GREY Hair and Nail Artistry: The First Concept Combining Art and Gallery in Indonesia

Peresmian GREY Hair and Nail Artistry (Rizki Prolitenews).

GREY Hair and Nail Artistry: The First Concept Combining Art and Gallery in Indonesia

BANDUNG, Prolite – Menyambut ulang tahun ke-3 Grey Art Gallery, Grey kembali menghadirkan inovasi dalam dunia seni dan ekonomi kreatif melalui pembukaan GREY Hair and Nail Artistry, bertempat di Jl. Cilaki No. 28, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung. Sebuah salon yang tidak hanya menawarkan layanan kecantikan, tetapi juga menyajikan karya-karya seni yang dipamerkan pada dinding salon. Konsep ini merupakan yang pertama di Indonesia, menggabungkan ruang galeri dan salon kecantikan dalam satu pengalaman kreatif yang unik.

GREY Hair and Nail Artistry merupakan bagian dari ekosistem Grey yang lebih luas, di mana setiap ruang dan program saling melengkapi untuk mendukung pengembangan seni rupa dan ekonomi kreatif di Bandung. Grey sendiri digagas oleh Grace Christianti, Elia Yoesman, dan Jennifer Sugianto, dengan visi menghadirkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari serta memperluas cara publik berinteraksi dengan praktik seni rupa kontemporer.

Dengan menghadirkan karya seni di ruang salon, Grey menekankan bahwa apresiasi seni telah menjadi bagian dari gaya hidup, dan seni rupa kini cukup cair untuk masuk ke dalam ruang publik sehari-hari.

Rizki Oktaviani Prolitenews
Rizki Oktaviani Prolitenews

Di tahun pertamanya, GREY Hair and Nail Artistry menampilkan karya-karya dengan visualisasi monokrom hitam–putih. Kehadiran karya di ruang keseharian memposisikan seni terasa dekat, akrab, dan menjadi bagian dari pengalaman hidup, bukan sekadar pajangan. Kombinasi warna hitam dan putih memberi ruang bagi mata dan pikiran untuk berjeda serta bernapas sejenak.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari cara kita menjalani hari. Di GREY Hair and Nail Artistry, setiap karya hadir di tengah aktivitas sehari- hari, sehingga pengunjung bisa merasakan seni secara langsung — sebagai teman, inspirasi, atau momen refleksi dalam rutinitas mereka, ” ujar Grace Christianti, Owner/Founder GREY Hair and Nail Artistry.

Selain sebagai medium apresiasi, karya-karya yang ditampilkan juga tersedia untuk dijual, sebagai bagian dari distribusi karya dan dukungan terhadap praktik seni seniman. Dengan cara ini, salon tidak hanya menghadirkan pengalaman visual dan emosional, tetapi juga berperan dalam memperluas akses pasar bagi karya seni kontemporer.

GREY Hair and Nail Artistry menegaskan posisi Grey Art Gallery sebagai inovator dalam ekosistem seni rupa dan ekonomi kreatif, menghadirkan format baru yang memperluas batasan antara seni, budaya, dan aktivitas keseharian. Konsep ini menjadi platform bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus laboratorium eksperimen

bagi integrasi seni ke dalam gaya hidup publik, membuka kemungkinan baru bagi pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia.

Tentang Grey Art Gallery

Grey Art Gallery merupakan ruang seni rupa kontemporer di Bandung yang digagas oleh Grace Christianti, Elia Yoesman, dan Jennifer Sugianto, dengan komitmen membangun ekosistem bagi praktik seni, apresiasi publik, serta pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai format ruang dan program lintas disiplin.

Informasi lebih lanjut :

Email : @

Contact Person : (+62) 811-2009-912

 




Ekosistem GREY: Memperluas Medan Seni Rupa Kontemporer Bandung

Peresmian GREY CUBE oleh Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwista Kota, Dinas Pariwisata Provinsi serta jajaran dari GREY (Rizki Prolitenews).

Ekosistem GREY: Memperluas Medan Seni Rupa Kontemporer Bandung

BANDUNG, Prolite – Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-3 Grey Art Gallery, GREY terus memperluas perannya sebagai penggerak ekosistem seni rupa kontemporer melalui pengembangan ruang, program, dan platform kuratorial yang saling terhubung. Dua inisiatif penting yang menandai fase ini adalah kehadiran GREY CUBE sebagai ruang baru dalam ekosistem galeri, serta penyelenggaraan GREY Award 2026, perhelatan penghargaan seni rupa yang memasuki edisi ke-2.

Sebagai sebuah ekosistem, GREY tidak dibangun untuk menghadirkan satu representasi tunggal seni rupa kontemporer, melainkan sebagai struktur berlapis yang memungkinkan beragam praktik, posisi artistik, dan model distribusi saling berkelindan. Setiap ruang dan program dirancang dengan peran, skala, dan orientasi yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu visi pengembangan yang berkelanjutan.

GREY CUBE: Simpul Baru dalam Ekosistem

Rizki Oktaviani Prolitenews
Rizki Oktaviani Prolitenews

GREY CUBE diperkenalkan sebagai simpul baru dalam ekosistem Grey Art Gallery, berlokasi di Jl. Dago Lantai 3, Lb. Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132. Ruang ini tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri, melainkan memperkuat lapisan ekosistem yang telah ada melalui fokus kuratorial yang lebih terarah.

Pemilihan karya di GREY CUBE didasarkan pada praktik artistik yang telah berkembang serta relevansinya dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan karya hadir dengan posisi artistik yang tegas, sekaligus mendukung sirkulasi, distribusi, dan apresiasi karya tanpa memutus kesinambungan dengan ruang-ruang Grey lainnya.

Pada edisi pembukaannya, GREY CUBE menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. Para seniman ini dipertemukan dalam satu ruang tanpa upaya penyamaan arah atau gaya, sehingga setiap karya dapat hadir dengan karakter dan kekuatannya masing-masing.

Grey Award 2026: Monochrome as Manifesto

Rizki Oktaviani Prolitenews
Rizki Oktaviani Prolitenews

Sejalan dengan penguatan ruang, Grey Art Gallery juga melanjutkan komitmennya melalui Grey Award 2026, pameran dan penghargaan seni rupa yang menempatkan eksplorasi, eksperimentasi, dan perumusan sikap artistik sebagai nilai utama. Tahun ini menandai penyelenggaraan Grey Award ke-2, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendorong regenerasi dan penguatan ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia.

Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, Grey Award 2026 memposisikan monokrom bukan sekadar pendekatan visual, melainkan posisi konseptual. Kerangka karya dibatasi pada monokromatik hitam–putih—spektrum hitam, putih, dan gradasi abu-abu—sebagai pilihan artistik dan sikap kuratorial. Pembatasan ini tidak dimaksudkan  sebagai  pengekangan,  melainkan  sebagai  medan  yang  menuntut

ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur, dan materialitas karya.

Antusiasme terhadap Grey Award 2026 tercermin dari total 931 karya yang dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia. Seluruh karya melalui proses seleksi oleh dewan juri Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya. Dari tahap awal ini, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipresentasikan dalam pameran Grey Award 2026.

Tahap selanjutnya akan menyaring 10 finalis terbaik untuk mengikuti wawancara kuratorial sebagai ruang dialog yang lebih mendalam mengenai praktik, gagasan, dan arah kerja seniman. Dari proses ini, akan ditetapkan 3 seniman terbaik sebagai penerima Grey Award 2026.

Lebih dari sekadar kompetisi, Grey Award dirancang sebagai jembatan yang membantu seniman—khususnya seniman muda—memasuki medan sosial seni rupa yang lebih luas. Program ini membuka akses, membangun jejaring, serta memperkenalkan praktik artistik ke publik, kolektor, kurator, dan institusi seni, sebagai bagian dari upaya penguatan karier dan keberlanjutan praktik seni.

Mengundang Publik

Pameran Grey Award 2026 dapat dikunjungi di Grey Art Gallery, Jl. Braga No. 47, Bandung. Galeri dibuka setiap hari, dengan jam kunjung weekday pukul – WIB dan weekend pukul – WIB. Publik diundang untuk hadir dan mengalami secara langsung bagaimana monokrom hitam–putih dirumuskan sebagai bahasa visual, sikap artistik, sekaligus perayaan dan respons terhadap zamannya.

Melalui GREY CUBE dan Grey Award 2026, Grey Art Gallery menegaskan posisinya sebagai ruang yang tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membangun struktur, percakapan, dan peluang bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa kontemporer yang lebih luas dan berkelanjutan.