Rayakan Hari Musik Nasional dengan 3 Dokumenter Musik Paling Inspiratif!

Hari Musik Nasional

Prolite – 3 Rekomendasi Film Dokumenter Wajib Tonton untuk Rayakan Hari Musik Nasional

Hari Musik Nasional selalu jadi momen spesial bagi para pecinta musik di Indonesia. Diperingati setiap tanggal 9 Maret, hari istimewa ini diadakan untuk menghormati W. R. Soepratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya.”

Sejak ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013, Hari Musik Nasional jadi ajang apresiasi bagi musisi tanah air dan industri musik yang terus berkembang.

Selain mendengarkan lagu-lagu favorit, ada cara seru lain buat merayakannya: nonton film dokumenter musik! Lewat film-film ini, kita bisa menyelami lebih dalam perjuangan musisi, kisah di balik lagu-lagu ikonik, serta perkembangan musik Indonesia dari masa ke masa.

Nah, berikut ini tiga film dokumenter musik yang wajib kamu tonton!

1. A Documentary of Mocca: Life Keeps On Turning (2011)

Buat penggemar indie pop, nama Mocca pasti sudah nggak asing lagi. Band asal Bandung yang terkenal dengan nuansa retro dan swing jazz ini punya dokumenter spesial yang wajib masuk watchlist-mu!

Film ini disutradarai oleh Ari Rusyadi dan Nicholas Yudifar, dan menampilkan perjalanan Mocca bersama para personelnya: Indra Massad Effendy, Arina Ephipania, dan Toma Pratama.

Dokumenter ini nggak cuma memperlihatkan kesuksesan mereka, tapi juga cerita pahit-manis perjalanan band ini hingga akhirnya memutuskan untuk vakum sementara setelah 12 tahun berkarya.

Yang bikin film ini makin menarik adalah adanya momen-momen emosional antara Mocca dan penggemarnya, Swinging Friends. Dokumenter ini merekam konser perpisahan mereka, yang pastinya bikin haru dan bangga melihat bagaimana sebuah band bisa tumbuh besar dengan dukungan komunitas yang solid.

2. Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua (2021)

Kalau kamu suka musik rock dan metal, film dokumenter ini bakal jadi tontonan wajib! “Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua” mengangkat kisah salah satu tempat legendaris dalam sejarah musik Indonesia, Gedung Saparua di Bandung.

Gedung Saparua bukan sekadar venue biasa. Sejak tahun 1960-an, tempat ini telah menjadi saksi lahirnya banyak band besar, terutama dari skena underground. Dokumenter ini, yang disutradarai oleh Alvin Yunata (gitaris Teenage Death Star), mengajak kita menjelajahi perjalanan Gedung Saparua dari masa ke masa, mulai dari era rock dan metal 1970-an hingga komunitas musik bawah tanah yang berkembang di tahun 1990-an.

Dalam film ini, kita bisa mendengar kisah dari berbagai musisi dan tokoh penting, seperti Sam Bimbo, Arian13 (Seringai), Dadan Ketu (manajer Burgerkill), dan Suar (mantan vokalis Pure Saturday). Mereka berbagi pengalaman dan kenangan tentang Gedung Saparua yang telah menjadi “rumah” bagi banyak musisi berbakat di Indonesia.

3. Nada-Nada Penting / The Most Important Serenade (2022)

Film ini berbeda dari dua dokumenter sebelumnya karena mengangkat tema musik tradisional. Disutradarai oleh Linda Ochy dan ditulis oleh Astri Apriyani, “Nada-Nada Penting” mengisahkan perjalanan gitaris Slank, Ridho Hafiedz, dan penyanyi Yura Yunita dalam menyelamatkan alat musik tradisional yang hampir punah di Karangasem, Bali.

Di dalam film ini, mereka belajar membuat dan memainkan alat musik “penting” dari musisi lokal. Tidak hanya itu, mereka juga menyelami filosofi hidup masyarakat Bali dan menyaksikan bagaimana musik bisa menjadi jembatan antara generasi lama dan baru.

Sebagai hasil dari perjalanan mereka, Ridho dan Yura merilis lagu “Nada Kaya” pada 18 Desember 2022, yang merupakan kolaborasi antara musik modern dan tradisional. Dokumenter ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan musik Indonesia, agar nggak hilang ditelan zaman.

Rayakan Hari Musik Nasional dengan Cara Seru!

Itu dia tiga film dokumenter musik yang bisa kamu tonton untuk merayakan Hari Musik Nasional! Setiap film punya cerita unik tentang perjalanan musisi dan perkembangan musik di Indonesia, yang pastinya bisa menambah wawasan serta inspirasi buat kita semua.

Jadi, kamu tertarik nonton yang mana dulu, nih? Jangan lupa siapkan camilan favorit dan nikmati kisah-kisah inspiratif dari dunia musik tanah air. Selamat merayakan Hari Musik Nasional! 🎶✨




Film Dokumenter “Petrus” Ditayangkan Mulai 8 Desember 2024: Mengungkap Misteri Penembakan Preman di Era 80-an

Prolite – Film Dokumenter “Petrus” Ditayangkan Mulai 8 Desember 2024: Mengungkap Misteri Penembakan Preman di Era 80-an

Siapa yang nggak penasaran dengan kejadian-kejadian besar dalam sejarah Indonesia yang penuh misteri? Nah, buat kamu yang ingin tahu lebih dalam tentang salah satu kisah gelap di masa lalu, ada kabar menarik!

Film dokumenter “Petrus” yang akan tayang mulai 8 Desember 2024 di layanan pemutaran film berbayar KlikFilm siap mengungkap sisi gelap kebijakan yang dijalankan pemerintah untuk memberantas kejahatan pada tahun 1980-an.

Film ini diangkat dari rangkaian peristiwa penembakan preman yang terjadi selama Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK). Penasaran kan dengan cerita di baliknya? Yuk, simak ulasan lengkapnya!

Petrus: Kisah di Balik Penembakan Misterius di Era 80-an

Film dokumenter “Petrus” menghadirkan sebuah kisah nyata yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah di masa lalu yang penuh dengan kontroversi. Pada awalnya, Edy Prass, selaku produser film, memiliki ide untuk membuat film bertema kekerasan, khususnya mengenai preman atau gangster.

Namun, setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk menggali lebih dalam tentang sebuah kejadian besar yang mengguncang masyarakat Indonesia di era 1980-an, yaitu rangkaian penembakan misterius yang dikenal dengan nama Petrus.

Petrus atau penembakan preman misterius ini dilakukan oleh pihak keamanan untuk memberantas kejahatan di berbagai kota, termasuk Yogyakarta. Film ini ingin memperlihatkan peristiwa tersebut dari sudut pandang yang objektif dan menyajikan fakta-fakta yang belum banyak diketahui masyarakat.

Menurut Tri Sasongko Hutomo, sang sutradara, dokumenter ini mengungkapkan kesaksian langsung dari orang-orang yang terlibat atau yang mengalami sendiri dampak dari kebijakan OPK tersebut.

OPK: Operasi yang Menyisakan Misteri

Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK) pertama kali dilaksanakan di Kota Yogyakarta pada tahun 1981 dan kemudian menyebar ke kota-kota besar lain di Indonesia hingga 1983.

Program ini bertujuan untuk memberantas kejahatan dan premanisme yang marak pada masa itu, namun cara yang digunakan—yakni dengan penembakan misterius—menyisakan banyak tanda tanya.

Film “Petrus” akan mengupas peristiwa ini dengan menyajikan kesaksian para tokoh yang mengalami langsung dampak dari operasi tersebut. Salah satunya adalah Yudho, yang sahabatnya, Wahyo, menjadi korban dalam peristiwa ini.

Menurut Yudho, Wahyo adalah sosok yang baik dan tidak pantas menjadi target penembakan. Bahkan, sebelum kejadian, Yudho sempat memperingatkan Wahyo untuk berhati-hati karena ia hanya dipakai oleh preman sebagai alat untuk menjalankan bisnis gelap.

Film Dokumenter yang Menyajikan Fakta dan Kesaksian Langsung

Apa yang membuat film “Petrus” semakin menarik adalah pendekatan objektif yang diambil oleh sutradara, Tri Sasongko Hutomo. Dalam film ini, penonton akan mendengar kesaksian dari para tokoh yang terlibat langsung dalam operasi tersebut.

Mereka akan berbicara tentang bagaimana kehidupan mereka terpengaruh oleh kebijakan pemerintah yang kontroversial ini.

Kesaksian Yudho tentang sahabatnya, Wahyo, menjadi salah satu momen yang cukup menggugah. Yudho merasa tidak adil bahwa Wahyo harus menjadi korban dalam kebijakan yang seharusnya menyasar preman-preman besar, bukan orang-orang yang terperangkap dalam sistem tersebut.

Dalam film ini, kamu akan bisa merasakan bagaimana perasaan para saksi yang hidup dalam ketakutan selama berlangsungnya operasi tersebut.

Pentingnya Film Dokumenter Ini untuk Memahami Sejarah

Selain mengungkap sisi gelap sejarah, film dokumenter “Petrus” juga memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana kebijakan yang diterapkan pada masa itu bisa berdampak pada banyak orang, baik yang terlibat langsung maupun yang tidak bersalah.

Keberanian para pembuat film untuk menyajikan sisi lain dari sejarah ini menunjukkan pentingnya refleksi terhadap masa lalu, agar kita bisa belajar dari kesalahan yang sudah terjadi.

Film ini tidak hanya mengungkap fakta sejarah, tetapi juga menyoroti dampak sosial dari kebijakan tersebut yang sering kali dilihat sebelah mata oleh masyarakat luas.

Sebagai penonton, kita bisa lebih paham bagaimana kebijakan semacam itu bisa mempengaruhi kehidupan orang-orang biasa yang terjebak dalam situasi tersebut.

Jika kamu seorang pencinta film dokumenter atau tertarik dengan sejarah Indonesia, film “Petrus” adalah pilihan yang sangat tepat untuk ditonton.

Ditayangkan mulai 8 Desember 2024 di KlikFilm, film ini bukan hanya memberikan hiburan, tetapi juga membuka wawasan tentang masa lalu yang kelam dan penuh misteri.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan sebuah film yang mengungkap kisah nyata dengan pendekatan yang berbeda dari yang pernah kamu lihat.

Siapkan dirimu untuk menyelami sejarah, mendengarkan kisah dari para saksi, dan berpikir lebih jauh tentang kebijakan yang pernah ada. Tonton “Petrus” dan temukan sendiri misteri yang tersembunyi di baliknya.

Jadi, siap untuk melihat sisi gelap sejarah Indonesia yang belum banyak diketahui? Jangan lupa untuk menandai kalender kamu! 8 Desember 2024, film dokumenter “Petrus” akan tayang hanya di KlikFilm. Pastikan kamu jadi salah satu yang pertama menontonnya!




Festival Film Dokumenter 2023: Membuka Jendela Budaya dan Keindahan Global

Festival Film Dokumenter 2023

YOGYAKARTA, Prolite – Festival Film Dokumenter 2023 kembali memukau pecinta film dengan menjadi tuan rumah di Yogyakarta.

Sebagai festival film dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, Festival Film Dokumenter 2023 akan menampilkan 84 film dari 42 negara.

Negara-negara tersebut mencakup Indonesia, Kuba, Perancis, Belgia, China, Thailand, Argentina, Meksiko, Spanyol, India, Jerman, Maroko, Kanada, Kolombia, dan Amerika Serikat.

Melintasi batas dan waktu, festival ini membawa penonton pada perjalanan yang memikat melalui ragam cerita yang diangkat dalam bentuk dokumenter.

Suasana pembukaan Festival Film Dokumenter (FFD) 2023 di Yogyakarta – kompas

Pintu gerbang Festival Film Dokumenter (FFD) ke-22 dibuka pada malam Minggu, 3 Desember 2023, di gedung eks Bioskop Permata, Yogyakarta.

Acara pembukaan tersebut dihadiri oleh para pegiat film dokumenter dari berbagai belahan Asia, Eropa, dan sejumlah daerah di Indonesia.

FFD 2023 akan berlangsung hingga 9 Desember 2023 dan menyebar di empat lokasi berbeda, termasuk gedung eks Bioskop Permata, Institut Français Indonésie-Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta, Bioskop Sonobudoyo, dan Cemeti-Institute for Art and Society.

Dengan menyajikan berbagai film dokumenter dari penjuru dunia, FFD tetap menjadi wadah untuk menyatukan para pecinta film dan penggiat dokumenter dalam atmosfer yang kreatif dan inspiratif.

Beyond the Screen: Program Menarik di Festival Film Dokumenter 2023

Festival Film Dokumenter 2023
Festival Film Dokumenter 2023 – Kompas

Festival Film Dokumenter 2023 tidak hanya menawarkan penonton sebuah kesempatan untuk menikmati film dokumenter berkualitas, tetapi juga menyajikan sejumlah program menarik yang dapat diikuti oleh berbagai kalangan.

Para pegiat film dokumenter, peneliti film, mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum yang ingin memperluas pengetahuan mereka tentang dunia film dapat bergabung dalam sejumlah program yang diselenggarakan.

Program-program tersebut melibatkan diskusi film, kompetisi film, lokakarya, dan penayangan film.

Dengan berbagai kegiatan ini, FFD 2023 memberikan peluang kepada para peserta untuk mendalami dan mengapresiasi seni perfilman dokumenter sekaligus membangun jejaring di antara para penggemar dan praktisi film.

Lokakarya film dokumenter yang dimulai sejak Oktober 2023 telah menjadi wahana bagi para pembuat film muda untuk mengembangkan keterampilan mereka.

Sepuluh proyek film dokumenter yang berhasil lolos kurasi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lokakarya ini.

Proses pembuatan film mereka dibimbing oleh tujuh mentor berpengalaman, baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Suasana pembukaan Festival Film Dokumenter (FFD) 2023 di Yogyakarta – kompas

Para peserta lokakarya tidak hanya mendapatkan panduan dalam menyusun proposal film dokumenter, tetapi juga mendapatkan wawasan yang berharga dari para mentor yang telah berkiprah dalam industri film.

Dengan ini, Festival Film Dokumenter 2023 tidak hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga menjadi inkubator untuk bakat-bakat baru yang akan melangkah lebih jauh dalam dunia perfilman dokumenter.




Sinopsis The Devil on Trial : Menelusuri Kasus Pembunuhan yang Menginspirasi The Conjuring 3

The Devil on Trial

Prolite – “The Devil on Trial” seketika menjadi sorotan utama di dunia hiburan setelah Netflix merilisnya.

Film dokumenter ini mengangkat kasus kriminal Arne Cheyenne Johnson yang sangat kontroversial dan sudah menjadi inspirasi dalam dunia perfilman, termasuk dalam film horor “The Conjuring: The Devil Made Me Do It” yang dirilis tahun 2021.

The Devil on Trial – netflix

Kasus Arne Cheyenne Johnson memang sangat mencolok, terutama pada era 1980-an. Ini adalah kasus pertama di Amerika Serikat di mana sekelompok pengacara mencoba membuktikan bahwa seorang tersangka seharusnya tidak dianggap bersalah karena mengklaim dirasuki oleh setan.

Kasus ini bermula dari pembunuhan temannya, Alan Bono, yang juga merupakan tuan tanah Arne. Peristiwa tragis ini terjadi pada November 1981 di Brookfield, Connecticut, ketika Arne secara tragis membunuh Alan Bono dengan sebilah pisau lipat.

Film dokumenter “The Devil on Trial” yang tayang di Netflix sejak 17 Oktober 2023 memberikan sinopsis lengkap dari kasus ini.

Film ini adalah tontonan yang sempurna untuk kalian yang tertarik pada kasus kriminal kontroversial dan ingin menggali lebih dalam tentang peristiwa dan detail yang mengelilingi kasus ini.

Netflix selalu memberikan berbagai pilihan film dan dokumenter menarik, dan “The Devil on Trial” menjadi salah satu yang harus ditonton. Jadi, buat yang suka dengan genre ini, yuk simak sinopsisnya dan jangan sampai ketinggalan! 🎥🍿

Sinopsis The Devil on Trial

– Netflix

 

Dokumenter “The Devil on Trial” mengungkapkan sebuah fenomena yang sangat luar biasa, yaitu penggunaan kerasukan setan sebagai pembelaan dalam kasus pembunuhan di Amerika Serikat. Korban dalam kasus ini adalah Alan Bono, yang mengalami nasib tragis.

Kronologi peristiwa dimulai dengan dugaan bahwa David Glatzel, yang saat itu masih berusia 11 tahun dan merupakan adik dari pacar Arne, mengalami kerasukan setan.

Keluarganya meminta bantuan dari Ed dan Lorraine Warren, seorang pasangan paranormal yang kasus-kasusnya menjadi inspirasi bagi franchise film “The Conjuring.”

Saat Ed dan Lorraine Warren melakukan ritual pengusiran setan untuk membantu David, entitas yang tadinya menghantui David justru memasuki tubuh Arne Cheyenne Johnson.

Setelah insiden ini, Arne terlibat dalam perkelahian dengan Alan Bono dan tragisnya, mengakibatkan kematian Alan Bono.

– netflix

Sinopsis dokumenter “The Devil on Trial” ini menjadi inspirasi dari film “The Conjuring: The Devil Made Me Do It.”

Sebuah kisah yang membingungkan dan menegangkan yang menggugah imajinasi dan penasaran banyak orang.

Jadi, untuk yang tertarik untuk menggali lebih dalam tentang kasus ini, dokumenter ini sudah bisa disaksikan di Netflix. Selamat menonton! 🎥👻