Silent Treatment : Senjata Rahasia yang Bikin Hati Remuk

silent treatment

Prolite – Pernah ngalamin situasi di mana kamu lagi ngobrol seru sama seseorang, tapi tiba-tiba dia jadi diem aja gitu? Atau mungkin kamu yang pernah ngalamin jadi pihak yang didiemin? 

Nah, itu tuh yang namanya silent treatment. Kayaknya sepele, tapi dampaknya bisa bikin hubungan jadi renggang, lho. Yuk, kita bahas lebih lanjut tentang silent treatment ini!

Silent Treatment itu Apa, sih?

Ilustrasi by USA Today

Jadi, silent treatment itu kayak bentuk komunikasi pasif-agresif gitu guys. Orang yang ngelakuin ini biasanya lagi kesel atau lagi berusaha ngasih hukuman, tapi dengan cara yang nggak langsung.

Mereka milih diem aja daripada ngomong apa yang sebenarnya mereka rasakan. Ada banyak alasan kenapa seseorang ngelakuin silent treatment, diantaranya yaitu :

  • Takut Konflik: Kadang, orang lebih gampang diem daripada harus ngutarain pendapatnya dan berdebat.
  • Nggak Bisa Ngungkapin Emosi: Mereka mungkin lagi bingung dan nggak tahu gimana cara mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
  • Mau Ngendalikan: Silent treatment bisa jadi cara untuk mengendalikan situasi dan membuat orang lain merasa bersalah.

Dampak bagi Kesehatan Mental

Ilustrasi seseorang yang sedang merasa cemas – Freepik

Didiemin itu rasanya kayak gimana, sih? Ya tentunya gak enak lah! Meskipun terlihat sederhana, ini bisa meninggalkan luka yang dalam pada psikologis seseorang lho! Berikut beberapa dampaknya yang perlu kita waspadai:

  • Merasa Nggak Berharga: Kalau terus-terusan diabaikan, seseorang bisa mulai mikir, “Apa gue nggak penting ya?” Perasaan nggak layak dan nggak dihargai pun mulai muncul.
  • Cemas dan Stres: Ketidakpastian yang datang karena di-silent treatment bisa bikin kecemasan naik level. Pikiran negatif muter terus, bikin stres dan gelisah nggak karuan.
  • Depresi: Kalau berlangsung lama, silent treatment bisa bikin depresi loh. Rasa sedih, putus asa, dan kehilangan harapan bisa terus menghantui.
  • Marah dan Benci: Meski awalnya sedih, lama-lama orang yang sering di-silent treatment bisa berubah jadi marah dan bahkan benci sama orang yang melakukannya.
  • Sulit Percaya: Kepercayaan ke orang lain bisa semakin luntur. Mereka jadi susah buat menjalin hubungan yang sehat dan terbuka.
  • Masalah Kesehatan Fisik: Stres yang nggak kelar-kelar akibat silent treatment bisa berdampak buruk ke kesehatan fisik, mulai dari gangguan tidur, sakit kepala, sampai masalah pencernaan.

Nggak enak banget kan kalau terus-terusan didiemin? Tapi tenang, ada beberapa cara yang bisa kamu coba buat mengatasi situasi ini :

  • Komunikasi Terbuka: Cobalah ajak ngobrol lagi dengan tenang. Tanyakan apa yang sedang dipikirkannya dan sampaikan juga perasaanmu.
  • Cari Waktu yang Tepat: Jangan memaksakan untuk berbicara saat suasana sedang panas. Tunggu sampai kalian berdua lebih tenang.
  • Minta Bantuan: Kalau kamu merasa kesulitan menghadapinya sendiri, jangan ragu untuk minta bantuan teman, keluarga, atau bahkan seorang terapis.

Ilustrasi pasangan yang harmonis – Freepik

Silent treatment memang bisa bikin kesal dan bikin hati nggak tenang. Tapi, jangan sampai bikin kita putus asa, ya.

Dengan mengedepankan komunikasi yang baik dan terbuka, serta mengandalkan dukungan dari orang-orang terdekat, kita pasti bisa melewati masa-masa sulit ini.

Komunikasi yang terbuka dan jujur itu penting banget dalam sebuah hubungan. Jangan takut untuk ngungkapin perasaanmu, ya!




Gaya Komunikasi Asertif vs. Komunikasi Agresif dan Pasif : Perbedaan dan Dampaknya

Komunikasi

Prolite – Komunikasi adalah salah satu aspek fundamental dalam interaksi manusia sehari-hari, dan cara kita berkomunikasi dapat memiliki dampak besar pada dinamika hubungan, pemahaman, serta penyelesaian masalah. 

Gaya komunikasi yang digunakan oleh individu dapat bervariasi secara signifikan, dan seringkali dapat dibagi menjadi empat kategori utama: komunikasi asertif, pasif, agresif, dan pasif-agresif.

– Freepik

Setiap gaya ini memiliki karakteristik yang berbeda dan mempengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan diterima. 

Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi masing-masing gaya komunikasi ini, memahami perbedaan antara mereka, serta implikasi dari penggunaan masing-masing gaya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.

Berikut ini merupakan perbedaan antar gaya komunikasi:

1. Komunikasi Pasif

– shutterstock

  • Pasif dalam mengungkapkan kebutuhan:

Seseorang yang komunikasi pasif mungkin tidak berani mengatakan apa yang mereka inginkan. Misalnya, “Aku gak tau, terserah kamu aja.”

  • Menghindari konflik: 

Mereka sering menghindari konflik dan menahan perasaan mereka. Contohnya, “Gapapa, aku bisa sendiri kok.”

2. Komunikasi Agresif

– Freepik

  • Berbicara dengan keras dan menuntut:

Orang dengan gaya komunikasi agresif seringkali berbicara keras dan menuntut. Contoh, “Kamu harus melakukan ini sekarang!”

  • Menyalahkan orang lain: 

Mereka cenderung menyalahkan orang lain atas masalah. Contohnya, “Ini semua kesalahanmu.”

3. Komunikasi Pasif-Agresif

– Freepik

  • Menghindari konfrontasi tetapi merasa tidak puas:

Seseorang yang komunikasi pasif-agresif mungkin akan tersenyum tetapi sebenarnya merasa marah. Misalnya, mereka setuju dengan rencana tetapi kemudian mengeluh secara diam-diam.

  • Menyembunyikan perasaan:

Mereka bisa menyembunyikan kemarahannya dan mungkin mengomel dalam hati.

4. Komunikasi Asertif

– Freepik

  • Menyampaikan dengan jujur:

Orang yang berkomunikasi asertif dapat mengungkapkan perasaan dan kebutuhan mereka dengan jujur tanpa menyalahkan. Contoh, “Aku merasa kesal waktu kamu terlambat.”

  • Memperhatikan perasaan orang lain:

Mereka juga memperhatikan perasaan orang lain. Contohnya, “Saya mengerti bahwa ada banyak kegiatan di organisasi dan kepanitiaan, tapi kita harus beresin tugas ini.”

Gaya komunikasi dapat beragam dalam situasi berbeda, dan penting untuk diingat bahwa komunikasi asertif seringkali dianggap sebagai gaya yang paling efektif dalam menjaga hubungan yang sehat dan saling pengertian.