Buruan SAE, Revolusi Ketahanan Pangan Kota Bandung

Buruan SAE, Revolusi Ketahanan Pangan Kota Bandung

BANDUNG. Prolite – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menginisiasi Buruan SAE sebagai strategi ketahanan pangan berbasis keluarga.

Bahwasanya kota Bandung sebagai kota metropolitan menghadapi fakta bahwa 96,42% kebutuhan pangannya dipasok dari luar daerah. Hal ini membuat kota sangat rentan terhadap inflasi dan gangguan distribusi.

Buruan SAE hadir di tengah padatnya pemukiman dan gedung-gedung tinggi Kota Bandung. Buruan SAE sebuah gerakan hijau tumbuh subur dari balik pekarangan rumah warga. Gerakan ini bukan sekadar hobi berkebun biasa, melainkan sebuah revolusi pangan perkotaan yang kini dikenal luas.

Di balik kesuksesan program yang telah diadopsi oleh ratusan kelompok tani ini, sosok inovator yang visioner Ir. Gin Gin Ginanjar, , menyampaikan bahwa “Buruan SAE” diambil dari bahasa Sunda; Buruan berarti halaman atau pekarangan, sementara SAE adalah singkatan dari Sehat, Alami, dan Ekonomis.

Buruan SAE

Program ini bukan hanya soal menanam sayur, tetapi sebuah siklus pertanian terintegrasi yang melibatkan delapan aktivitas utama, mulai dari budidaya tanaman pangan, peternakan, perikanan, pengolahan sampah organik (kompos), hingga pengolahan hasil panen buruan sae menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi.

“Kini, lebih dari 555 kelompok tani telah mengadopsi model ini di berbagai penjuru Bandung. Keberhasilannya tidak lepas dari penerapan nilai-nilai “BerAKHLAK” dalam birokrasi, di mana ASN berperan bukan sekadar sebagai regulator, melainkan aktor kunci dan pendamping yang turun langsung ke lapangan, ” ujar pria kelahiran Bandung pada 9 Desember 1966.

Gin Gin merupakan putra daerah ini memahami betul denyut nadi kotanya, sejak perjalanan akademisnya di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diselesaikan pada tahun 1993, serta gelar Master of Engineering dari UIM IHE-DELFT Belanda tahun 2000, membekalinya dengan keahlian teknis yang mumpuni di bidang pangan dan manajemen perkotaan.

Sebelum memimpin DKPP, Gin Gin telah melanglang buana di berbagai posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kota Bandung, mulai dari BAPPEDA, Setda, Dinas Pertamanan hingga Badan Kepegawaian. Pengalaman lintas sektoral inilah yang membuatnya mampu melihat tantangan ketahanan pangan bukan hanya dari sisi teknis pertanian, tetapi juga dari perspektif kebijakan publik dan pemberdayamasyarakat.

Progam buruan SAE sendiri telah menorehkan prestasi hingga menembus dunia. Dedikasi Gin Gin tidak hanya diakui di tingkat lokal, tetapi juga internasional. Di bawah kepemimpinannya, program Buruan SAE membawa Kota Bandung meraih pengakuan global di ajang Milan Pact Awards.

Tahun 2022, Meraih Special Mention untuk Kategori Produksi Pangan di Rio de Janeiro, Brazil, dan bulan Oktober 2025, Kembali meraih Special Mention untuk Kategori Food Waste. Di tingkat nasional, ia pun dinobatkan sebagai Juara 1 PNS Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Kategori Inovatif pada tahun 2023 dan terpilih sebagai finalis ASN Berprestasi Nasional pada 2024. Berbagai penghargaan seperti Piala Pinunjul dari Bank Indonesia juga menjadi bukti nyata perannya dalam menekan inflasi melalui kemandirian pangan warga.

“Buruan SAE lebih dari sekadar program pemerintah ini adalah gerakan budaya. Saya bercita-cita menjadikan Bandung sebagai kota yang tidak hanya cantik, tetapi juga tangguh dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, komunitas, pengusaha, hingga media, ia terus mendorong agar setiap jengkal lahan di Bandung bisa memberikan nilai manfaat bagi warganya,” harapnya.

Dengan kerendahan hati dan semangat melayani yang tinggi, Gin Gin Ginanjar telah membuktikan bahwa dengan inovasi yang tepat dan komitmen yang kuat, ketahanan pangan bukan lagi mimpi bagi masyarakat perkotaan. Sosoknya menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari halaman rumah sendiri.




Wujudkan Zero Stunting, Pemkot Bandung Ajak Warga Mendukung Program Dashat

Ilustrasi Stunting (Instagram).

Wujudkan Zero Stunting, Pemkot Bandung Ajak Warga Mendukung Program Dashat

BANDUNG, Prolite – Permasalahan stunting memang sangat penting untuk di perhatikan dan di atasi pada suatu wilayah seperti di Kota Bandung.

Dalam hal ini Pemerintah Kota Bandung memastikan untuk seluruh anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Upaya ini dilakukan pemerintah melalui berbagai program yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

Banyaknya program yang sudah dikeluarkan oleh Pemkot Bandung untuk mencegah stunting diantaranya Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan, kesehatan anak harus menjadi gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Humas Kota Bandung
Humas Kota Bandung

“Kita semua tentu berharap anak-anak di Kota Bandung tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Pemerintah terus berupaya, tapi keberhasilan ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat,” jelasnya dikutip dari Humas Pemkot Bandung, Selasa (18/11).

Menurut Farhan, masyarakat dapat berperan mulai dari menjaga lingkungan, memanfaatkan hasil pangan dengan bijak, hingga ikut mendukung tersedianya dapur sehat di wilayah masing-masing.

“Lingkungan yang bersih, pengelolaan pangan yang baik, dan kebiasaan makan sehat adalah langkah sederhana yang punya dampak besar. Warga bisa mulai dari rumah masing-masing,” ucapnya.

Program Dashat berasal dari anggaran Pemkot Bandung dan diprioritaskan untuk mendukung Bayi di Bawah Dua Tahun (Baduta), balita, serta ibu hamil berisiko stunting.

Masa baduta sebagai periode emas atau 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.

Farhan menilai, keberlanjutan Dashat di tingkat kelurahan sangat penting untuk mencapai target kota.

“Harapan kami, setiap kelurahan yang memiliki Dashat bisa terus aktif mengolah dan menyediakan makanan sehat bagi keluarga berisiko stunting. Kalau kita konsisten, Bandung bisa menjadi Kota Zero New Stunting,” ujarnya.

Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah dan masyarakat, Kota Bandung optimistis dapat menurunkan anak terdampak dan memastikan generasi masa depan tumbuh lebih sehat dan berkualitas.




Buruan SAE Taruna 08 Panen Selada Hijau 92,07 Kg, Segar, Sehat, dan Bikin Bangga!

Buruan SAE Taruna 08 Panen Selada Hijau 92 (dok Pemkot Bandung).

Buruan SAE Taruna 08 Panen Selada Hijau 92,07 Kg, Segar, Sehat, dan Bikin Bangga!

Prolite – Suasana penuh semangat dan keceriaan menyelimuti Kelompok Buruan SAE Taruna 08 di Jalan Sapta Taruna Raya, Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Kamis 6 Februari 2025 lalu.

Pagi yang cerah menjadi saksi panen sayuran selada hijau dan salada bokor yang telah tumbuh subur di media tanam Organic Tower Garden (OTG). Hasilnya pun luar biasa—total 92,07 kg sayuran segar berhasil dipanen melalui Kelompok Buruan Sae Taruna 08.

Teriakan antusias dan senyum sumringah menghiasi wajah para anggota kelompok. Setiap helai daun selada yang dipetik terasa begitu istimewa, hasil dari perawatan penuh cinta dan ketelatenan selama beberapa minggu terakhir.

Tidak hanya sekadar memanen, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata, bercocok tanam itu mudah dan menguntungkan. Dengan menanam sayuran sendiri, kita bisa menikmati makanan sehat, bebas pestisida, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Salah satu anggota kelompok, Siti mengungkapkan rasa bangganya.  “Awalnya saya ragu, bisa nggak ya nanam sayur sendiri? Ternyata bukan cuma bisa, hasilnya malah melimpah! Rasanya puas banget bisa panen dari hasil kerja keras sendiri,” ujarnya dengan senyum lebar.

Selain itu, metode OTG yang digunakan juga terbukti efisien. Dengan sistem bertingkat, lahan yang terbatas bisa dimanfaatkan secara maksimal. Hasilnya? Sayuran hijau yang subur dan berkualitas.

Dengan adanya panen seperti ini, diharapkan semakin banyak warga yang terinspirasi untuk mulai menanam sendiri di rumah. Tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga untuk membangun kesadaran akan pentingnya pertanian perkotaan yang berkelanjutan.

Panen kali ini mungkin sudah selesai, tetapi semangat untuk menanam dan menjaga lingkungan tetap akan tumbuh. Karena menanam bukan hanya tentang hasil, tapi juga tentang kepedulian terhadap kesehatan dan masa depan bumi kita.

Yuk, mulai menanam. Sehatnya dapat, lingkungannya pun selamat!




Kembangkan Tanaman Obat, Kampung Berkebun RW 01 Kebongedang Penyandang Penghargaan Toga Terinovatif

Tanaman Obat

Berbagai Tanaman Obat Dikembangkan

BANDUNG, Prolite – Ketua Kampung Berkebun RW 01 Kebongedang Elita Sari Dewi menyampaikan kebun tanaman obat keluarga yang ada di wilayahnya dibangun sejak tahun 2020 dalam program buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis)

Kala itu Kelurahan Kebongedang mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pertanian dan Pangan (DKPP) Kota Bandung untuk buruan SAE namun karena didorong lurah kala itu dialihkan ke tanaman obat keluarga.

“Kita titik beratkan ke toga, karena kita punya lahan lebih luas dan didorong oleh pak lurah untuk toga karena saat itu ada lomba ekstrak,” ungkapnya.

Masih kata Elita, awal ditanam ada 110 jenis toga namun karena kondisi cuaca dan perawatan yang belum maksimal sebagian toga hancur.

Tanaman Obat

“Ini ada pacar air, handeuleum, daun betadine, keji beling, sirih merah, sirih hijau, bidara, suji, kaki urat, pucuk jambu, pokoknya semua tanaman toga tradisional,” ucapnya.

Sejak masyarakat banyak mengetahui di sini tersedia toga sejak itu pula banyak datang dan minta tanaman obat tersebut.

Kampung Elita berkebun mengaku semangat menanam toga pasalnya ke depan apotek obat kimia akan berdampingan dengan apotek obat herbal.

“Ada yang datang minta handeuleum lalu saya arahkan tidak hanya itu jadi sedikit ada edukasinya, masyarakat kebanyakan mengmbil saja sedang perawatan ke kami. Kadang ada masyarakat punya toga tapi gak bisa rawat jadi ditanam disini. Untuk luas lahan 250 m2 namun spot toganya 60 m2,” pungkasnya.

Selain toga, di sana juga ada tanaman produktif sehat, alami, ekonimis.

“Awal ditanam lidah buaya, pandan, bunga telang yang diolah jadi minuman, puding, rice stik manggo” tutupnya seraya mengatakan wilayahnya sempat mendapat penghargaan juara 3 kelompecapir DKPP tahun 2022, dan 2023 penghargaan toga terinovatif.




Harga Beras Naik Hingga Rp 3 Ribu Rupiah Per Kilo

harga beras naik

Harga Beras Naik Hingga Rp 3 Ribu Rupiah Per Kilo

BANDUNG, Prolite – Harga beras kian melambung. Harga beras naik mulai Rp hingga Rp per kilo gram.

Diakui Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar, harga beras naik sebenarnya terjadi secara nasional begitu pun terkait stok ketersediaan.

“Mudah-mudahan tidak berlangsung lama, beberapa upaya kita lakukan seperti pusat membantu 10 kg beras bagi masyarakat, di internal juga kita selain Buruan SAE memperkuat dengan kegiatan pasar murah dan gerakan pangan murah salah satunya diperuntukkan pangan sedang naik di antaranya beras,” jelasnya.

Harga daging ayam dan telur - buruan sae
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar.

Selain itu Bulog pun secara rutin mengeluarkan berasnya ke pasar-pasar maupun masyarakat langsung. Namun dari sisi produksi memang diakui menurun karena pengaruh cuaca dan ketergantungan warga akan beras cukup tinggi. Pemkot diakuinya sedang menggenjot stok beras untuk ke depan.

“Harga beragam yang premium di Rp , dari HET Rp , yang medium HET Rp sekarang diangka Rp , kita koordinasi ke pusat agar sebelum puasa bisa turun sekitar 2 – 3 ribu rupiah. Kita juga gencar perbanyak stok dan operasi pasar,” jelasnya.

Untuk harga cabai merah, rawit, bawang merah diakuinya sering naik turun sebabkan inflasi ditambah produksi juga berkurang karena cuaca.

“Di sini pun panen belum masa panen, jadi panen tidak serentak. Harga cabai sekitar Rp sekarang Rp beragam naik signifikan, harga telur ayam dan daging pun naik, telur ayam di Rp harga baru seperti itu, daging juga Rp sampai Rp ,” tutupnya.




Buruan SAE Panen Cabe Rawit, Upaya Kendalikan Inflasi 

Buruan SAE

Buruan SAE Panen Cabe Rawit, Upaya Kendalikan Inflasi

BANDUNG, Prolite – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyampaikan panen di Buruan SAE RW 08, Kelurahan Pasirkaliki ini merupakan panen guna mengendalikan inflasi.

Pasalnya tanaman cabe rawit, cabe merah besar, dan bawang merah menjadi beberapa komoditi pangan berdampak pada inflasi.

“Ini salah satu kelompok yang hari ini panen dari 375 kelompok Buruan SAE yang kita punya. Kita fokus kembangkan secara masif lagi kebiasan menanam,” jelas Gin Gin.

Karena untuk mengendalikan inflasi bahkan Pemkot Bandung fokus mengalokasikan anggaran khusus di kelurahan perbanyak guna menanam tanaman inflasi.

Harga daging ayam dan telur - buruan sae
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar.

“Ada juga bantuan CSR kelompok usaha memperbesar tanaman ini agar lebih masif, termasuk BI sudah dilaksanakan organic tower garden (OTG) sebagai media tanam praktis dan fungsi pemilahan sampah. Namun disini khusus ditanami bawang merah,” jelasnya.

“Nah dengan ini inflasi selama sudah terkendali bisa lebih terkendali lagi dan ini masalah kedepan kita setiap kota itu inflasi mendapat perhatian dari pusat agar mewanti-wanti perhatikan mengendalikan inflasi,” ucapnya.

Lanjut Gin Gin, dari 96,42% ketergantungan bahan pangan adanya buruan SAE di Kota Bandung bisa menurun menjadi 92,12% atau hampir 4% ketergantungan kita menurun. Data tersebut dikuatkan hasil sensus pertanian oleh BPS tahun kemarin dan usaha pertanian perkotaan meningkat cukup signifikan membantu terhadap pemenuhan pangan secara mandiri Kota Bandung.

Karenanya tahun ini DKPP menargetkan kembali kelompok baru Buruan SAE sekitar 100 kelompok.

“Saya yakin data lebih besar kelompok berkembang sendiri tanpa suport langsung dari dinas maupun pemerintah, apalagi tadi ada program tambahan,” tandasnya.




Warga RW 03 Cibangkong Panen Buruan Sae, Bantu Turunkan Angka Stunting di Kota Bandung

RW 03 Kelurahan Cibangkong sukses panen komoditas pangan Buruan Sae (Dok Pemkot Bandung).

Warga RW 03 Cibangkong Panen Buruan Sae, Bantu Turunkan Angka Stunting di Kota Bandung

BANDUNG, Prolite – Kelompok Tani Perkotaan Mandiri (KPM) RW 03 Kelurahan Cibangkong sukses panen komoditas pangan Buruan Sae, Rabu (13/9).

Hasil panen dari Kebun KPM RW 03 ini diberikan kepada penerima manfaat yang berasal dari warga Kelurahan Cibangkong. Kegiatan ini berjalan atas swadaya masyarakat.

Bersamaan dengan panen, Pusat Pelayanan Pemberdayaan Perempuan (Puspel PP) Kelurahan Cibangkong meluncurkan program BUAS (Bantuan Untuk Anak Stunting). Program ini merupakan implementasi program Buruan Sae sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Pada panen perdananya ini, sebanyak 25 penerima manfaat hadir secara simbolis. Jumlah tersebut belum termasuk penerima manfaat yang tidak hadir ke Kebun KPM RW 03.

Novi Sulastri, warga RW 01 Kelurahan Cibangkong merasa sangat terbantu dengan kegiatan ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada Puspel PP Kelurahan Cibangkong atas manfaat yang diterimanya.

“Alhamdulillah dapat sayuran, dan ini ada makanan bergizi untuk anak. Tentunya ini sangat membantu ya, makanan bergizi sangat dibutuhkan oleh anak-anak yang terkena stunting,” kata Novi.

Ia berharap, program ini dapat berjalan terus dan dapat menginspirasi wilayah lain untuk menjalankan program serupa.

Hal yang sama juga diungkapkan Yeni Rahmawati. Warga RW 11 Kelurahan Cibangkong ini merasa terbantu dengan program BUAS yang baru saja diluncurkan.

Menurutnya, makanan bergizi merupakan hal yang penting bagi semua orang. Apalagi bagi anak yang menderita stunting.

“Harapannya program ini bisa menjangkau lebih banyak lagi penerima manfaat,” kata Yeni.

Sementara itu, Ketua Puspel PP Kelurahan Cibangkong, Euis menyebut, beberapa komoditas pangan yang dipanen hari ini antara lain sosin, pakcoy, terong, kacang panjang, dan pepaya. Hasil panen ini dibagikan kepada masyarakat, khususnya diperuntukkan bagi anak-anak stunting.

Ia mengaku senang karena program Buruan Sae yang dimiliki Pemkot Bandung dapat diimprovisasi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Kami tentunya berharap dapat ikut berpartisipasi mendukung program-program yang ada di Pemerintah Kota Bandung, khususnya di Kelurahan Cibangkong,” katanya.

Euis juga berharap Program BUAS ini dapat membantu program Buruan Sae lebih bermanfaat dan bisa ditiru juga oleh masyarakat di wilayah lainnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar. Ia mengaku sangat senang dan bersyukur program Buruan Sae dapat diaplikasikan dan membantu banyak orang.

Kata Gin Gin, hari ini, Buruan Sae tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga saja, tetapi bisa saling membantu di level masyarakat yang membutuhkan manfaatnya.

“Buruan Sae kini tidak hanya bernilai pangan, tetapi bisa membantu masyarakat untuk membantu menekan angka stunting,” kata Gin Gin.

Ia berharap program ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Kata Gin Gin, dengan adanya manfaat luar biasa seperti ini, sudah waktunya setiap masyarakat punya kesadaran mengaplikasikan program Buruan Sae.

“Kita terus dorong masyarakat mengaplikasikan program ini. Karena manfaatnya bisa sama-sama kita lihat sendiri,” ujar Gin Gin.

Sebagai informasi, angka prevalensi stunting di Kota Bandung semakin turun tiap tahunnya. Per 7 Februari 2023, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bandung menyampaikan, prevalensi stunting di Kota Bandung di tahun 2022 turun 7 persen dibandingkan sebelumnya.

Pada 2021, prevalensi stunting Kota Bandung berada di angka 26,4 persen. Lalu di tahun 2022 mengalami penurunan menjadi 19,4 persen.

Pemkot Bandung menargetkan prevalensi stunting di Kota Bandung bisa mencapai angka 14 persen pada 2023.(ray)**