Lebih lanjut, bupati yang akrab disapa Kang DS ini menjelaskan bahwa pengembangan ayam petelur tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui program MBG, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat yang tergabung dalam koperasi. Skema ini sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi desa berbasis produksi pangan strategis.
Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah antisipatif dalam menjaga stabilitas harga telur di masa mendatang. Dengan meningkatnya kapasitas produksi lokal, Kabupaten Bandung diharapkan mampu mengendalikan pasokan sehingga risiko inflasi akibat lonjakan harga telur dapat ditekan sejak dini.
Melalui sinergi antara KDKMP, LPDB, dan program MBG, Pemerintah Kabupaten Bandung optimistis koperasi desa dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan