Poltergeist: Teror Tak Kasat Mata yang Mengguncang Dunia

poltergeist

Prolite – Poltergeist: Teror Tak Kasat Mata yang Mengguncang Dunia

Kembali lagi di edisi malam Jumat—waktu yang pas buat ngobrolin hal-hal yang bikin merinding tapi bikin penasaran. Kali ini kita bakal ngebahas salah satu fenomena horor paling misterius dan sering jadi bahan perdebatan: poltergeist.

Bukan sekadar hantu yang menampakkan diri, poltergeist dikenal sebagai entitas yang aktif, suka bikin gaduh, dan sering bikin orang yang mengalaminya trauma sekaligus bingung.

Fenomena ini sudah dilaporkan ratusan tahun lalu dan masih terus dibahas sampai sekarang, baik oleh peneliti paranormal, psikolog, maupun penikmat horor.

Dari benda yang bergerak sendiri, suara benturan keras di tengah malam, sampai perabotan rumah yang tiba-tiba beterbangan—semuanya bikin satu pertanyaan besar: apa sebenarnya poltergeist itu?

Apa Itu Poltergeist? Fenomena Gangguan Gaib yang Berbeda dari Hantu Biasa

Secara umum, poltergeist merujuk pada fenomena gangguan supranatural yang ditandai oleh aktivitas fisik tanpa wujud yang jelas. Nama poltergeist berasal dari bahasa Jerman, yaitu poltern yang berarti “berisik” atau “ribut”, dan geist yang berarti “roh”. Jadi, secara harfiah, poltergeist bisa diartikan sebagai roh berisik.

Tapi jangan langsung membayangkan hantu dengan penampakan menyeramkan. Justru, salah satu ciri khas poltergeist adalah ketidakhadiran wujud visual. Gangguan biasanya berupa benda yang bergerak atau jatuh sendiri, pintu yang terbanting, suara ketukan keras di dinding, hingga perabotan rumah yang seolah dilempar oleh tangan tak kasat mata.

Berbeda dengan hantu atau arwah yang sering dikaitkan dengan tempat tertentu atau masa lalu seseorang, poltergeist sering dianggap fenomena yang aktif dan dinamis. Artinya, gangguan ini bisa meningkat intensitasnya dalam waktu singkat dan sering berpusat pada individu tertentu, bukan lokasi.

Beberapa peneliti bahkan berpendapat bahwa poltergeist bukanlah roh, melainkan manifestasi energi psikologis—terutama pada remaja yang sedang mengalami tekanan emosional. Inilah yang membuat fenomena ini unik sekaligus kontroversial.

Kisah-Kisah Poltergeist Terkenal di Dunia yang Masih Dibahas hingga Kini

Salah satu kasus paling terkenal adalah Enfield Poltergeist yang terjadi di London pada akhir 1970-an. Kasus ini melibatkan sebuah keluarga yang melaporkan gangguan supranatural di rumah mereka: suara ketukan misterius, furnitur yang bergerak sendiri, hingga seorang anak yang diduga kerasukan.

Kasus Enfield menjadi sorotan internasional karena melibatkan penyelidikan panjang dari peneliti paranormal, media, hingga aparat setempat. Beberapa saksi mengklaim melihat benda melayang dan mendengar suara aneh tanpa sumber jelas. Namun, di sisi lain, skeptisisme juga muncul—ada yang menilai bahwa sebagian kejadian mungkin hasil rekayasa atau sugesti.

Selain Enfield, fenomena poltergeist juga banyak dilaporkan di Eropa dan Amerika, terutama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menariknya, banyak kasus menunjukkan pola yang sama: gangguan terjadi di sekitar anak atau remaja, berlangsung intens, lalu tiba-tiba berhenti.

Pelajaran penting dari kasus-kasus ini adalah betapa tipisnya batas antara fenomena supranatural dan kondisi psikologis manusia. Sampai hari ini, poltergeist tetap menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Poltergeist dalam Budaya Populer: Film, Serial, dan Buku

Kalau kamu penggemar film horor, nama Poltergeist (1982) pasti nggak asing. Film ini diproduksi oleh Steven Spielberg dan disutradarai oleh Tobe Hooper. Ceritanya berfokus pada sebuah keluarga yang diteror oleh entitas supranatural di rumah mereka—lengkap dengan benda beterbangan, suara aneh, dan anak kecil yang menjadi pusat kejadian.

Film ini dianggap sebagai salah satu film horor klasik paling berpengaruh karena berhasil memadukan teror psikologis dan visual dengan cerita keluarga yang relatable. Kesuksesannya bahkan melahirkan sekuel dan berbagai teori konspirasi di balik proses produksinya.

Pada tahun 2015, Poltergeist di-remake oleh Gil Kenan dan diproduksi oleh Sam Raimi. Versi ini menghadirkan visual yang lebih modern, tapi tetap mempertahankan elemen gangguan supranatural khas poltergeist.

Selain film, fenomena ini juga banyak dibahas dalam buku-buku horor dan paranormal. Beberapa rekomendasi bacaan antara lain:

  • The Poltergeist Phenomenon karya Alan Gauld & A.D. Cornell
  • Ghosts and Poltergeists oleh Rosemary Ellen Guiley
  • The Enfield Poltergeist Tapes karya Maurice Grosse

Buku-buku ini mencoba mengulas poltergeist dari sudut pandang sejarah, investigasi, hingga psikologi.

Poltergeist: Antara Teror, Psikologi, dan Misteri yang Belum Terjawab

Hingga tahun 2026, belum ada kesimpulan tunggal tentang apa sebenarnya poltergeist. Apakah ini benar-benar roh yang “berisik”? Ataukah manifestasi stres emosional manusia yang belum kita pahami sepenuhnya?

Yang jelas, poltergeist tetap menjadi fenomena horor yang menakutkan sekaligus menarik. Ia menantang logika, memicu ketakutan primal, dan terus hidup dalam cerita, film, serta pengalaman orang-orang di seluruh dunia.

Jadi, kalau suatu malam kamu mendengar suara benda jatuh tanpa sebab atau pintu bergerak sendiri—siapa tahu, itu bukan sekadar angin. Tapi tenang… semoga cuma cerita. 😱

Kalau kamu suka artikel horor seperti ini, jangan lupa share ke teman yang berani begadang di malam Jumat. Siapa tahu, mereka juga penasaran sama teror tak kasat mata bernama poltergeist.




Film Kuyank Bangkitkan Urban Legend Kalimantan yang Paling Ditakuti

Film Kuyank

Prolite – Film Kuyank Bangkitkan Urban Legend Kalimantan yang Paling Ditakuti

Kembali lagi di edisi malam Jumat. Awal tahun 2026, penggemar film horor Indonesia bakal diajak masuk ke dunia mistis Kalimantan lewat film Kuyank, sebuah karya yang mengangkat urban legend lokal yang selama ini hanya beredar lewat bisik-bisik dan cerita turun-temurun.

Diproduksi oleh Dari Hati Film (DHF), Kuyank bukan sekadar film horor biasa. Film ini menjadi bagian dari Semesta Horor Saranjana: Kota Gaib, sebuah jagat sinema horor yang menggabungkan mitologi lokal, trauma manusia, dan teror yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dijadwalkan tayang 29 Januari 2026, Kuyank menjanjikan horor yang bukan cuma menyeramkan, tapi juga menyisakan rasa tidak nyaman lama setelah film selesai.

Kuyang: Urban Legend Kalimantan yang Melegenda dan Menghantui

Di masyarakat Kalimantan, nama kuyang bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah simbol ketakutan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kuyang dipercaya sebagai makhluk mitologis berwujud kepala manusia tanpa tubuh, dengan organ dalam seperti usus, jantung, dan hati yang menggantung di bawah kepalanya.

Legenda menyebutkan, kuyang umumnya berwujud perempuan berambut panjang, yang pada siang hari tampak seperti manusia biasa. Namun saat malam tiba, terutama setelah ritual ilmu hitam dilakukan, kepalanya dapat terlepas dari tubuh dan terbang bebas mencari mangsa.

Target utama kuyang sering kali adalah bayi, ibu hamil, atau perempuan melahirkan. Dalam kepercayaan lokal, darah dan organ tertentu diyakini memberi kekuatan untuk mempertahankan kecantikan, awet muda, dan kekuatan gaib. Inilah yang membuat sosok kuyang bukan hanya menyeramkan secara visual, tetapi juga sarat makna sosial: ketakutan terhadap ambisi, kecemburuan, dan keputusasaan.

Menariknya, mitos kuyang memiliki kemiripan dengan legenda lain di Nusantara seperti palasik di Sumatra atau leyak di Bali. Namun, kuyang tetap punya ciri khas Kalimantan yang kuat, terutama dalam kaitannya dengan kepercayaan adat dan konflik batin perempuan.

Film Kuyank dalam Semesta Horor Saranjana

Film Kuyank mengambil latar waktu tujuh tahun sebelum kisah utama Saranjana: Kota Gaib. Artinya, penonton diajak menyelami asal-usul teror yang kelak membentuk semesta horor tersebut.

Alih-alih langsung menyuguhkan jumpscare, film ini membangun atmosfer lewat konflik batin, tekanan adat, dan ketakutan yang tumbuh perlahan. Pendekatan ini membuat horor terasa lebih personal dan realistis.

Sinopsis Film Kuyank: Cinta, Tekanan, dan Jalan Gelap

Kisah bermula di sebuah desa terpencil. Badri, seorang pria kaya, jatuh cinta pada Rusmiati, gadis desa yang polos dan sederhana. Setelah ibunya meninggal, Badri melamar Rusmiati dan membangun rumah tangga yang awalnya penuh harapan.

Namun, kebahagiaan itu perlahan retak. Bertahun-tahun menikah, Rusmiati belum juga dikaruniai anak. Tekanan adat mulai menghimpit. Ibu mertua menuntut Badri menikah lagi demi mendapatkan keturunan.

Badri berusaha menenangkan Rusmiati dan meyakinkannya bahwa cinta mereka cukup. Tetapi segalanya berubah ketika Rusmiati tanpa sengaja mendengar rencana keluarga untuk menikahkan Badri dengan perempuan lain bernama Fauziah.

Tekanan batin, rasa takut kehilangan, dan keputusasaan mendorong Rusmiati mengambil keputusan fatal. Ia nekat mempelajari ajian kuyang, ilmu hitam terlarang yang diyakini bisa membuatnya tetap cantik, muda, dan memikat.

Ketika Cinta Berubah Menjadi Kutukan

Keputusan Rusmiati membuka pintu teror. Sejak saat itu, desa mulai dihantui kejadian aneh. Bayi dan ibu hamil menjadi korban misterius setiap malam. Ketakutan menyebar, warga mulai curiga, dan bisik-bisik tentang kuyang kembali hidup.

Rahasia kelam Rusmiati akhirnya terbongkar. Warga menuntut pertanggungjawaban. Amarah massa tak terbendung. Di tengah kekacauan, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit dalam hidupnya: menyelamatkan istrinya dari amukan warga, atau melepaskan cinta yang telah berubah menjadi kutukan berdarah.

Horor Lokal dengan Isu Sosial yang Relevan

Yang membuat Kuyank terasa berbeda adalah lapisan maknanya. Film ini tak hanya menakut-nakuti penonton, tapi juga mengangkat isu tekanan sosial terhadap perempuan, tuntutan memiliki keturunan, dan bagaimana cinta bisa berubah menjadi kehancuran saat dibungkus ketakutan.

Kuyang di sini bukan sekadar monster, melainkan manifestasi dari luka batin dan ketidakadilan yang tak pernah diselesaikan.

Siap Menghantui Layar Lebar Awal 2026

Dengan latar budaya Kalimantan yang kuat, visual horor yang gelap, dan cerita yang emosional, film Kuyank berpotensi menjadi salah satu film horor lokal paling dibicarakan di awal 2026.

Film ini dijadwalkan tayang 29 Januari 2026, waktu yang pas untuk mengawali tahun dengan rasa merinding.

Jadi, berani nonton Kuyank di bioskop? Atau kamu lebih memilih menutup mata… dan telinga… saat kisah kuyang kembali terbang di malam hari?




Siap Bikin Sesak Napas, Film LIFT Hadirkan Horor Psikologis yang Intens

Prolite – Terjebak di Antara Lantai dan Rasa Bersalah: Film LIFT Hadirkan Teror Psikologis yang Bikin Deg-degan

Bayangkan kamu terjebak di dalam lift kantor pada malam hari. Lampu redup, sinyal hilang, dan suara asing tiba-tiba muncul dari interkom. Bukan sekadar gangguan teknis tapi ancaman. Inilah atmosfer mencekam yang ditawarkan film LIFT, sebuah film teror psikologis yang mengandalkan tekanan batin, rahasia masa lalu, dan ruang sempit sebagai sumber horor utamanya.

Dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2026, LIFT hadir dengan pendekatan yang berbeda dari film horor kebanyakan. Tidak mengandalkan jumpscare berlebihan, film ini justru bermain di ranah psikologis—mengulik rasa bersalah, ketakutan, dan dilema moral yang pelan-pelan menghantui para karakternya.

Teror yang Berakar dari Kecelakaan Masa Lalu

Cerita LIFT berpusat pada sebuah kecelakaan lift maut yang terjadi enam tahun lalu di sebuah perusahaan konstruksi besar. Insiden tersebut menewaskan direktur utama perusahaan dan, hingga kini, menyisakan banyak pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab di ruang publik.

Waktu berlalu, kasus itu seolah terkubur. Namun luka lama ternyata belum sembuh. Teror kembali muncul ketika Hansen, direktur pengganti, menghilang secara misterius di kantor pada suatu malam kerja. Hilangnya Hansen menjadi pemicu rangkaian peristiwa ganjil yang menyeret banyak pihak yang terlibat—langsung maupun tidak—dalam kecelakaan lift enam tahun silam.

Terjebak di Lift, Terjebak oleh Rahasia

Ketegangan utama film ini terpusat pada dua karakter: Linda, staf humas perusahaan, dan Anton, mantan jurnalis yang pernah menjadi rekanan perusahaan. Keduanya terjebak di dalam lift kantor yang tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan.

Situasi yang awalnya terlihat seperti masalah teknis biasa berubah menjadi mimpi buruk saat suara misterius muncul melalui interkom lift. Suara itu bukan hanya mengintimidasi, tapi juga tahu terlalu banyak. Ia mengancam akan membuka peran Linda dan Anton dalam menutupi fakta kecelakaan lift enam tahun lalu.

Tekanan meningkat drastis ketika Linda mengetahui bahwa anaknya ikut disandera oleh pelaku tak dikenal tersebut. Ancaman yang tadinya bersifat reputasional kini berubah menjadi sangat personal. Pilihan Linda menjadi semakin sempit: melindungi citra perusahaan atau menyelamatkan nyawa anaknya.

Doris dan Tekanan di Balik Layar Kekuasaan

Sementara itu, teror tidak hanya berhenti di dalam lift. Doris, istri Hansen, menerima pesan-pesan aneh yang memaksanya datang ke kantor pada malam hari. Tanpa ia sadari, Doris ikut terseret ke dalam pusaran ancaman yang sama—rahasia lama yang selama ini disembunyikan perusahaan.

Melalui karakter Doris, film LIFT memperluas konflik dari sekadar ruang sempit lift menjadi jejaring kekuasaan dan kebohongan yang lebih besar. Penonton diajak melihat bagaimana keputusan di balik meja direksi bisa berdampak panjang, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Horor Psikologis dalam Ruang Sempit

Salah satu kekuatan utama LIFT terletak pada penggunaan ruang terbatas sebagai alat naratif. Lift bukan hanya lokasi kejadian, tapi juga simbol tekanan psikologis. Tidak ada tempat lari, tidak ada ruang bernapas, dan waktu terasa berjalan lambat.

Pendekatan ini sejalan dengan tren horor psikologis modern yang lebih menekankan pada ketegangan emosional dan konflik batin, bukan sekadar visual menyeramkan. Rasa takut dibangun melalui dialog, suara, dan keheningan yang menekan—membuat penonton ikut merasakan sesaknya situasi yang dialami karakter.

Dilema Moral: Reputasi atau Nyawa?

Di balik teror dan misteri, LIFT mengangkat tema yang relevan dengan dunia modern: etika, tanggung jawab, dan konsekuensi dari menutup kebenaran. Linda, sebagai humas perusahaan, merepresentasikan wajah korporasi yang terbiasa mengelola citra. Namun ketika nyawa anaknya dipertaruhkan, semua strategi komunikasi menjadi tidak berarti.

Film ini mengajak penonton bertanya: sejauh mana seseorang rela berbohong demi stabilitas dan reputasi? Dan apakah rahasia benar-benar bisa dikubur selamanya?

Deretan Pemeran dan Jadwal Tayang

Film LIFT diperkuat oleh jajaran aktor dan aktris ternama seperti Verdi Solaiman, Ismi Melinda, Max Metino, dan Shareefa Daanish, serta sejumlah pemeran lainnya. Kehadiran mereka menambah bobot emosional dan intensitas cerita, terutama dalam menghadirkan karakter dengan konflik batin yang kompleks.

Dengan cerita yang padat, atmosfer mencekam, dan tema psikologis yang kuat, LIFT dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2026. Film ini digadang-gadang menjadi salah satu tontonan horor psikologis lokal yang patut dinantikan awal tahun depan.

Siap Masuk Lift?

LIFT bukan sekadar film horor tentang kecelakaan atau teror misterius. Ini adalah kisah tentang rasa bersalah yang tertunda, kebohongan yang menumpuk, dan harga mahal dari menutup kebenaran. Jika kamu pencinta horor psikologis yang mengandalkan cerita dan tekanan emosional, film ini layak masuk daftar tontonan wajib.

Berani nggak naik lift bareng rahasia masa lalu? Jangan lewatkan LIFT di bioskop Februari 2026—dan siapkan mental sebelum pintu lift tertutup.




The Conjuring: Last Rites jadi Akhir Perjalanan Paranormal Ed dan Lorraine Warren

The Conjuring Last Rites menjadi perjalanan terakhir dua paranormal (IG @theconjuring.updates).

The Conjuring: Last Rites jadi Akhir Perjalanan Paranormal Ed dan Lorraine Warren

Prolite – Siapa yang tidak tau dengan judul film horor yang satu ini, The Conjuring: Last Rites kini sudah bisa kamu saksikan di layar lebar.

Film ini menandai penutup waralaba Conjuring sekaligus menjadi akhir perjalanan paranormal Ed dan Lorraine Warren dalam menangani berbagai kasus supernatural.

Film yang disutradarai oleh Michael Chaves, Last Rites kembali mengangkat kisah nyata investigasi Ed dan Lorraine terhadap keluarga Smurl yang diteror fenomena supernatural di Pennsylvania era 1980-an.

Tak ketinggalan, boneka Annabelle juga kembali muncul secara singkat, memperkuat keterkaitan cerita dengan film-film sebelumnya di The Conjuring Universe.

Nah, sebelum menonton Last Rites, ada baiknya kamu menonton dulu film-film The Conjuring lainnya.

Berikut ini urutan menonton berdasarkan alur ceritanya!

  1. The Nun (2018)

HBO Max
HBO Max

The Nun menjadi awal kemunculan sosok iblis Valak, Beauties. Film ini bercerita tentang seorang biarawati muda di sebuah biara terpencil di Rumania yang ditemukan meninggal secara misterius. Untuk menyelidiki kasus ini, Vatikan mengutus seorang pendeta, yang kemudian harus menghadapi kekuatan jahat dalam wujud biarawati menyeramkan.

  1. The Nun 2 (2023)

Berlatar tahun 1956, sekuel ini diawali dengan pembunuhan seorang pendeta yang kemudian memicu serangkaian teror. Kehidupan Suster Irene mendadak berubah ketika Valak kembali muncul untuk menerornya. Bersama Suster Debra, Irene berusaha melacak dan menghentikan iblis dalam wujud biarawati tersebut sebelum kekuatan jahat itu semakin lepas kendali.

  1. Annabelle: Creation (2017)

Prime Video
Prime Video

Annabelle: Creation diawali dengan Samuel Wullins dan istrinya, Esther, yang menyimpan arwah putri mereka yang meninggal ke dalam sebuah boneka. Beberapa tahun kemudian, keluarga Wullins membuka rumah lama mereka untuk Suster Charlotte dan beberapa gadis muda dari panti asuhan. Secara tak sengaja, seorang gadis bernama Janice melepaskan sosok jahat yang menghuni boneka Annabelle dan memicu teror menaklukkan bagi semua penghuni rumah.

  1. Annabelle (2014)

Film ini merupakan sekuel dari Annabelle: Creation, yang menampilkan boneka Annabelle mulai meneror pasangan muda yang baru saja pindah ke rumah mereka. Film ini semakin menguatkan peran boneka berhantu Annabelle dalam The Conjuring Universe dan membangun keterkaitan cerita antar film horor dalam saga tersebut, Beauties.

  1. The Conjuring (2013)

The Conjuring adalah film pertama yang memperkenalkan pasangan paranormal, Ed dan Lorraine Warren. Mereka menyelidiki sebuah rumah di Rhode Island yang dihantui oleh roh jahat bernama Bathsheba yang meneror keluarga Perron.

  1. Annabelle Comes Home (2019)

Berlatar setelah The Conjuring, boneka Annabelle dibawa ke rumah keluarga Warren. Namun, secara tak sengaja, boneka itu melepaskan berbagai entitas jahat yang mulai menghantui rumah mereka, termasuk artefak supernatural lainnya.

  1. The Curse of La Llorona (2019)

The Curse of La Llorona adalah film yang terinspirasi dari legenda rakyat Amerika Latin tentang hantu La Llorona. Meski ceritanya tidak terhubung langsung dengan film-film lain, film ini tetap masuk ke dalam The Conjuring Universe karena menampilkan Pastor Perez, karakter yang sebelumnya muncul di Annabelle (2014).

  1. The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist (2016)

Berlatar tahun 1977, The Conjuring 2 mengikuti penyelidikan Ed dan Lorraine Warren di Enfield, terkait fenomena poltergeist yang menghantui keluarga Hodgson.

Film ini juga menandai kembalinya sosok iblis Valak, yang sebelumnya muncul di The Nun. Valak dapat mengendalikan roh bernama Bill Wilkins untuk menghantui keluarga Hodgson, memanipulasi anak perempuan mereka, Janet, sebagai perantara kekuatan jahatnya.

  1. The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It (2021)

The Conjuring: The Devil Made Me Do It adalah film ketiga dari seri utama The Conjuring, Beauties. Film ini kembali menghadirkan pasangan Ed dan Lorraine Warren yang berhadapan dengan roh jahat dan seorang okultis yang memanggil kekuatan iblis melalui ritual kutukan.

Itulah urutan film dari waralaba Conjuring yang sebaiknya kamu tonton sebelum menyaksikan film terakhirnya, The Conjuring: Last Rites, Beauties. Dengan mengikuti alur ini, pengalaman menontonmu akan lebih menyenangkan dan kronologis, sehingga tiap momen horor terasa lebih menegangkan dan menyatu.

 




Wajib Masuk Watchlist! 4 Film Lokal yang Rilis di 21 Agustus 2025

Film Lokal

Prolite – Wajib Masuk Watchlist! 4 Film Lokal yang Rilis di 21 Agustus 2025

Tanggal 21 Agustus 2025 jadi salah satu momen spesial buat para pecinta film lokal. Pasalnya, ada empat film Indonesia baru yang resmi rilis di bioskop tanah air.

Mulai dari horor yang bikin merinding, thriller dengan sentuhan balas dendam, sampai drama keluarga penuh emosi—semua ada di minggu ini.

Jadi, buat kamu yang lagi nyari tontonan segar, keempat film lokal ini wajib banget masuk daftar nontonmu. Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Labinak: Mereka Ada di Sini – Horor dengan Misteri Kanibalisme

Film garapan Azhar Kinoi Lubis ini membawa horor lokal ke level baru dengan sentuhan legenda gelap. Ceritanya tentang Najwa (Raihaanun), seorang guru dari kota kecil yang pindah ke Jakarta bersama putrinya, Yanti (Nayla Denny Purnama).

Ia mendapat tawaran mengajar di sekolah elite, tapi rumah barunya ternyata menyimpan rahasia kelam. Arwah korban praktik kanibalisme kuno yang terhubung dengan yayasan sekolah mulai menampakkan diri.

Menjelang sebuah ritual mengerikan, Najwa harus berjuang melindungi dirinya dan anaknya agar tidak dijadikan tumbal. Dengan bintang seperti Raihaanun, Arifin Putra, Jenny Zhang, hingga Giulio Parengkuan, film ini menjanjikan ketegangan tanpa henti. Kalau kamu penggemar horor psikologis dengan bumbu budaya lokal, Labinak jelas jadi pilihan pas.

2. Hanya Namamu dalam Doaku – Drama Keluarga yang Bikin Nangis

Kalau kamu lebih suka drama penuh emosi, karya Reka Wijaya ini siap menguras air mata. Film ini mengisahkan Arga (Vino G. Bastian), seorang ayah dan suami penyayang yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah divonis menderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit langka yang belum ada obatnya.

Alih-alih terbuka, Arga memilih menyembunyikan penyakitnya demi melindungi keluarganya—istrinya Hanggini (Nirina Zubir) dan putri mereka, Nala (Anantya Kirana). Tapi keputusannya justru memicu konflik besar dalam rumah tangga. Selain Vino dan Nirina, film ini juga dibintangi Naysilla Mirdad, Ge Pamungkas, hingga Marcell Darwin, yang menambah kedalaman cerita.

Tema tentang penyakit serius dan pengorbanan cinta dalam keluarga membuat film ini bukan sekadar tontonan, tapi juga refleksi hidup.

3. Darah Nyai – Horor-Thriller dengan Sentuhan Mistis Laut Selatan

Film ketiga, Darah Nyai, menggabungkan horor supranatural dengan kisah balas dendam penuh darah. Cerita dimulai dari sebuah pembunuhan brutal yang membangkitkan amarah Laut Selatan. Sosok mistis Nyai (Jessica Katharina) muncul dan memilih Rara (Violla Georgie) sebagai perpanjangan tangannya.

Dengan kekuatan supranatural, Rara memburu geng perdagangan manusia yang dipimpin Boni (Rory Asyari). Di sisi lain, Inspektur Yati (Vonny Anggraini) mencoba mengurai misteri pembunuhan keji itu, sampai akhirnya bertemu Mbak Endang (Nai Djenar Maisa Ayu), sosok yang menyimpan rahasia kelam Laut Selatan.

Disutradarai Yusron Fuadi, film ini menarik karena bukan cuma menakutkan, tapi juga punya lapisan pesan sosial tentang keadilan dan keberanian.

4. The Sun Gazer: Cinta dari Langit – Drama Spiritual yang Menyentuh

Film besutan Jastis Arimba ini mengangkat drama keluarga dengan sentuhan spiritual. Kisahnya tentang Moyer (Mario Irwinsyah) dan Asiyah (Ratu Anandita), pasangan suami istri yang lama mendambakan anak tapi tak kunjung dikaruniai. Setelah berbagai usaha gagal, Moyer akhirnya memutuskan menceraikan Asiyah, keputusan pahit yang menghancurkan keduanya.

Di tengah kehancuran itu, hadir dua perempuan baru yang memberi cahaya harapan. Namun, dilema besar muncul: Moyer sadar ia tidak akan pernah mampu memberi keturunan. Dengan jajaran pemain seperti Revalina S. Temat, Dewi Yull, Niniek L. Karim, hingga Miqdad Adausy, film ini menawarkan kisah reflektif tentang cinta, pengorbanan, dan makna sejati sebuah keluarga.

Film Lokal Mana yang Jadi Pilihanmu di Bioskop?

Lebaran 2025

Empat film ini jelas menunjukkan keragaman warna perfilman Indonesia. Dari kengerian Labinak dan Darah Nyai, sampai haru-biru Hanya Namamu dalam Doaku dan The Sun Gazer, semua punya kekuatan sendiri-sendiri. Menariknya, jadwal tayang yang barengan bikin kamu bisa pilih genre sesuai mood.

Kalau kamu suka uji nyali, horor jadi pilihan. Kalau butuh drama emosional yang bikin hati terenyuh, drama keluarga ini pasti cocok banget.

Jadi, film lokal mana yang bakal kamu tonton dulu minggu ini? Yuk, langsung ajak teman, keluarga, atau pasangan buat isi akhir pekan dengan film-film keren karya anak bangsa!




Narik Sukmo & Arwah – Deretan Horor Lokal yang Menghantui Juli 2025

Horor Lokal

Prolite – Narik Sukmo & Arwah – Deretan Horor Lokal yang Menghantui Juli 2025

Yap, edisi malam Jumat tiba lagi dan kali ini kita kedatangan dua tamu istimewa dari dunia perfilman horor Indonesia: “Narik Sukmo” dan “Arwah”. Dua film lokal yang siap bikin kamu was-was bahkan setelah filmnya selesai.

Bulan Juli 2025 ini, bioskop Indonesia dihiasi dengan sajian horor lokal yang makin matang dan mengakar ke budaya. Bukan cuma soal hantu-hantuan biasa, tapi juga kisah mistis dan emosional yang nyambung ke batin penonton. Penasaran kenapa dua film ini viral dan jadi bahan omongan? Yuk, kita bahas satu per satu dengan santai tapi… siap-siap bulu kuduk naik!

Narik Sukmo: Ketika Tarian Membawa Arwah Pulang…

Film Narik Sukmo membawa kita masuk ke dunia seni tradisional yang penuh misteri. Cerita ini berfokus pada sebuah tarian kuno yang konon bisa “menarik sukma” alias menghubungkan dunia arwah dengan dunia manusia. Sounds creepy? Tunggu sampai kamu lihat bagaimana ritual ini dipentaskan dalam filmnya.

Dibuka dengan setting desa yang hening, jauh dari modernitas, seorang penari muda bernama Ayu mulai mengalami mimpi-mimpi ganjil setelah diminta belajar tarian sakral yang sudah lama tidak dipentaskan. Semakin dalam ia mendalami tariannya, semakin kuat pula gangguan dari dunia lain.

Atmosfer film ini dibangun dengan sangat halus—dari suara gamelan yang mengganggu, hingga mata-mata tak kasatmata yang mengawasi setiap gerak sang penari. Bukan jump scare asal-asalan, tapi horor yang perlahan masuk ke tulang.

Yang bikin menarik, “Narik Sukmo” nggak hanya bicara soal mistis, tapi juga bagaimana seni tradisional bisa jadi jembatan antara dunia fisik dan spiritual. Sentuhan budaya Jawa yang kuat membuat film ini bukan hanya menyeramkan, tapi juga penuh makna.

Arwah: Tragedi Keluarga dan Jeritan Sang Adik dari Alam Sana

Film “Arwah” mengambil pendekatan horor psikologis yang emosional. Ceritanya dimulai dari kecelakaan tragis yang merenggut nyawa satu keluarga, menyisakan satu orang—Rara, sang kakak sulung—sebagai satu-satunya yang selamat.

Tapi tragedi itu bukan akhir. Justru di sinilah semuanya bermula.

Rara mulai mengalami kejadian-kejadian aneh: mainan adiknya yang bergerak sendiri, rekaman suara tangisan anak kecil, dan mimpi berulang yang mengarah ke tempat kecelakaan. Pelan-pelan, ia sadar bahwa arwah adik bungsunya belum tenang… dan menuntut kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Film ini sukses bikin penonton relate karena bermain dengan rasa kehilangan dan penyesalan. Banyak yang bilang horornya terasa banget karena kita ikut merasakan emosi tokohnya. Ditambah dengan sinematografi dingin dan naskah yang padat, “Arwah” menyentuh sekaligus menyeramkan.

Tren Horor Lokal: Kemenangan Cerita yang Dekat di Hati

Bukan rahasia lagi kalau film horor lokal sedang berada di puncak kejayaannya. Tapi kenapa, sih, film seperti Narik Sukmo dan Arwah bisa begitu nempel di hati (dan pikiran) penonton?

  • Dekat dengan budaya: Horor yang lahir dari legenda dan tradisi lokal terasa lebih nyata dan relevan. Seperti Narik Sukmo yang mengangkat tarian tradisional, atau Arwah yang bicara soal trauma keluarga—dua tema ini nggak asing di telinga kita.
  • Atmosfer > Efek Visual: Banyak film horor luar mengandalkan CGI dan visual seram, tapi film lokal belakangan ini lebih bermain dengan atmosfer. Musik gamelan yang fals, bayangan samar di belakang pintu, atau suara tangisan di tengah sunyi lebih menyeramkan daripada monster besar.
  • Resonansi Emosional: Horor bukan cuma bikin takut, tapi juga bikin mikir dan merasa. Baik Narik Sukmo maupun Arwah menyorot sisi emosional yang dalam, membuat penonton nggak cuma menjerit, tapi juga terdiam setelah lampu bioskop menyala.

Menurut data dari Asosiasi Perfilman Indonesia (Juni 2025), genre horor menyumbang hampir 40% total penjualan tiket film nasional dalam 6 bulan pertama tahun ini. Itu artinya, film-film seperti ini nggak hanya ditonton karena takut, tapi karena punya nilai narasi yang kuat.

Atmosfer, Budaya, dan Rasa: Tiga Pilar Horor Lokal yang Nempel di Tulang

 

Kalau kamu cari film horor yang hanya bikin kaget, mungkin kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu cari cerita yang bisa bikin kamu merinding sambil mikir dan terhubung dengan akar budaya, dua film ini adalah jawabannya.

“Narik Sukmo” dan “Arwah” berhasil menggabungkan:

  • Cerita rakyat + isu modern
  • Visual etnik + teknik sinematik modern
  • Nuansa spiritual + tragedi emosional

Ini adalah arah baru horor lokal—bukan cuma tentang hantu, tapi tentang manusia, hubungan, dan sisi gelap dari rasa.

Siap Disapa Dunia Lain?

Nah, guys sudah siap menonton Narik Sukmo dan Arwah di bioskop?

Dua film ini bukan cuma ajang uji nyali, tapi juga momen untuk refleksi. Karena seringkali, hantu yang paling menyeramkan bukan yang muncul tiba-tiba dari balik pintu, tapi yang muncul dari dalam diri sendiri: rasa bersalah, dendam, dan kehilangan yang belum usai.

Jangan lupa ajak teman nonton bareng, karena… sendirian di bioskop setelah film selesai? Hmm, siapa tahu bukan cuma kamu yang pulang… 👻




Film Horor Jalan Pulang Tembus Lebih dari 1 Juta Penonton, Berikut Sinopsisnya!

Film Jalan Pulang yang diambil dari kisah nyata wajib untuk ditonton (Instagram).

Film Horor Jalan Pulang Tembus Lebih dari 1 Juta Penonton, Berikut Sinopsisnya!

Prolite – Film horor Indonesia terbaru yang berjudul Jalan Pulang bisa menjadi salah satu tontonan yang amat sangat disayangkan untuk dilewatkan.

Penggemar film horor pasti sangat menyukai film yang satu ini, bukan hanya ceritanya yang menarik namun Jalan Pulang juga diangkat dari kisah nyata.

Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang ibu bernama Lastini (diperankan Luna Maya) yang berusaha menyembuhkan anaknya, Arum, dari penyakit misterius yang diduga disebabkan oleh gangguan makhluk halus.

Maka dari itu dalam film yang disutradarai oleh Jeropoint menghadirkan deretan artis top untuk memainkan peran yang ada di dalam film tersebut.

Beberapa artis top tanah air yang langganan memerankan genre horor seperti Luna Maya, Shareefa Daanish, dan Taskya Namya.

Ketiganya dikenal piawai membawakan karakter-karakter penuh intensitas dalam film-film mencekam.

Nah, dalam Jalan Pulang, mereka dipertemukan dalam satu cerita yang dijanjikan bakal penuh ketegangan dan emosi.

Dikutip dari akun Instagramnya (@jeropoint), film Jalan Pulang berhasil menarik lebih dari 1 juta penonton dalam seminggu setelah tayang perdana pada 19 Juni 2025. Penarasan dengan ceritanya? Berikut synopsis dari film Jalan Pulang

Film Jalan Pulang mengisahkan perjuangan Lastini, seorang istri yang dilanda duka mendalam setelah kepergian suaminya, Edward. Edward diketahui meninggal secara janggal dan misterius.

Namun, belum sempat sembuh akibat kehilangan suami, tiba-tiba putri mereka Arum jatuh sakit tanpa sebab yang jelas. Hal yang membuat Lastini makin sedih adalah pengobatan medis yang tak mampu menyembuhkan putrinya.

Seiring waktu, Lastini mulai menyadari bahwa sang anak tak sedang mengalami penyakit biasa, melainkan ada kekuatan gaib yang menguasai tubuh dan jiwanya. Demi kesembuhan Arum, Lastini harus menempuh perjalanan panjang yang penuh tantangan dan bahaya.

Ditambah karena Arum harus sembuh sebelum ulang tahunnya yang jatuh tepat di tahun kabisat, jika ingin tetap selamat. Dalam perjalanan itu, Lastini ditemani dua anak lainnya, Lia dan Rama.

Mereka menyusuri berbagai pelosok Pulau Jawa, mencari pertolongan dari para dukun hingga penjaga ilmu-ilmu leluhur. Namun, yang mereka hadapi bukan sekadar sosok gaib jahat, tapi juga rasa takut, keputusasaan, dan ujian akan kekuatan cinta serta kasih seorang ibu.

Lantas, apa sebenarnya rahasia besar yang disembunyikan di balik kematian Edward dan sakitnya Arum? Mampukah Lastini menyelamatkan putrinya sebelum ulang tahun yang jatuh di tahun kabisat?

Penasaran dengan akhir dari cerita film horor tersebut buruan datang ke bioskop-bioskop kesayangan anda yang ada di Indonesia.




Dendam Malam Kelam Angkat Cerita Thriller Adaptasi Film Spanyol The Body

Prolite – Dendam Malam Kelam Angkat Cerita Thriller Adaptasi Film Spanyol The Body

Selamat datang di edisi malam Jumat, gengs! Waktunya ngebahas yang mencekam, bikin bulu kuduk berdiri, dan bisa bikin kamu ngerasa diawasin… padahal lagi sendirian di kamar! Kali ini, kita bakal bahas film horor psikologis yang lagi tayang di bioskop dan sukses bikin penonton nahan napas — Dendam Malam Kelam.

Film ini nggak main-main, loh. Diangkat dari film thriller Spanyol fenomenal berjudul The Body karya Oriol Paulo dan Lara Sendim, versi Indonesianya disutradarai oleh Danial Rifki dan dibintangi aktor favorit sejuta umat, Arya Saloka.

Kombinasi drama rumah tangga, perselingkuhan, pembunuhan, dan arwah penasaran — semuanya dibungkus dalam balutan misteri yang gelap dan bikin mikir. Yuk, kita kupas bareng cerita kelam di balik film ini! 👻

Film Terbaru Arya Saloka, Dendam Malam Kelam, Siap Guncang Bioskop!

Akhirnya! Film Dendam Malam Kelam resmi tayang di bioskop sejak 28 Mei dan langsung menyedot perhatian pecinta horor misteri. Disutradarai oleh Danial Rifki dan diproduksi oleh Falcon Pictures serta Globalgate Entertainment, film ini menjadi adaptasi cerdas dari The Body — sebuah thriller penuh teka-teki yang sukses secara internasional.

Buat kamu yang udah nonton The Body, pasti tahu gimana sensasi ngeri dan rasa curiga yang terus dibangun sepanjang film. Nah, versi Indonesia ini tetap mempertahankan unsur thriller psikologisnya, tapi dengan cita rasa lokal yang relatable dan bikin deg-degan!

Sinopsis: Dendam, Perselingkuhan, dan Arwah yang Tak Mau Tenang…

Jefri (Arya Saloka), seorang dosen yang kelihatannya punya kehidupan sempurna. Ia hidup harmonis bersama istrinya, Sofia (Marissa Anita), dan mendadak diangkat jadi direktur perusahaan milik keluarga sang istri. Tapi, di balik senyum manis dan rumah tangga idaman, Jefri menyimpan rahasia gelap — ia selingkuh dengan mahasiswinya sendiri, Sarah (Davina Karamoy).

Nggak cuma selingkuh, Jefri dan Sarah bahkan nekat menyusun rencana licik untuk membunuh Sofia. Dan rencana itu… berhasil. Sofia tewas. Tapi di sinilah mimpi buruk Jefri dimulai.

Beberapa saat sebelum autopsi dilakukan, jasad Sofia mendadak menghilang dari kamar mayat! Iya, kamu nggak salah baca. Mayatnya. Hilang.

Kasus ini menarik perhatian Arya Pradana (Bront Palarae), penyidik misterius dengan tatapan tajam dan masa lalu penuh trauma. Ia pun mulai mengurai simpul demi simpul misteri, sementara Jefri dan Sarah semakin terjebak dalam paranoia dan rasa bersalah.

Apakah Sofia benar-benar mati? Atau ada yang lebih menyeramkan dari sekadar kematian?

Psikologis vs Supernatural: Siap-siap Ditebak & Dibikin Merinding

Yang bikin Dendam Malam Kelam jadi makin spesial adalah keberhasilannya menggabungkan dua dunia: misteri psikologis dan horor supernatural. Kita bakal diajak menebak-nebak — ini semua akal-akalan? atau emang ada kekuatan gaib yang balas dendam?

Dari mulai suara misterius di lorong, penampakan sosok wanita berbaju putih, sampai ketakutan Jefri yang makin menggila… semuanya bikin kita ikut ketularan panik.

Dan jangan lupakan suasana yang dibangun film ini — gelap, sunyi, dan penuh ketegangan. Kayak ada yang ngintip dari balik jendela… 😨

Adaptasi Lokal yang Nggak Kaleng-Kaleng!

Meski berasal dari film Spanyol, Dendam Malam Kelam berhasil tampil sebagai karya yang punya identitas sendiri. Chemistry antar pemain kuat banget, sinematografinya keren, dan elemen horor disisipkan tanpa kesan murahan.

Arya Saloka tampil beda dari biasanya — kali ini bukan jadi suami idaman, tapi sosok dengan sisi gelap yang perlahan terkuak. Davina Karamoy juga totalitas sebagai selingkuhan manipulatif yang awalnya terlihat lemah lembut. Sementara Bront Palarae… duh, auranya cocok banget jadi penyidik misteri yang serba abu-abu.

Plot Twist-nya Nggak Main-Main!

Satu hal yang wajib di-highlight: ending-nya! Plot twist di film ini bakal bikin kamu nyesel kalau kedip. Semua petunjuk yang tersebar dari awal film, akan menemukan klimaksnya di akhir yang mencengangkan. Dan ya… mungkin kamu bakal refleksi tentang karma, pengkhianatan, dan harga dari sebuah rahasia yang disembunyikan terlalu lama.

Kalau kamu pecinta cerita-cerita kelam yang penuh kejutan dan aroma mistis, Dendam Malam Kelam adalah tontonan wajib. Apalagi buat kamu yang udah siap merayakan malam Jumat dengan suasana tegang dan lampu kamar yang diredupkan.

Tapi hati-hati ya… karena setelah nonton film ini, bisa aja kamu jadi mikir dua kali sebelum sendirian di lorong rumah. Siapa tahu… ada Sofia yang belum puas dan masih mencari keadilan.

Selamat menonton, dan selamat datang… di malam Jumat yang kelam. 🌙✨




Bersiaplah! 2 Film Horor Lokal Ini Bakal Menghantui Bioskop Juni 2025!

Film Lokal

Prolite – Catat Tanggalnya! 2 Film Horor Lokal Ini Siap Bikin Merinding di Bioskop Juni 2025

Pecinta film horor lokal, siap-siap ya! Bulan Juni 2025 akan jadi bulan yang mencekam di bioskop Tanah Air. Pasalnya, ada dua film horor Indonesia terbaru yang dijadwalkan rilis dan keduanya menjanjikan cerita yang gak cuma seram tapi juga penuh makna emosional dan nuansa budaya.

Film pertama adalah “Tenung”, yang bakal tayang awal Juni. Sementara yang kedua, “Jalan Pulang”, menyusul di pertengahan bulan. Keduanya membawa pendekatan horor yang berbeda tapi sama-sama bikin penasaran. Yuk, kita kupas satu per satu!

1. “Tenung” – Kengerian Ilmu Hitam yang Mengincar Garis Keturunan

📅 Tayang: 5 Juni 2025

“Tenung” adalah film horor yang mengangkat unsur ilmu hitam dan kekuatan jahat yang diturunkan secara generasi. Ceritanya berpusat pada Ira dan ibunya, Linda, yang mulai mengalami kejadian-kejadian mistis penuh teror. Suasana rumah yang tadinya tenang berubah jadi penuh ketegangan saat Linda mulai mengalami halusinasi, sakit misterius, dan akhirnya meninggal dunia.

Tapi… di sinilah ceritanya jadi makin seram. Saat jenazah Linda hendak dimakamkan, seekor kucing hitam tiba-tiba melompati tubuhnya, dan secara mengejutkan—Linda hidup kembali! Tapi tentu saja, bukan Linda yang dulu…

Pasca kejadian itu, sikap Linda berubah drastis. Ia menjadi sosok yang misterius, menyeramkan, dan penuh aura negatif. Ira pun perlahan menemukan kenyataan kelam: sang ibu ternyata menjadi korban tenung, sebuah praktik ilmu hitam yang membuat tubuhnya dirasuki entitas jahat. Lebih ngeri lagi, entitas itu punya misi menghancurkan seluruh garis keturunan Linda.

Film ini gak cuma menyuguhkan jump scare dan adegan menyeramkan, tapi juga menyisipkan kearifan lokal dan elemen budaya mistik Indonesia. Kisah tenung dan balas dendam antar keluarga jadi benang merah cerita yang bakal bikin kamu berpikir dua kali kalau lihat kucing hitam lewat.

2. “Jalan Pulang” – Horor Emosional Perjuangan Seorang Ibu

📅 Tayang: 19 Juni 2025

Kalau “Tenung” membawa kita ke ranah horor supernatural, maka “Jalan Pulang” menghadirkan horor yang lebih emosional, reflektif, dan psikologis. Film ini mengisahkan seorang ibu yang menempuh perjalanan panjang demi mencari pengobatan untuk anaknya yang menderita penyakit misterius.

Namun perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Semakin jauh sang ibu melangkah, semakin banyak gangguan dan kejadian aneh yang menghampirinya. Mulai dari perjumpaan dengan orang-orang asing, lingkungan yang tidak familiar, hingga simbol-simbol yang membuatnya terhubung dengan masa lalu yang kelam.

Uniknya, film ini tidak menakuti lewat hantu, tapi melalui perasaan cemas, tidak pasti, dan perlahan-lahan mengungkap misteri yang menekan secara batin. Sang ibu harus menghadapi kenyataan bahwa penyakit anaknya bisa jadi terkait dengan rahasia masa lalunya sendiri.

“Jalan Pulang” menyajikan hubungan emosional yang dalam antara ibu dan anak, dibungkus dengan atmosfer gelap dan tidak nyaman. Film ini cocok banget buat kamu yang suka horor dengan kedalaman cerita dan suasana yang membekas lama setelah film selesai.

Kenapa Kamu Gak Boleh Lewatkan Dua Film Horor Lokal Ini?

  • Nuansa Lokal yang Kental: Kedua film ini sama-sama mengangkat unsur budaya dan tradisi Indonesia, bikin cerita terasa lebih dekat dan relatable.

  • Pendekatan Horor yang Berbeda: “Tenung” lebih ke supernatural horror, sedangkan “Jalan Pulang” menawarkan horor yang emosional dan psikologis.

  • Kisah yang Menyentuh: Di balik teror, keduanya tetap punya elemen keluarga yang kuat—antara ibu dan anak, antara trauma dan pengampunan.

  • Produksi Berkualitas: Dari trailernya yang udah banyak dibicarakan netizen, jelas bahwa produksi kedua film ini digarap serius dengan visual mencekam dan akting yang menjanjikan.

Siap-Siap Nonton Bareng dan Jangan Duduk Sendirian!

Nah, buat kamu yang doyan nonton film horor lokal dan pengen ngerasain atmosfer bioskop yang sunyi dan tegang bareng penonton lain, Juni 2025 ini adalah waktu yang pas! Bisa nonton sendiri (kalau berani 😏), bareng pacar, atau mabar horor ramean biar gak deg-degan sendiri.

Jadi, kamu tim “Tenung” dengan nuansa gelap dan mistis? Atau tim “Jalan Pulang” yang lebih mengaduk emosi dan menyentuh? Atau dua-duanya langsung masuk watchlist?

Tulis di kolom komentar film horor lokal mana yang paling kamu tunggu dan kenapa! Dan pastikan kamu pantau terus jadwal tayang di bioskop kesayangan, karena tiket film horor biasanya cepet banget habis.

Yuk, ramaikan perfilman horor Indonesia dan dukung karya anak bangsa. Jangan lupa siapin popcorn dan mental yang kuat ya! 👻🍿




Dari Meme Jadi Film? Tung Tung Tung Sahur Siap Bikin Kita Merinding di Layar Lebar!

Tung Tung Tung Sahur

Prolite – Dari Meme Jadi Film? Tung Tung Tung Sahur Siap Bikin Kita Merinding di Layar Lebar!

Siapa yang masih ingat dengan suara “Tung Tung Tung Sahur!” yang viral banget di TikTok waktu bulan Ramadan 2025 kemarin? Yap, meme aneh nan nyeleneh ini nggak cuma sukses bikin kita ngakak dan merinding bareng, tapi sekarang kabarnya bakal naik kelas jadi film layar lebar! Wah, ini sih plot twist yang nggak disangka-sangka.

Apalagi, rumah produksi yang ngasih sinyal soal proyek ini bukan kaleng-kaleng—Dee Company, yang udah sukses garap film “Vina” dan “Dosen Ghaib”.

Netizen pun langsung heboh, penasaran seperti apa jadinya kalau suara kentongan sahur yang ikonik itu dijadikan cerita horor beneran di bioskop. Siap-siap deh, bukan cuma dibangunin sahur, tapi juga dibangunin rasa takut di malam hari!

Awal Mula Meme Tung Tung Tung Sahur: Dari Iseng Jadi Fenomena Viral

Semua bermula dari satu video TikTok yang diunggah oleh akun @noxaasht. Videonya terlihat simpel: suara kentongan sahur khas kampung yang digabungin dengan visual horor hasil AI. Tapi yang bikin netizen merinding adalah konsep di baliknya.

Dalam video itu, digambarkan ada sosok menyeramkan berbentuk pentungan kayu dengan wajah misterius. Ceritanya, makhluk ini—yang kemudian disebut sebagai “anomali brainbrot”—akan datang membangunkan orang untuk sahur. Tapi, kalau panggilan tung tung tung sahur itu diabaikan sebanyak tiga kali, siap-siap… sosok menyeramkan itu bakal muncul dan bikin kamu nyesel karena nggak bangun sahur!

Entah kenapa, meski horor, meme ini justru jadi bahan candaan dan konten kreatif netizen. Bahkan banyak yang bikin versi remix, parodi, sampai fanart ala-ala game indie. Kombinasi suara nostalgia dan nuansa horor inilah yang bikin Tung Tung Tung Sahur cepat meledak dan jadi tren di berbagai media sosial.

Dee Company Turun Tangan: Ada Petunjuk Film Horor Baru?

Nah, yang bikin geger belakangan ini adalah unggahan dari Dee Company di Instagram. Dalam postingan yang diunggah pada Senin (12/5/2025), terlihat mereka sedang duduk bareng sang kreator meme, sambil nulis caption menggoda:

“Ngobrol seru bareng kreator di balik Tung Tung Sahur! Berawal dari iseng, sekarang terkenal sampai ke seluruh dunia. Siap nggak nih kalau Tung Tung Tung Sahur difilmkan?”

Netizen langsung rame di kolom komentar. Ada yang antusias, ada yang ngakak, bahkan ada yang ngebayangin filmnya bakal kayak perpaduan antara “The Conjuring” dan “kentongan Pak RT”. Meskipun belum ada detail resmi soal plot atau genre filmnya, vibe dari unggahan ini kuat banget ngasih kode bahwa Tung Tung Tung Sahur akan diangkat ke layar lebar.

Film Horor Sahur? Konsep yang Segar dan Bikin Penasaran!

Kebayang nggak sih, film horor yang setting-nya pas sahur? Biasanya kan film horor itu main di malam Jumat atau tengah malam. Tapi kali ini, ancamannya datang justru saat kita bangun buat makan sahur!

Kalau beneran difilmkan, Tung Tung Tung Sahur punya potensi jadi genre horor yang unik dan beda dari biasanya. Bayangin, suasana kampung yang sepi, suara kentongan yang makin dekat, dan kamu sendirian di rumah… seremnya bisa berlipat-lipat! Belum lagi, kalau sosok “brainbrot” ditampilkan dengan desain AI yang disturbing kayak di meme aslinya—wah, bisa-bisa kita trauma tiap dengar suara kentongan!

Netizen: Antara Takut, Ngakak, dan Nggak Sabar

Respons netizen terhadap kabar ini beragam banget. Ada yang excited banget dan langsung bilang bakal nonton, ada juga yang malah nyaranin plot-plot aneh kayak:

  • “Plot twist-nya, ternyata brainbrot itu cuma Pak RT yang kesel karena kamu nggak sahur.”

  • “Bakal ada jumpscare tiap azan subuh berkumandang, fix.”

  • “Kalau ini tayang, bisa jadi tren baru: ngabuburit sambil nonton horor.”

Tapi satu yang pasti, banyak yang mendukung proyek ini karena dianggap fresh dan kreatif. Mengangkat meme lokal yang viral jadi film tuh bukan cuma bentuk apresiasi ke kreator, tapi juga bukti bahwa budaya digital Indonesia makin kuat pengaruhnya.

Apakah Ini Awal dari Era Film Meme?

Fenomena Tung Tung Tung Sahur ini bisa jadi pintu masuk buat tren baru di dunia perfilman: film dari meme. Dengan perkembangan media sosial yang cepat, banyak banget meme yang punya cerita unik dan bisa dikembangkan jadi film pendek atau bahkan film bioskop. Siapa tahu, nanti kita bakal lihat meme-meme lain seperti “Cendol Dawet”, “Aduh Mamah” atau “Slebew” juga punya versi filmnya. Seru kan?

Siapkah Kamu Menghadapi Kentongan Terseram Sepanjang Masa?

Meskipun belum ada tanggal rilis atau konfirmasi resmi, rumor film Tung Tung Tung Sahur ini udah cukup bikin kita deg-degan sekaligus penasaran. Apakah filmnya bakal full horor? Atau justru campur antara komedi dan misteri? Apapun itu, kita siap menanti sambil bilang, “Ayo bangun sahur, sebelum dipanggil tiga kali!”

Kalau kamu termasuk yang suka horor lokal dengan cita rasa viral dan absurd, jangan lupa follow terus kabar terbaru dari Dee Company dan sang kreator. Dan siapa tahu, pas filmnya rilis nanti, kamu bakal jadi orang pertama yang naik bioskop buat nonton pentungan mistis beraksi.