik tradisonal, band, stand up, seni peran akting maupun drama, vokal nyanyi, hingga pertunjukan kreatif lainnya—semua memiliki ruang yang sama untuk bersinar.

Menurut Sultan Akbar ( Rezki Tri Akbari ) ia berkata kami membangun semuanya, saling membutuhkan kesolidaritasan dan team adalah wadah exploritasi bersama untuk berkembang serta tumbuh menjadi pilar kreasi anak bangsa bagaimana membangun ekosistem penggabungan semua dimensi aspek yang dijadikan satu serta mengangkat budaya serta seni indonesia yang sangat hebat menurut saya jadi butuh di kembangkan dan bangga memiliki banyak budaya dan seni indonesia itu untuk mencintai dan memajukan karya lokal dan mampu bersaing dengan budaya luar nantinya. Ujar Produser Film Tersebut

dok
dok

Menurut Aditya Damar Wijaya bahwa film horor bagi kami bukan hanya tentang rasa takut, tetapi tentang cerita, budaya, mistis, mitos, dan trauma kolektif yang hidup di tengah masyarakat. Lewat film horor layar bioskop, kami ingin menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas, namun dikemas secara sinematik dan bermakna. Ujar Aditya Damar Wijaya Sutradara film

“PDP Festival menjadi pintu awal lahirnya karya-karya film horor Indonesia yang berkarakter kuat. Dari panggung audisi, kami menemukan aktor, ide, dan energi baru yang kemudian kami bawa ke layar lebar menjadikan festival ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang sebuah karya.” Ujar Aditya Damar Wijaya

Audisi roadshow ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah pembinaan, eksplorasi, dan kolaborasi antar talenta kreatif. Peserta terpilih akan mendapatkan kesempatan tampil di panggung besar PDP Festival 2026, bertemu dengan pelaku industri kreatif, serta membuka peluang menuju karier profesional di tingkat nasional.

Saya bangga bisa terealisasinya hasil karya saya karena seni itu indah jika di tampilkan dan lestarikan dengan baik oleh setiap generasinya. Saya sangat bangga dengan diri saya bisa berkembang lebih lanjut menulis karya dari sudut pandang yg saya lihat dari keindahan seni itu sendiri karna begitu saya melihat dari media layar hp saya seni itu sangat indah apalagi dilihat secara langsung, melalui program ini kita bisa melestarikan seni dan budaya yang sudah diwariskan ke kita saya harap dengan adanya kegiatan event ini membuka gerbang awal bagi pendatang baru yang memiliki kesempatan dan peluang yang besar untuk maju dan berkembang, ini adalah peluang buat seniman – seniman yang memiliki bakat dan karyanya untuk bisa lebih maju dan lebih dikenal masyarakat melalui kreativitas dan melalui karya seni yang indah, saya selaku seniman dan pecinta seni saya sangat bangga bahwa saya bisa menyalurkan aspirasi dan berkontribusi dalam program ini. Ujar Ady Ravindra si penulis

PDP Festival 2026 juga menjadi momentum strategis dalam mendukung pertumbuhan ekosistem kreatif Indonesia, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal agar mampu bersaing di era industri kreatif modern. Setiap kota yang disinggahi akan menjadi saksi lahirnya bintang baru yang siap menginspirasi.

Tim Inti dari Ajang Event ini adalah :

Sultan Akbar / Rezki Tri Akbari sebagai Produser
Gary Anggriawan sebagai Executive Produser
Rifay Marzuki sebagai Line Produser
Aditya Damar Wijaya sebagai Sutradara dan Juri
Johalim sebagai Juri
Yermia Anto sebagai Pimpinan Produksi
Ady Ravindra sebagai Tim Kreatif dan Penulis Film
Martinus Liauw sebagai Tim IT Media dan Editor
Umar Dado sebagai Unit Manager

Selain itu juga ada Line Up guest star Audisi di 10 kota :
Cleo Kavoena
Patrick Christian
Chantika Hardianti
Abe Moore

Line Up special Perfomance di Babak Penyisihan Top 500 sampai dengan Puncak :

Pagelaran Seni Tari :
Sanggar Kesenian Saleho Karya Budaya, Bendolegi, Boyolali
Sanggar Kesenian Garuda Wisnu Satria Muda, Tempuran, Magelang
Sanggar Kesenian Wahyu Cipto Budoyo, Senanggen Temanggung

Artis Line Up :
Sadewok
Annisa Kaila
Cantika Davinca
Valencia Evelyn
Chalista Ellysia

Support panggung rigging yang megah by : HB Production

INSTAGRAM :
Event : @pdpfestival2026
Film : @petakadusunpakeron
Production House : @albarfilm

Association by :
Garuda Wisnu Satria Muda

HB ProductionInilah saatnya bakatmu dilihat, suaramu didengar, dan karyamu diapresiasi.
Jadilah bagian dari perjalanan talenta Indonesia bersama PDP Festival 2026.
Karena setiap mimpi layak mendapat panggung.