90% Warga Panjunan Berhasil Kelola Sampah

Panjunan

BANDUNG, Prolite – Kelurahan Panjunan Kecamatan Astana Anyar berhasil menjadi salah satu Kelurahan Kawasan Bebas sampah (KBS).

Lurah Panjunan Iya Sunarya menyampaikan warga masyarakat Kelurahan Panjunan sudah 90% Sudah disiplin melakukan memilah sampah.

“Alhamdulillah sudah dua hari tanggal 21 November dan rabu tanggal 22 November biasa 670 kg/hari sekarang sudah mencapai 1 ton/hari dari 6 RW dan 32 RT dari Jumlah rumah 1670 rumah dan jumlah penduduk 6567 Jiwa, rata-rata sampah organik rumah tangga 3 ton/hari,” ujar Iya usai menerima study tiru DLH Provinsi Aceh.

Masih kata Iya, agar warga disiplin memilahan sampah ini membutuhkan perjalanan yang cukup panjang selama 18 bulan.

Kata Iya, bukan tidak ada kendala dan tantangan tetapi dengan konsep terus menerus terjun ke masyarakat bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) menyampaikan pemahaman.

Karena ternyata masih banyak warga yang masih belum paham terkait regulasi atau perda No. 09 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah, pengurangan dan pemilahan sampah mulai dari sumber, artinya semua warga masyarakat yang memproduksi sampah harus bisa mengelolanya.

“Sehari yang memproduksi, alhamdulillah dengan konsep ngeureuyeuh nikreuh memilah sampah mimiti ti imah dan pengolahan sampah organik mengunakan mesin gibrik hasil sampah organik dijadikan Kompos, Magot dan eco enzim juga mol,” tutupnya.




‘Sigadisting’ Kelurahan Panjunan, Turunkan Stunting Dari 39,19 Persen Menjadi 2,5 Persen

Kelurahan Panjunan, Astanaanyar

‘Sigadisting’ Kelurahan Panjunan, Turunkan Stunting Dari 39,19 Persen Menjadi 2,5 Persen

BANDUNG, Prolite – Kelurahan Panjunan Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung berhasil menurunkan angka stunting, dari diangka 39,19% kini menjadi 2,5% atau hanya 9 bayi.

Itu pun bukan stunting semua melainkan ada faktor genetik dan lainnya.

Disampaikan Lurah Kelurahan Panjunan, Iya Sunarya menyampaikan saat ini ada 340 balita dan 9 anak dinyatakan stunting.

Kelurahan Panjunan, Astanaanyar

“Dulu kita tertinggi angka stuntingnya. Padalah itu kurang tinggi karena faktor genetik tidak ujug-ujug stunting, gagalnya pertumbuhan permasalahan gizi yg krusial. Nah ini masalah stunting ini kan kegagalan tumbuh kembang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan secara liner pada baita akibat dari akumulasi ketidakcukupan gizi dan nutrisi yang berlangsung dalam cukup lama yang terjadi pada setidaknya 1000 pertama kehidupan,” jelas Iya.

Lanjut Iya, sejak ada inovasi “Sigadisting” sigernitas pencegahan deteksi dini stunting tahun 2021, Kelurahannya keluar dari zona tertinggi stunting, kini diangka 2,5% dari 39,19%.

“Sigadiating ini, kita mulai pembinaan, sosialisai dan edukasi ke catin (calon pengantin) sebelum nikah mereka agar diperiksakan kesehatannya termasuk tes HIV AIDS,” jelasnya lagi.

Kelurahan Panjunan, Astanaanyar

“Tidak serta merta, saat hamil juga ada kader yang terus melalukan pendampingan, begitupun kontrol setelah melahirkan, nipas. Sehingga ibu dan bayi begitu lahir sehat,” tandasnya.

Berkat inovasi ini kata Iya, angka stunting diwilayahnya tidak bertambah.

Disinggung intervensi kewilayahnya dalam penanganan stunting ini, kata Iya memang bermula dari anggara.

“Sekarang 150 ribu per bulan per posyandu, di kita ada 7 posyandu dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dulu tahu 2022 sempat 3 bulan dari PKK Kota Bandung perbulan 1 kelurahan itu 1 juta, khusus untuk stunting. Dikita ya untuk 9 anak itu tapi sejak 2023 tidak hanya yang PMT saja, yang penting angka stunting disini menurun,” pungkasnya.