KLH Larang Penyelesaian Masalah Sampah di Kota Bandung dengan Sistem Insenarator

KLH Larang Penyelesaian Masalah Sampah di Kota Bandung dengan Sistem Insenarator (dok).

KLH Larang Penyelesaian Masalah Sampah di Kota Bandung dengan Sistem Insenarator

KOTA BANDUNG, Prolite – Terkait larangan insenarator oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) petugas pengelola sampah di TPS3R Anugrah Siringgit (Kelurahan Derwati, Bandung), Ujang Siringgit mengaku kecewa. Pasalnya belum ada solusi tepat mengatasi sampah di Kota Bandung.

Selain itu Ujang tidak ingi mengorbankan kepercayaan masyarakat yang telah membuang sampah ketempatnya untuk dikelola dan dibakar melalui mesin insenarator tersebut.

“Meski dilarang disini masih berjalan (pembakaran sampah dengan insenarator). Masalahnya saya tidak mau mengorbankan warga buang sampah kemana? Apa saya tolak disini? Suruh langsung buang ke Jalan Tol atau ke Sungai?,” tanya Ujang kepada wartawan.

Ujang menilai uji emisi dilakukan KLH terkesan terburu-buru. Padahal penggunaan mesin insenarator itu dirasa efektif.

“Masa uji emisi jam 11 malam, pagi udah mengeluarkan statemen, terus jenis apa yang dilarang itu, insenarator yang kecil itu yang mana? Apakah yang rumahan?,” tanyanya lagi.

Kata Ujang ditempatnya mesin pemusnah sampah sudah bisa menghabiskan sampah per hari 10 sampai 11 ton.

“Apakah itu termasuk yang kecil? Dan untuk solusi kota Bandung tidak ada lagi selain dimusnahkan. Ujung-ujungnya dari dulu itu TPA nya, Sarimukti, dulu Jelekong, yang longsor itu sampai memakan korban,” gerutunya.

“Nah sekarang Legoknangka. Legoknangka itu gak ada kepastian, maaf maaf itu gak ada kepastian, itu sarang korupsi para pejabat dulu jadi gak bakalan bisa dibuka. Kalau dibuka itu langsung makan korban, masalahnya jalannya itu cobalah survei langsung kesana gak bakalan ada yang bener semua kesana sarang korups,” tuturnya.

Ujang kembali menyebut bahwa insenarator l sudah skala besar karena sudah mampu menghabiskan sampah dari 12 RW Kelurahan Derwati dan 2 RW Kelurahan Majahlega

“Kalau yang wisang geni itu mah produk gagal, itu hitungan paling satu roda, paling lima kintal per hari, bisa dibuktikan. Saya dengan kenyataan merasa membakar sampah dengan mesin insenarator itu cukup efektif,

Ujang mengaku tidak setuju jika pengolahan sampah dengan mesin insenarator dihentikan.

“Apun alasannya atau siapapun meminta sampah ditarik lagi oleh DLHK saya tidak setuju tetap ingin pakai insinirator,” tegasnya.




Per Hari, Pemkot Olah 300 Ton Sampah di Kota Bandung

Pemkot olah 300 ton sampah di Kota Bandung per hari

BANDUNG, Prolite – Ada yang tahu, berapa banyak sampah di Kota Bandung yang di produksi oleh tiap orang di lingkungan sehari-hari?

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Dudy Prayudi, ternyata satu orang diperkirakan menyumbang sampah di Kota Bandung sekitar 0,6 kg per hari.

Jika diakumulasi dengan seluruh penduduk Kota Bandung pada malam hari, maka dalam sehari sebanyak ton sampah di Kota Bandung diproduksi masyarakat.

“Tapi di siang hari karena banyak penduduk lain yang juga kerja di Kota Bandung. Belum lagi saat akhir pekan Bandung menjadi tujuan wisata, maka sampah yang dihasilkan bisa mencapai ton per hari,” jelas Dudy saat ditemui di kantornya, Senin 20 Februari 2023.

Untuk menangani jumlah sampah tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) sudah mengolah sekitar 300 ton per hari.

“Sehingga, sampah yang kita kirim ke TPA Sarimukti itu tersisa ton per hari,” katanya.

Berbagai upaya telah dijalankan DLKH untuk mengurai permasalahan sampah di Kota Bandung. Salah satunya dengan mengubah sistem pengelolaannya.

Dudy memaparkan, dulu pengelolaan sampah masih bersifat kumpul, angkut, lalu buang. Sampah yang ada di masing-masing rumah dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS).

Kemudian oleh petugas diangkut ke tempat penampungan akhir (TPA). Dengan sistem ini tidak menyelesaikan masalah, tapi hanya memindahkan masalah saja.

“Ini yang mengakibatkan pada 21 Februari 2005 terjadi insiden di TPA Leuwigajah. Terjadi longsor yang mengakibatkan 157 nyawa meninggal,” paparnya.

“Maka dari itu, kita ubah sistemnya menjadi Kang Pisman (kurangi, pisahkan, dan manfaatkan) ini diberlakukan di sumber sampah yakni rumah tangga. Diharapkan di sumber sampah memisahkan minimal dua yakni sampah organik dan anorganik,” ungkapnya.

Sampah-sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik bisa dibuat kerajinan atau diberikan ke Bank Sampah.

Bahkan, jika sudah terkumpul sebanyak bisa ditukar dengan logam mulia mini 0,05 gram di Bank Sampah.

“Di beberapa tempat tabungannya sudah sampai puluhan juta. Nanti bisa diberikan dalam bentuk uang atau logam mulia juga,” katanya.

Namun, ia mengakui jika program ini belum berjalan serentak di seluruh wilayah Kota Bandung. Fakta di lapangan, sampah masih kerap bercampur karena belum dipilah oleh masing-masing rumah tangga.

“Mungkin karena mereka belum paham atau ingin praktisnya saja. Ini menjadi PR kita untuk bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah. Kita butuh peran aktif dari masyarakat. Tanpa adanya peran dari semua stakeholder, tentu sulit,” akunya.

Selain Kang Pisman, upaya lain yang dilakukan Pemkot Bandung adalah mengubah TPS dari tempat penampungan sampah menjadi tempat pengolahan sampah. Ada peran Bank Sampah juga di ranah tersebut.

“Sedangkan penanganan di sumbernya, kita lakukan melalui gerakan Kang Pisman, di TPS melakukan pengolahannya. Sehingga sampah yang dikirim ke TPA itu hanya sisanya saja,” akunya.

Untuk semakin menuntaskan masalah sampah, rencananya di Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada Selasa, 21 Februari 2023, DLHK akan launching tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Cicukang Holis. TPST ini menggunakan teknologi Refuse-Derived Fuel (RFD).

“Tahun ini akan dibangun di tiga tempat, Tegallega, Nyengseret, dan Cicabe. Kemudian tiga TPST lagi di tahun depan. Kalau tidak salah di Pasir Impun, Jelekong, dan Taman Kehati Palasari,” tuturnya.

Selain TPST, Pemkot Bandung juga mewacanakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dengan mengubah sampah menjadi energi alternatif atau terbarukan. Selain menjadi listrik, bisa juga menjadi biodigester dan RDF.

“Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan. Pertama, sampahnya selesai di sumber, tidak lagi menjadi tumpukan sampah di TPA. Kedua, energinya bisa menggantikan energi yang ada. Listriknya bisa menerangi lokasi yang belum teraliri listrik,” jelas Dudy.

Sampai saat ini, program tersebut masih berproses, belum menuju pada pembangunan. Namun, ia mengungkapkan, jika wacana PLTSa ini pun menjadi fokus pembahasan pada TPA Legok Nangka.

Saat ini pihak pemerintah provinsi tengah melelang tempat pengolahan sampah di Legok Nangka yang nantinya memiliki konsep waste to energy dalam skala regional.

“Meliputi Kota Bandung, Kita Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut. Jadi, sampah-sampah dari enam wilayah tersebut dikirim ke sana untuk diolah menjadi listrik. Rencananya di tahun 2026 Legok Nangka ini bisa beroperasi,” paparnya.

Namun, sebelum Legok Nangka diaktivasi, TPA Sarimukti akan tetap menjadi tempat untuk menampung semua sampah.

“Sekarang di TPA Sarimukti sudah berangsur normal. Tapi memang masih ada PR yang belum selesai di Kota Bandung. Jalannya belum diperbaiki, jika hujan pasti akan ada kendala lagi. Tahun ini Pemprov Jabar akan memperbaiki jalan tersebut,” katanya.(**/red)