Fenomena La Nina di Indonesia, Diprediksi Terjadi Hingga 2025 Mendatang
Category: News
Oktober 22, 2024
Fenomena La Nina di Indonesia, Diprediksi Terjadi Hingga 2025 Mendatang
Prolite – Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menjelaskan Fenomena La Nina diprediksi akan terjadi hingga Maret 2025 mendatang.
Melalui halaman resmi NOAA fenomena ini 60 persen berpeluang muncul sepanjang bulan September-November 2024.
Buat yang belum mengetaui La Nina itu apa sih? Fenomena ini adalah fenomena iklim global yang menyebabkan suhu permukaan laut Samudra Pasifik lebih dingin dibanding biasanya.
Bukan hanya itu menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena ini mempengaruhi pola cuaca global termasuk Indonesia.
BMKG
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan, sepanjang Agustus hingga awal Oktober 2024, data BMKG menunjukkan, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah cenderung mendingin dan hampir menyentuh batas La Nina.
Suhu dipermukaan laut diprediksi akan semakin mendingin dan akan bertahan hingga awal 2025 mendatang.
“Fenomena La Nina terjadi di Samudra Pasifik, tapi akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia,” ungkap Ardhasena, dikutip dari Kompascom.
Fenomena ini juga mempengaruhi cuaca di Indonesia seperti memberikan dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman yang ada di Indonesia.
Pada periode Juni-Juli-Agustus, La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.
Lalu pada periode September-Oktober-November, fenomena ini dapat meningkatkana curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia.
Sedangkan pada periode Desember-Januari-Februari, serta Maret-April-Mei, memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.
Dengan tidak stabilnya curah hujan di Indonesia, maka warga masyarakat Indonesia di minta selalu waspada dengan perubahan uaca yang tidak meentu ini.
PBB Umumkan Ancaman Baru : Bumi Menghadapi Kenaikan Suhu Ekstrem
Category: News
Oktober 22, 2024
Prolite – Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Badan Meteorologi Dunia (WMO) telah memberikan pengumuman bahwa kita sedang menghadapi ‘petaka baru’ di Bumi.
Mereka memberi tahu semua pemerintahan di seluruh dunia untuk bersiap-siap menghadapi cuaca yang ekstrem dan suhu tertinggi dalam beberapa bulan ke depan. Ini terkait dengan munculnya fenomena El Nino yang sedang berlangsung.
El Nino membawa suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya. Dan inilah yang menjadi perhatian besar, karena fenomena ini bisa berdampak besar pada cuaca di bumi kita. Artinya, bumi kita bisa jadi lebih panas dari biasanya dan memicu kekeringan yang parah.
Menanggapi dimulainya fenomena El Nino, Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, menyampaikan pernyataan yang cukup mencemaskan.
YouTube-Universal Postal Union
“Dimulainya El Nino akan sangat meningkatkan kemungkinan terpecahnya rekor suhu dan memicu gelombang panas yang lebih ekstrem di banyak bagian dunia, baik di daratan maupun lautan,” ujarnya seperti dilansir oleh CNN International pada Sabtu (15/7/2023).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa El Nino dapat berdampak serius pada suhu global dan memperparah kondisi panas yang sudah ekstrem di berbagai wilayah.
Petteri Taalas juga menekankan bahwa pernyataannya merupakan sinyal penting bagi pemerintah di seluruh dunia. Tujuannya adalah agar pemerintah segera melakukan persiapan yang diperlukan guna membatasi dampak El Nino terhadap kesehatan, ekosistem, dan ekonomi.
Suhu Bumi Mencapai Angka Tertinggi Dalam 3 Tahun Terakhir
Foto : Shutterstock
Dalam tiga tahun terakhir, Bumi telah mencatatkan suhu yang mencapai angka tertinggi. Hal ini terjadi meskipun sedang berlangsung fase La Nina yang seharusnya ditandai dengan suhu lautan yang lebih dingin dari rata-rata.
WMO menjelaskan bahwa kombinasi kuat antara El Nino dan pemanasan yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil manusia menjadikan tahun 2016 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.
Menurut WMO, munculnya El Nino pertama dalam tujuh tahun terakhir ini berpotensi membuat tahun 2023 atau 2024 melampaui rekor suhu yang tercatat pada 2016.
Mereka juga memperkirakan bahwa El Nino akan berlanjut selama paruh kedua tahun 2023 dengan kekuatan sedang, dengan probabilitas mencapai 90%.
WMO mengingatkan akan pentingnya peringatan dini dan tindakan antisipatif menghadapi peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan fenomena iklim ini. Hal ini penting untuk melindungi nyawa dan mata pencaharian masyarakat.
Suhu Rata-Rata Harian Bumi Melonjak Tinggi
iStockphoto
Sementara itu, CNBC International melaporkan bahwa suhu rata-rata harian Bumi mencapai angka yang mencengangkan, yaitu 17,23 derajat Celsius pada Kamis (6/7/2023). Tidak hanya itu, angka ini bahkan melampaui dua rekor panas sebelumnya yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Dalam berita yang sama, layanan perubahan iklim Uni Eropa juga mengonfirmasi bahwa bulan Juni baru-baru ini menjadi bulan terpanas dalam sejarah, dengan suhu permukaan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya dan rekor minimum es laut Antartika.
Prestasi ini dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa dan menggambarkan betapa signifikannya perubahan iklim yang kita alami saat ini.
Chris Hewitt, direktur layanan iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menyampaikan bahwa kita saat ini berada di wilayah yang belum dipetakan dan kita bisa mengekspektasikan lebih banyak rekor yang terpecahkan seiring perkembangan El Nino.
Dampak dari fenomena ini diprediksi akan berlanjut hingga tahun 2024. Pernyataannya menyoroti kompleksitas dan tantangan yang dihadapi dalam memahami dan mengantisipasi perubahan iklim yang sedang terjadi.
Menghadapi situasi ini, penting bagi kita untuk terus meningkatkan pemahaman kita tentang perubahan iklim, serta mengambil tindakan pencegahan dan penyesuaian yang sesuai.
Dengan memperhatikan peringatan para ahli dan mengambil langkah-langkah proaktif, kita dapat berkontribusi dalam melindungi planet ini dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
La Nina Panjang, Kota Bandung Dingin
Category: Daerah,News
Oktober 22, 2024
La Nina Panjang, Kota Bandung Dingin
BANDUNG, Prolite – La Nina. Belakangan ini cuaca Kota Bandung terasa lebih dingin dibanding biasanya. Curah hujan pun masih sering terjadi. Menurut Prakirawan Cuaca BKMG, Yan Firdaus Permadhi, hal ini ada kaitannya dengan kejadian La Nina panjang yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut.
“La Nina panjang menyebabkan suhu permukaan laut di sekitar Jabar itu rendah,” ujar Yan.
Meskipun begitu, menurutnya suhu saat ini sebenarnya lebih hangat dibandingkan suhu normal sepanjang 30 tahun terakhir.
Suhu di Februari yang normalnya berada di 20 derajat celcius sepanjang 30 tahun terakhir, saat ini suhu minimumnya 21 derajat.
“Bulan Januari juga suhu minimum normalnya 20 derajat celcius. Kalau kita rata-ratakan 20,8 derajat celcius, lebih hangat dari suhu normalnya,” ungkapnya.
Namun, cuaca dingin yang terasa belakangan ini diakibatkan dari angin kencang yang sering terjadi sejak awal Februari.
Untuk curah hujan, menurutnya, masih sesuai dengan angka normal. Sepanjang November-Desember lalu nilainya masih normal. Namun, untuk Januari memang berkurang 75 persen dari normalnya.
“Untuk Februari kita masih tunggu nilainya. Namun, ada peluang di Maret dan April ini akan normal juga,” ucapnya.
Ia memprediksi, pada bulan Ramadan nanti masih ada potensi hujan. Untuk itu, pihaknya masih akan terus memantau dinamika cuaca ke depannya.
Untuk saat ini, Yan mengimbau agar masyarakat lebih waspada dengan angin kencang yang berpotensi bencana alam.
“Masyarakat hati-hati dalam perjalanan karena bisa menyebabkan pohon tumbang yang mencelakai pengendara di jalan,” imbaunya.