Kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial. Ramadan adalah momen yang tepat untuk mempererat hubungan.
Luangkan waktu berbuka bersama keluarga, mengirim pesan ke teman lama, atau sekadar berbagi cerita ringan.
Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa interaksi positif dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa aman dan nyaman.
Kalau merasa lelah atau overwhelmed, jangan ragu untuk bercerita. Berbagi bukan berarti lemah. Justru itu bentuk self awareness.
5. Atur Ekspektasi dan Jangan Terlalu Perfeksionis
Sering kali tekanan datang dari diri sendiri. Ingin ibadah sempurna, produktif maksimal, tetap aktif sosial, dan semuanya berjalan ideal.
Padahal tubuh sedang beradaptasi. Wajar kalau energi sedikit berbeda dari hari biasa.
Coba atur ekspektasi secara realistis:
- Prioritaskan hal yang paling penting.
- Beri ruang untuk istirahat.
- Maafkan diri sendiri kalau ada target yang belum tercapai.
Ramadan bukan kompetisi. Ini perjalanan personal.
Ramadan Bisa Jadi Momen Reset Emosional
Menjaga kesehatan mental selama Ramadan bukan hal yang rumit, tapi membutuhkan kesadaran dan konsistensi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan