Tidak Semua Pekerjaan Cocok dengan Gaya yang Sama
Bayangkan seorang desainer berpengalaman diberikan tugas membuat kampanye kreatif. Kalau setiap warna, font, layout, dan konsep harus ditentukan atasannya, ruang kreativitasnya tentu menjadi sangat sempit.
Namun, bagaimana jika seorang karyawan baru diminta mengoperasikan mesin dengan prosedur keselamatan tertentu? Memberikan kebebasan penuh sejak hari pertama justru bisa berisiko.
Inilah alasan mengapa gaya manajemen sebaiknya adaptif.
Penelitian mengenai delegasi menunjukkan bahwa manajer cenderung memberikan lebih banyak kewenangan ketika karyawan memiliki pengetahuan khusus yang lebih tinggi mengenai pekerjaannya. Artinya, semakin kompeten seseorang dalam bidang tertentu, semakin masuk akal jika ia diberikan ruang mengambil keputusan.
Sesuaikan Kontrol dengan Pengalaman dan Jenis Pekerjaan
Daripada bertanya, “Saya harus jadi micromanager atau macromanager?”, pemimpin sebaiknya bertanya:
“Berapa banyak arahan yang dibutuhkan orang ini untuk berhasil?”
Untuk karyawan baru, pemimpin mungkin perlu memberikan instruksi yang lebih jelas, melakukan check-in lebih sering, dan memberikan feedback secara rutin.
Ketika kompetensinya meningkat, tingkat kontrol dapat dikurangi secara bertahap. Karyawan mulai diberikan ruang mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
Sementara itu, jenis pekerjaan juga perlu dipertimbangkan. Pekerjaan yang berisiko tinggi atau memiliki prosedur ketat mungkin membutuhkan kontrol lebih besar. Sebaliknya, pekerjaan kreatif, profesional, dan berbasis pengetahuan sering kali membutuhkan ruang otonomi yang lebih luas.
Dengan kata lain, kontrol seharusnya bukan hukuman karena pemimpin tidak percaya kepada tim, tetapi alat untuk membantu tim bekerja dengan aman dan efektif.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan