Level Up Your Life: 5 Rekomendasi Buku Inspiratif yang Wajib Dibaca

Rekomendasi Buku Inspiratif

Level Up Your Life: 5 Rekomendasi Buku Inspiratif yang Wajib Dibaca

Prolite – Di tengah dunia yang bergerak cepat, tekanan sosial media, target hidup yang makin tinggi, dan ekspektasi yang kadang bikin sesak, kita semua butuh jeda. Kadang, jeda itu datang dari percakapan hangat. Kadang juga datang dari halaman-halaman buku yang terasa seperti sedang berbicara langsung pada hati kita.

Kalau kamu sedang mencari rekomendasi buku-buku inspiratif yang bisa jadi teman bertumbuh, refleksi diri, sekaligus mood booster di 2026 ini, daftar berikut wajib masuk reading list-mu. Buku-buku ini bukan cuma enak dibaca, tapi juga mengajak kita berdamai dengan luka, menerima proses, dan menemukan cahaya di tengah gelap.

Yuk, kenalan satu per satu.

1. Nyala yang Tak Pernah Padam: Tentang Bertahan dan Menjaga Api Harapan

Buku Nyala yang Tak Pernah Padam menghadirkan sembilan belas kisah tentang orang-orang biasa—seperti kita—yang mengalami kenyataan pahit, kegagalan, kehilangan, bahkan titik terendah dalam hidup. Namun alih-alih menyerah, mereka memilih untuk tetap melangkah.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai harapan. Entah itu kegagalan karier, hubungan yang kandas, atau impian yang terasa menjauh. Buku ini mengajak pembaca untuk bertanya: ketika hidup runtuh, apa yang akan kita pilih? Meratapi? Menyalahkan keadaan? Atau mencoba bangkit lagi?

Yang membuat buku ini kuat adalah pesan bahwa setiap manusia memiliki “api” di dalam dirinya. Api itu bisa redup, tapi tidak pernah benar-benar padam selama kita mau menjaganya. Buku ini seperti pengingat lembut bahwa makna hidup sering kali ditemukan justru di tengah cobaan.

Cocok untuk kamu yang sedang berada di fase transisi atau merasa kehilangan arah.

2. Off The Record 2 – Ria SW: Di Balik Senyum dan Lensa Kamera

Buat kamu yang mengikuti dunia travel dan lifestyle, nama Ria SW tentu sudah tidak asing. Lewat Off The Record 2, Ria SW membuka sisi lain dari kehidupannya yang tidak selalu terlihat di media sosial.

Kalimat pembuka yang sering ia dengar, “Ria, kamu kerjanya ngapain aja sih?”—“Jalan-jalan dan makan makanan enak.”—terdengar menyenangkan, ya? Tapi buku ini membongkar realitas bahwa tidak semua yang terlihat indah itu benar-benar mudah.

Ria berbagi cerita tentang tekanan, kelelahan, kegagalan, hingga masa-masa gelap yang jarang tersorot kamera. Buku ini relevan banget di era 2026 ketika media sosial sering menampilkan versi kehidupan yang sudah difilter dan dipoles.

Pesan terkuat dari Off The Record 2 adalah: setiap orang punya perjuangan masing-masing. Dan suatu hari nanti, pengalaman sulitmu bisa jadi cerita yang menguatkan orang lain.

Kalau kamu sering merasa membandingkan hidupmu dengan orang lain, buku ini bisa jadi tamparan sekaligus pelukan hangat.

3. Dear Tomorrow – Maudy Ayunda: Surat untuk Diri Sendiri di Masa Depan

Dear Tomorrow karya Maudy Ayunda adalah kumpulan pemikiran, pengalaman, dan percakapan personal tentang cinta, mimpi, dan kehidupan.

Buku ini terasa intimate. Seperti membaca jurnal seseorang yang jujur pada dirinya sendiri. Maudy menuliskan kalimat-kalimat singkat yang reflektif—tentang rasa ragu, tentang ambisi, tentang menerima diri apa adanya.

Di tengah budaya hustle yang semakin kuat, Dear Tomorrow mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya penting untuk masa depan kita? Buku ini bukan hanya untuk dibaca sekali lalu selesai, tapi bisa dibuka kembali ketika kamu butuh pengingat kecil tentang arti hidup.

Cocok buat kamu yang suka kutipan bermakna dan tulisan reflektif yang ringan tapi dalam.

4. Catatan Kronik – Natasha Rizky: Puisi, Luka, dan Proses Menjadi Dewasa

Catatan Kronik adalah karya kedua Natasha Rizky, yang dikenal sebagai Aca. Buku ini berisi kumpulan puisi dan catatan harian yang ditulis selama dua tahun, mencerminkan perjalanan hidup, relasi keluarga, serta dinamika pertemanan.

Yang membuat buku ini spesial adalah nuansa personalnya. Aca tidak hanya berbagi kegembiraan, tapi juga keraguan dan kegelisahan. Ditambah ilustrasi dan bagian interaktif untuk pembaca, Catatan Kronik terasa seperti diary yang bisa kamu isi bersama penulisnya.

Buku ini mengajak pembaca untuk menulis, merenung, dan berdamai dengan perjalanan hidup masing-masing. Di era 2026 ketika journaling semakin populer sebagai bagian dari self-care, buku ini terasa sangat relevan.

5. Ruang Tengah Ingatan: Tentang Rasa yang Tak Selalu Mudah Diucap

Ruang Tengah Ingatan adalah buku puisi yang penuh kejujuran emosional. Buku ini berbicara tentang rindu, tentang rasa yang datang di waktu yang salah, tentang kepercayaan diri yang goyah, dan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Lewat puisi-puisi yang intim, penulis mengajak kita memasuki ruang ingatan—tempat segala rasa duduk berdampingan. Buku ini cocok dibaca pelan-pelan, satu puisi per hari, sambil ditemani teh hangat atau musik lembut.

Buku ini mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti menerima bahwa kita bisa rapuh. Dan tidak apa-apa.

Kenapa Buku Inspiratif Masih Relevan di 2026?

Menurut berbagai laporan tren literasi dan survei minat baca 2025–2026, buku bertema self-development, refleksi diri, dan mental wellness mengalami peningkatan minat yang signifikan, terutama di kalangan Gen Z dan milenial.

Di tengah banjir konten digital, buku tetap punya tempat istimewa karena memberikan kedalaman yang tidak selalu bisa ditemukan di media sosial. Membaca buku inspiratif membantu meningkatkan empati, memperluas perspektif, dan memberi ruang untuk berpikir lebih tenang.

Dan yang paling penting, buku bisa menjadi teman yang tidak menghakimi.

Yuk, Temukan Buku yang Sedang Kamu Butuhkan

Setiap fase hidup butuh bacaan yang berbeda. Ada kalanya kita butuh kisah perjuangan seperti Nyala yang Tak Pernah Padam. Ada kalanya kita butuh kejujuran seperti Off The Record 2. Ada juga momen ketika kita hanya ingin membaca puisi dan menangis pelan seperti di Ruang Tengah Ingatan.

Rekomendasi buku-buku inspiratif ini bukan sekadar daftar bacaan, tapi undangan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

Jadi, buku mana yang paling kamu butuhkan saat ini? Pilih satu, siapkan waktu khusus, dan biarkan halaman-halamannya berbicara padamu. Karena siapa tahu, satu buku bisa mengubah cara pandangmu tentang hidup.




Ini Buku Favorit Member CORTIS yang Bikin Mindset Naik Level!

CORTIS

Bukan Sekadar Idol! Ini Daftar Bacaan CORTIS yang Bikin Mindset Makin Tajam

Prolite – Kalau kamu pikir idol K-pop cuma sibuk latihan dance, rekaman lagu, dan tampil di panggung, siap-siap kaget! Karena, boy group CORTIS membuktikan kalau image keren dan performa maksimal ternyata juga ditopang oleh kebiasaan membaca yang serius.

CORTIS adalah boy group asal Korea Selatan yang dibentuk oleh Big Hit Music, anak perusahaan HYBE Corporation. Grup ini beranggotakan lima orang: Martin, James, Juhoon, Seonghyeon, dan Keonho. Mereka resmi debut pada 18 Agustus 2025 dengan single pertama “What You Want” dan langsung mencuri perhatian lewat konsep fresh, musikalitas kuat, dan karakter member yang unik.

CORTIS

Menariknya, meski usia mereka masih tergolong muda, selera bacaan para member jauh dari kata biasa. Buku-buku yang mereka rekomendasikan bukan sekadar bacaan ringan, tapi karya-karya reflektif yang membahas kreativitas, jati diri, filosofi hidup, hingga mental resilience.

Penasaran buku apa saja yang masuk reading list mereka? Yuk, kita bahas satu per satu lengkap dengan sinopsis dan kenapa buku ini relevan banget buat generasi sekarang.

1. The Creative Act: A Way of Being – Rick Rubin

Buku karya produser legendaris Rick Rubin ini bukan buku teknis tentang cara bikin lagu hit. “The Creative Act: A Way of Being” justru membahas kreativitas sebagai cara hidup.

Rick Rubin dikenal sebagai produser yang bekerja dengan banyak musisi besar lintas genre. Dalam buku ini, ia menekankan bahwa setiap orang sebenarnya adalah makhluk kreatif. Kreativitas bukan soal bakat langka, tapi soal cara kita melihat dan merespons dunia.

Sinopsis singkat: Buku ini berisi refleksi singkat, hampir seperti kumpulan meditasi, tentang bagaimana menjaga kepekaan, menerima ketidaksempurnaan, dan membiarkan ide mengalir tanpa terlalu dikontrol ego.

Kenapa ini cocok buat idol seperti CORTIS? Karena industri hiburan menuntut inovasi terus-menerus. Buku ini membantu kreator tetap grounded dan tidak kehilangan esensi diri saat berkarya.

Buat kamu yang ingin jadi content creator, musisi, penulis, atau pekerja kreatif, buku ini bisa jadi pengingat bahwa kreativitas bukan tentang viral, tapi tentang kejujuran ekspresi.

2. Honmono – Seong Hae-na

“Honmono” karya Seong Hae-na membawa pembaca pada pencarian makna tentang keaslian dan identitas. Kata honmono sendiri dalam bahasa Jepang berarti “yang asli” atau “yang autentik”.

Sinopsis singkat: Novel ini mengeksplorasi karakter-karakter yang hidup di tengah tekanan sosial dan ekspektasi publik. Ceritanya menggambarkan konflik antara citra yang ditampilkan dan diri yang sebenarnya.

Tema ini sangat relate dengan dunia idol. Di balik panggung megah dan sorotan kamera, ada manusia yang tetap bergulat dengan pertanyaan: siapa aku sebenarnya?

Buku ini mengajak pembaca untuk berani jujur pada diri sendiri, bahkan saat dunia menuntut kita tampil sempurna.

Buat generasi muda yang sering merasa tertekan oleh standar media sosial, “Honmono” seperti cermin yang mengajak refleksi: apakah kita hidup sebagai diri sendiri, atau sekadar versi yang ingin dilihat orang lain?

3. The Subtle Art of Not Giving a F*ck – Mark Manson

Kalau kamu pernah merasa overthinking, terlalu peduli komentar orang, atau takut gagal, buku ini mungkin jadi alasan kenapa member CORTIS tetap terlihat santai meski berada di industri super kompetitif.

Karya Mark Manson ini dikenal sebagai buku self-help yang anti-klise. Alih-alih menyuruh pembaca selalu positif, buku ini justru mengajak kita menerima bahwa hidup penuh masalah.

Sinopsis singkat: Intinya sederhana: kita tidak bisa peduli pada semua hal. Energi kita terbatas, jadi pilih dengan bijak apa yang benar-benar layak diperjuangkan.

Mark Manson menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi, batasan sehat, dan keberanian menerima kegagalan.

Untuk idol yang terus dinilai publik, pola pikir ini sangat penting. Tidak semua kritik harus ditelan mentah-mentah. Tidak semua ekspektasi harus dipenuhi.

Buat kamu yang sering merasa burnout karena ingin menyenangkan semua orang, buku ini bisa jadi wake-up call yang menyegarkan.

4. Übermensch – Friedrich Nietzsche

Pilihan yang cukup mengejutkan datang dari karya filsuf klasik Friedrich Nietzsche tentang konsep Übermensch.

Dalam pemikiran Nietzsche, Übermensch adalah manusia yang mampu melampaui batasan moralitas konvensional dan menciptakan nilai hidupnya sendiri.

Sinopsis singkat: Konsep ini muncul dalam karya filsafat Nietzsche yang membahas tentang keberanian menjadi individu yang mandiri secara pemikiran dan tidak sekadar mengikuti arus.

Mengapa ini menarik bagi idol generasi baru? Karena di tengah sistem industri yang ketat, gagasan tentang membangun nilai diri dan tidak terjebak dalam standar lama bisa menjadi sumber kekuatan mental.

Bagi pembaca, konsep ini mengajak kita bertanya: apakah kita menjalani hidup berdasarkan nilai yang benar-benar kita yakini, atau sekadar mengikuti norma tanpa berpikir?

Dari Panggung ke Halaman Buku

Menarik melihat bagaimana member CORTIS tidak hanya fokus pada karier musik, tetapi juga memperkaya diri lewat literasi. Dari kreativitas ala Rick Rubin, refleksi identitas di Honmono, mental resilience ala Mark Manson, hingga filsafat Nietzsche, semuanya menunjukkan kedalaman cara berpikir mereka.

Di era 2026, ketika generasi muda semakin sadar pentingnya self-development dan kesehatan mental, pilihan bacaan seperti ini terasa sangat relevan.

Kalau idol favoritmu saja meluangkan waktu untuk membaca dan mengasah pemikiran, masa kamu nggak?

Yuk, pilih satu buku dari daftar ini dan mulai perjalanan refleksimu sendiri. Siapa tahu, bukan cuma playlist kamu yang naik level, tapi juga mindset dan cara pandang hidupmu.




Bukan Cuma Bisa Baca-Tulis: Yuk Kenali Jenis Literasi yang Sering Terlupakan di Era Digital

Prolite – Bukan Cuma Bisa Baca-Tulis: Yuk Kenali Jenis Literasi yang Sering Terlupakan di Era Digital

Kalau dulu orang dianggap melek literasi saat bisa baca dan nulis, sekarang standar itu sudah jauh berkembang. Di era yang penuh data, visual, dan opini berseliweran di internet, kemampuan literasi kita diuji lebih dalam.

Banyak orang bisa membaca teks, tapi belum tentu bisa membaca data atau grafik dengan benar. Bahkan, belum tentu bisa membedakan mana informasi valid dan mana yang cuma opini tanpa dasar.

Di sinilah pentingnya tiga jenis literasi yang sering terabaikan: literasi data, literasi visual, dan literasi kritis. Ketiganya jadi kunci agar kita nggak mudah tertipu headline bombastis, salah paham soal grafik ekonomi, atau ikut menyebar hoaks yang tampak meyakinkan. Yuk, kenalan satu per satu 3 jenis literasi!

1. Literasi Data: Belajar Memahami Angka di Balik Informasi

Pernah lihat berita dengan kalimat, “Jumlah kasus meningkat 300%”? Nah, literasi data membuat kita bisa nggak langsung percaya begitu saja. Literasi data adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan data dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk membaca tren, statistik, hingga memahami konteks di balik angka.

Menurut riset dari Data Literacy Project (2025), hanya 27% masyarakat global yang merasa percaya diri menafsirkan data dengan benar. Padahal, kemampuan ini penting banget buat banyak hal: dari membaca hasil survei publik, menilai efektivitas kebijakan, sampai memahami data keuangan pribadi.

Contohnya, kalau kamu lihat grafik tentang tingkat pengangguran, literasi data membantu kamu bertanya, “Sumbernya dari mana?”, “Metodenya apa?”, atau “Apakah angka ini sudah disesuaikan dengan populasi?”. Dengan begitu, kamu nggak gampang termakan angka tanpa konteks.

2. Literasi Visual: Nggak Semua Grafik Itu Jujur

Di media sosial, infografis dan visualisasi data sering banget muncul. Tapi tahu nggak? Banyak visual yang dibuat untuk menggiring opini, bukan memberi pemahaman. Nah, di sinilah literasi visual berperan: kemampuan membaca, menafsirkan, dan mengevaluasi makna dari visual data seperti grafik, diagram, atau infografis.

Riset dari University of Amsterdam (2025) menyebutkan bahwa literasi visual jadi salah satu kemampuan paling krusial di dunia digital. Sebab, manusia cenderung lebih mudah percaya pada sesuatu yang divisualkan, apalagi kalau tampilannya keren dan profesional.

Misalnya, grafik batang bisa dibuat tampak “drastis” hanya dengan mengubah skala sumbu Y. Atau infografis politik bisa menonjolkan data tertentu untuk menimbulkan kesan positif atau negatif. Jadi, literasi visual bikin kita bisa melihat di balik tampilan dan bertanya: “Apakah visual ini mewakili data sebenarnya?”

Selain itu, literasi visual juga bermanfaat dalam dunia kerja modern. Banyak perusahaan kini menilai kemampuan karyawan untuk memahami dashboard data atau presentasi visual sebagai bagian dari kompetensi penting.

3. Literasi Kritis: Skill Wajib di Tengah Lautan Informasi

Kalau dua literasi tadi membantu kita membaca data dan visual, literasi kritis adalah kemampuan untuk mempertanyakan dan mengevaluasi sumber informasi. Di era media sosial, setiap orang bisa jadi “penerbit berita”. Tapi nggak semua informasi yang viral itu benar.

Literasi kritis berarti kita berani bertanya:

  • Siapa yang membuat informasi ini?
  • Apa motifnya?
  • Adakah bukti yang mendukung klaim tersebut?
  • Apakah ada bias yang memengaruhi penyajian informasinya?

Dengan literasi kritis, kita bisa menyusun opini pribadi yang berdasar fakta, bukan cuma ikut arus tren atau komentar netizen. Bahkan dalam konteks akademik, literasi kritis membuat siswa dan mahasiswa bisa menulis argumen yang kuat dan logis.

Menurut laporan UNESCO 2025, masyarakat yang memiliki literasi kritis tinggi lebih kebal terhadap misinformasi dan lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi publik yang sehat.

Kenapa Tiga Jenis Literasi Ini Penting di Dunia Modern?

Karena dunia digital saat ini nggak lagi hanya dipenuhi teks, tapi juga data, angka, grafik, dan opini visual. Kita digempur informasi dari berbagai arah — mulai dari berita politik, statistik ekonomi, sampai meme edukatif. Tanpa literasi data, visual, dan kritis, kita bisa jadi korban salah tafsir.

Bayangkan saja, banyak orang percaya klaim “produk A paling laku di dunia” hanya karena melihat grafik tanpa tahu sumbernya. Atau salah menilai situasi ekonomi hanya karena salah membaca tren data. Jadi, tiga literasi ini bukan cuma penting buat akademisi, tapi juga buat siapa pun yang hidup di dunia digital.

Cara Praktis Melatih Jenis Literasi : Data, Visual, dan Kritis

Biar nggak cuma teori, berikut beberapa langkah kecil yang bisa kamu mulai dari sekarang:

  • Baca sumber berita dari beberapa media. Bandingkan cara mereka menyajikan data dan narasi.
  • Pelajari dasar statistik ringan. Misalnya cara membaca persentase, rata-rata, dan grafik sederhana.
  • Analisis infografis di media sosial. Coba cari tahu: siapa pembuatnya, apa sumber datanya, dan apakah skalanya proporsional.
  • Latih berpikir kritis. Saat membaca berita atau opini, tanyakan: “Apakah ada bukti konkret?”
  • Gunakan data dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, buat keputusan belanja atau pekerjaan berdasarkan angka, bukan sekadar perasaan

Yuk, Jadi Pembaca yang Cerdas, Bukan Sekadar Cepat!

Di era di mana semua orang bisa jadi “pemberi informasi”, kemampuan literasi bukan cuma soal membaca cepat, tapi membaca dengan cermat. Literasi data, visual, dan kritis bukan cuma bikin kamu lebih pintar, tapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Mulailah dari hal kecil: baca grafik dengan teliti, pertanyakan sumber berita, dan beranikan diri untuk bilang, “Tunggu, datanya dari mana?” Siapa tahu, dari langkah sederhana itu, kamu bisa jadi bagian dari generasi yang nggak cuma pintar, tapi juga sadar informasi!




Buku Suarakan Luka: 12 Novel & Nonfiksi Sejarah Kelam Indonesia

12 Novel & Nonfiksi Sejarah Kelam Indonesia

Prolite – Membaca Indonesia dari Luka: Rekomendasi Buku Sejarah Kelam dan Relevansinya Saat Ini

Sejarah Indonesia nggak cuma soal kemerdekaan, pembangunan, atau tokoh-tokoh besar yang namanya kita hafal sejak SD. Ada sejarah kelam, sisi gelap yang sering kali ditutup rapat: penjara politik, penghilangan paksa, represi negara, hingga suara-suara yang dipaksa bungkam.

Tapi justru dari “luka” inilah, banyak penulis besar menghadirkan karya-karya penting. Membaca mereka bukan hanya nostalgia atau pelajaran sejarah, tapi juga cara untuk memahami kondisi sosial-politik kita hari ini.

Karena, percayalah, apa yang terjadi puluhan tahun lalu sering masih punya gema di kehidupan kita sekarang.

Nah, kalau kamu pengen menelusuri wajah kelam Indonesia lewat buku, berikut beberapa rekomendasi yang bisa jadi pintu masuk.

Tan Malaka: Dari Penjara hingga Aksi Massa

Siapa yang bisa bicara soal perlawanan tanpa menyebut nama Tan Malaka? Tokoh revolusioner ini nggak cuma bikin repot penjajah, tapi juga pemerintah yang berdiri setelahnya.

Dalam bukunya “Dari Penjara ke Penjara”, Tan menceritakan pengalamannya sebagai tahanan politik sekaligus refleksi panjang tentang perjuangan dan pengkhianatan. Buku ini keras, jujur, dan bikin kita mikir ulang soal arti perjuangan.

Selain itu, ada “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), karya filosofisnya yang jadi semacam senjata intelektual untuk melawan kolonialisme dan kebodohan. Lalu, “Aksi Massa” yang lebih ke arah strategi perjuangan rakyat. Bacaan ini bukan cuma sejarah, tapi juga inspirasi buat memahami gerakan sosial masa kini.

Luka 1965: Dari Leila S. Chudori hingga Para Penyintas

Kalau bicara soal tragedi 1965, karya-karya Leila S. Chudori nggak bisa dilewatkan. “Pulang” mengisahkan kehidupan eksil politik yang nggak bisa balik ke tanah air setelah tragedi G30S. Novel ini menggambarkan bagaimana trauma bisa diwariskan lintas generasi.

Kemudian ada “Laut Bercerita”, yang lebih fokus pada kisah penghilangan aktivis era 1998, tapi tetap punya akar kuat pada luka sejarah 1965. Lewat tokoh Biru Laut dan kawan-kawannya, Leila menulis dengan puitis namun pedih: tentang penculikan, penyiksaan, dan suara-suara yang dipaksa hilang.

Jangan lupakan juga novel “Namaku Alam”, yang lagi-lagi menyinggung soal identitas, sejarah, dan bagaimana politik negara bisa menelan hidup seseorang. Karya-karya Leila seakan jadi jembatan: menghubungkan masa lalu yang traumatis dengan kenyataan hari ini.

Pramoedya Ananta Toer: Tetralogi Buru

Kalau bicara sastra dan sejarah kelam, jelas Pramoedya Ananta Toer adalah nama besar. Empat novelnya—“Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”—bukan cuma karya sastra, tapi juga catatan sejarah kolonialisme dan kebangkitan nasional.

Ditulis saat Pram dipenjara di Pulau Buru, tetralogi ini mengisahkan Minke, tokoh fiksi yang banyak terinspirasi dari kehidupan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Dari perlawanan intelektual, politik, hingga represi kolonial, karya-karya ini tetap relevan untuk memahami Indonesia hari ini. Nggak heran, buku-buku ini sering dianggap sebagai bacaan wajib buat siapa saja yang ingin memahami identitas bangsa.

Luka yang Diarsipkan: Antologi dan Kronik

Bicara soal sejarah kelam juga nggak bisa lepas dari suara-suara kolektif. “Berita Kehilangan” (2018), antologi cerpen yang digarap oleh Sabda Armandio dan kawan-kawan, mengangkat kisah penghilangan paksa dan kekerasan negara. Dengan format fiksi pendek, cerita-cerita di buku ini jadi cara lain untuk mendekati luka bangsa.

Lebih faktual, ada “Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998” karya Gus Muhidin Dahlan (2020). Buku ini menghimpun data, testimoni, dan laporan yang menyingkap kejahatan negara pada masa reformasi. Membacanya bikin kita sadar: demokrasi yang kita nikmati sekarang nggak datang gratis, ada darah dan air mata yang jadi taruhannya.

Kenapa Buku-Buku Ini Masih Penting Dibaca?

Setidaknya kita harus membaca salah satu dari buku-buku ini sekali seumur hidup, kenapa? Pertama, karena sejarah sering berulang. Luka masa lalu bisa jadi peringatan biar kita nggak jatuh di lubang yang sama.

Kedua, karena membaca karya-karya ini bikin kita lebih peka terhadap isu HAM, kebebasan berekspresi, dan keberanian untuk bersuara. Di tengah situasi politik sekarang, dari kriminalisasi aktivis sampai pembatasan kebebasan, pesan yang mereka sampaikan tetap relevan.

Selain itu, buku-buku ini membantu kita memahami bahwa sejarah Indonesia nggak pernah hitam putih. Ada banyak lapisan, ada suara-suara yang berusaha dibungkam, tapi tetap menemukan jalannya untuk sampai ke pembaca.

Mari Membaca Luka, Agar Tak Hilang Ingatan

Membaca buku-buku tentang sejarah kelam Indonesia bukan berarti kita merayakan tragedi, tapi justru menghormati mereka yang pernah menjadi korban. Dari Tan Malaka, Pramoedya, Leila Chudori, hingga para penulis antologi dan sejarawan, semuanya mengingatkan kita: ada harga besar yang dibayar untuk sampai ke titik ini.

Jadi, mungkin sekarang saatnya kita membuka halaman-halaman itu. Biar gak lupa, biar lebih peka, dan biar bisa terus mengawal masa depan dengan lebih sadar.

Kalau kamu sendiri, sudah baca yang mana dari daftar di atas? Atau ada buku lain soal sejarah kelam Indonesia yang menurutmu wajib dibaca? Yuk, bagikan pendapatmu!




Tingkatkan Minat Baca Anak dengan 9 Cara Jitu Ini, Mudah dan Menyenangkan!

Minat Baca

Prolite – Kita sering mendengar tentang rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Di tengah gempuran gadget dan media sosial, minat baca anak-anak semakin terkikis. 

Gadget memang menawarkan berbagai hiburan, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan anak, seperti gangguan konsentrasi, masalah tidur, dan perilaku agresif. 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan waktu anak dalam berinteraksi dengan gadget dan buku.

Mengapa Membaca itu Penting?

Anak membaca buku dengan lantang – freepik

Membaca tidak hanya sekedar mengisi waktu luang. Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan kemampuan kognitif: Membaca membantu mengembangkan otak, meningkatkan daya ingat, serta kemampuan berpikir kritis dan analitis.
  • Memperluas wawasan: Melalui buku, anak-anak dapat mengenal dunia yang lebih luas, budaya yang berbeda, dan berbagai macam ilmu pengetahuan.
  • Meningkatkan kosakata: Semakin banyak membaca, semakin kaya pula kosakata yang dimiliki anak.
  • Menumbuhkan imajinasi: Buku-buku fiksi merangsang imajinasi anak dan membantu mereka mengembangkan kreativitas.
  • Menyenangkan: Membaca bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan adiktif.

Cara Menumbuhkan Minat Baca pada Anak

Ibu dan anak membaca buku – freepik

Lantas, bagaimana cara membuat anak lebih suka membaca daripada bermain gadget? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menumbuhkan minat baca pada anak:

  1. Kenalkan buku sedini mungkin : Bacakan buku dongeng atau cerita pendek untuk bayi sejak mereka masih kecil. Ini akan membiasakan mereka dengan suara dan irama bahasa.
  2. Beri contoh : Jadilah role model bagi anak dengan rajin membaca buku atau koran di hadapan mereka.
  3. Tempat yang Nyaman : Sediakan tempat khusus di rumah yang menarik untuk membaca, lengkap dengan rak buku, bantal, dan lampu baca serta suasana yang tentram.
  4. Membaca bersama : Bacakan buku untuk anak secara rutin dan ajak mereka berdiskusi tentang isi buku.
  5. Berikan buku sebagai hadiah : Buku adalah hadiah yang berharga dan akan selalu diingat oleh anak.
  6. Biarkan anak memilih buku : Beri kebebasan pada anak untuk memilih buku yang mereka suka, agar mereka merasa lebih tertarik untuk membacanya. Dengan batasan nilai-nilai dan aturan yang dipegang.
  7. Perkenalkan buku digital : Manfaatkan teknologi dengan memperkenalkan e-book atau aplikasi membaca yang menarik.
  8. Buat rutinitas membaca : Jadwalkan waktu khusus untuk membaca setiap hari, misalnya sebelum tidur atau setelah makan malam.
  9. Gunakan bahasa yang menarik : Saat membacakan buku, gunakan intonasi yang bervariasi dan ekspresi wajah yang hidup agar anak lebih tertarik.

Anak memegang buku dengan senang – Freepik

Menumbuhkan minat baca pada anak memang butuh usaha ekstra, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan. Kuncinya ada di kreativitas dan kesabaran kita sebagai orang tua atau pendamping.

Dengan memperkenalkan anak pada buku sejak kecil, secara nggak langsung kita sudah menyiapkan bekal yang berharga untuk masa depan mereka.

Yuk, mulai dari sekarang ajak anak buat cinta sama buku! Semoga tips ini bermanfaat dan bisa jadi inspirasi buat kamu.




8 Jendela Baru Literasi dengan Platform Online Gratis

Platform

Prolite – Yo, Sobat Literasi! Jaman sekarang, literasi nggak cuma di buku fisik doang, tapi juga meluncur kenceng di platform online.

Banyak pintu baru terbuka, banyak banget jendela literasi yang bisa kita buka. Dan yang lebih menariknya lagi, semua bisa diakses tanpa bayar di platform online!

Nah, berikut 8 platform online gratis yang bisa jadi jendela baru buat nambah wawasan kita. Yuk, duduk manis, dan siap-siap buka pintu dunia literasi baru!

8 Rekomendasi Platform Literasi Online Gratis

Ilustrasi membaca di gadget – Freepik

1. Google Books

Mengakses ribuan buku digital secara gratis sambil menikmati fitur pencarian yang memudahkan adalah kesempatan yang luar biasa untuk para pembaca. Dengan begitu banyak pilihan, setiap orang dapat menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan preferensinya.

2. Project Gutenberg

Dengan menyediakan lebih dari 60,000 e-book klasik yang dapat diunduh tanpa biaya, platform ini benar-benar menjadi surga bagi pencinta sastra. Beragam genre dan penulis tersedia, memungkinkan pembaca mengeksplorasi dan menemukan karya-karya klasik yang belum pernah mereka baca sebelumnya.

3. Khan Academy

Platform yang tidak hanya berfokus pada literasi kata, tetapi juga literasi matematika dan ilmu pengetahuan. Penyajian materi melalui video pembelajaran interaktif dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

4. Duolingo

Duolingo memang menjadi pilihan yang fantastis bagi mereka yang ingin mengasah literasi dalam bahasa asing. Dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif, Duolingo membantu pengguna memperoleh keterampilan bahasa dengan cara yang lebih menarik. Dari

5. Coursera

Tidak hanya menyajikan buku digital, tetapi juga menawarkan kursus online gratis dari universitas terkemuka dunia. Ini memberikan kesempatan luar biasa untuk mendapatkan literasi yang lebih mendalam di berbagai bidang.

6. Librivox

Menyediakan audiobook gratis yang dibacakan sukarelawan, cocok untuk yang lebih suka mendengarkan cerita.

7. Storybird

Tempat bagi penulis amatir untuk mengekspresikan ide mereka dan membaca karya dari sesama pengguna.

8. Goodreads

Goodreads adalah situs jaringan sosial yang dikhususkan untuk katalogisasi buku. Mirip dengan platform jaringan sosial lainnya, Goodreads menyediakan fitur pertemanan, grup, dan diskusi.

Ilustrasi berbagai macam buku bacaan – Freepik

Melibatkan pembaca dalam komunitas literasi online, memberikan rekomendasi buku, dan menyediakan ulasan dari pengguna lain.

Dengan semakin banyaknya platform literasi online gratis, kita berada di tengah-tengah era di mana pengetahuan dapat diperoleh dengan lebih mudah. 

Masyarakat dapat terus mengembangkan literasi mereka tanpa harus mengeluarkan biaya signifikan. 

Sebuah revolusi literasi yang sangat positif, membuka peluang bagi semua orang untuk mengeksplorasi dunia pengetahuan secara bebas. Mari bersama-sama memanfaatkan peluang ini untuk terus tumbuh dan belajar!




Perpusnas Writers Festival 2023 : Wadah Literasi di Bandung yang Sajikan Berbagai Agenda Menarik

Perpusnas Writers Festival

BANDUNG, Prolite – Perpusnas Writers Festival (PWF) sukses digelar di Kota Bandung, Jawa Barat, selama periode 6-8 September 2023. Festival ini menawarkan berbagai agenda literasi yang berlangsung selama tiga hari penuh.

PWF di Kota Bandung ini merupakan hasil kerja sama antara Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dengan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Festival ini berpusat di dua lokasi utama, yaitu Gedung De Majestic dan Museum KAA.

Perpusnas Writers Festival untuk Tingkatkan Kegiatan Literasi di Indonesia

Salah satu kegiatan di PWF – Humas Kota Bandung

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Muhammad Syarif Bando, salah satu tujuan utama dari penyelenggaraan Perpusnas Writers Festival adalah untuk meningkatkan ketersediaan bahan bacaan di Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan buku bacaan yang signifikan.

Dalam perbandingan yang mengkhawatirkan, di Jakarta, satu buku hanya tersedia untuk 90 orang, sementara di luar Jakarta, satu buku harus dibagi oleh 15 ribu orang.

Padahal, standar UNESCO menyarankan bahwa satu buku seharusnya dapat diakses oleh tiga orang.

Melalui PWF, Syarif berharap dapat mendorong generasi muda, khususnya, untuk menciptakan karya tulis, termasuk yang mempromosikan kearifan lokal.

Dengan cara ini juga, diharapkan akan ada peningkatan signifikan dalam jumlah bahan bacaan yang tersedia untuk masyarakat.

“Kami ingin menanamkan budaya membaca kepada masyarakat. Kami sedang melakukan segala upaya untuk meningkatkan tingkat literasi di Indonesia,” ujar Syarif.

Upaya seperti PWF memiliki potensi besar untuk merangsang minat membaca dan menumbuhkan minat menulis di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya akan memperkaya sumber daya literatur Indonesia dan meningkatkan tingkat literasi secara keseluruhan.

Menulis, Mengukir Peradaban

Tema Perpusnas Writers Festival 2023 – Humas Kota Bandung

Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Humas Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Sri Marganingsih, menyatakan bahwa PWF yang digelar kali ini merupakan yang pertama di luar Jakarta.

Keputusan untuk memilih Kota Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan festival ini disebabkan oleh sejarah dan signifikansi kota tersebut dalam konteks dunia.

Perpusnas Writers Festival di Kota Bandung mengusung tema “Menulis, Mengukir Peradaban”. Menurut Sri, terdapat setidaknya 19 kegiatan yang telah direncanakan dalam rangkaian PWF ini.

Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan beragam aspek literasi, seperti talk show, bedah buku, workshop, kompetisi menulis, pemutaran film, musikalisasi puisi, pameran buku, pertunjukan seni sastra, dan penelitian sejarah.

Tema yang dipilih dan beragamnya kegiatan diharapkan dapat memberikan wawasan dan inspirasi yang luas kepada para pengunjung dan peserta PWF.

Sri mengungkapkan harapannya melalui Perpusnas Writers Festival adalah untuk memperkuat literasi di Indonesia.

Buku bacaan di event PWF – Humas Kota Bandung

Dalam upaya mencapai tujuan ini, festival ini mendorong lahirnya berbagai karya tulis yang dapat dihasilkan oleh berbagai kalangan peserta, dan nantinya karya-karya ini dapat diterbitkan oleh Perpusnas Press.

“Karena PWF adalah sebuah festival, maka materi yang dibahas sangat beragam dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari penulis, seniman, hingga pemangku kebijakan,” jelasnya.

Sri juga menetapkan target peserta sebanyak seribu orang yang diharapkan hadir selama tiga hari penyelenggaraan PWF ini.

Semakin banyak peserta yang terlibat, semakin besar dampak yang dapat dihasilkan dalam upaya memperkuat literasi di Indonesia.

Masih ada satu hari tersisa untuk mengikuti beragam kegiatan menarik di Perpusnas Writers Festival (PWF) Bandung.

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mendapatkan wawasan baru, berpartisipasi dalam diskusi, mengeksplorasi dunia literasi, dan menikmati berbagai acara yang ditawarkan!




Literasi Kunci Kemajuan Bangsa : Rayakan Hari Aksara Internasional pada 8 September 2023

Hari Aksara Internasional

Prolite Mengingat besok adalah tanggal 8 September yang memperingati Hari Aksara Internasional, penting bagi masyarakat untuk menyadari pentingnya literasi bagi kemajuan bangsa.

Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi. Hal ini penting bagi masyarakat karena memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat.

Melalui literasi, masyarakat dapat mengakses informasi dan pengetahuan yang luas. Informasi dan pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan diri, meningkatkan kualitas hidup, dan berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat.

Hari Aksara Internasional
Illustrasi Aksara Jawa dari Aditya Bayu Perdana

 

Hari Aksara Internasional pertama kali dicetuskan pada tahun 1965, pada Konferensi Internasional Menteri Pendidikan untuk Pemberantasan Buta Huruf yang diadakan di Teheran, Iran.

Konferensi tersebut dihadiri oleh 140 negara dan menyepakati pentingnya literasi bagi pembangunan masyarakat.

Pada tahun 1966, UNESCO, organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya PBB, menetapkan Hari Aksara Internasional sebagai hari peringatan internasional.

Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi bagi kemajuan suatu bangsa.

Di Indonesia, Hari Aksara Internasional diperingati dengan berbagai kegiatan, seperti seminar, diskusi, dan lomba-lomba literasi.

Kegiatan-kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi bagi kemajuan bangsa.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Hari Aksara Internasional penting:

Ilustrasi siswa siswi membaca buku di perpustakaan sekolah – beritamagelang

  • Literasi memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi dan pengetahuan.
  • Literasi memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat.
  • Literasi memungkinkan masyarakat untuk berkembang dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari pentingnya literasi dan mendukung upaya-upaya untuk meningkatkan literasi di masyarakat.