Pria yang Menemukan Makna Hidup di Dalam Kamp Nazi, Kenalan dengan Viktor Frankl, Tokoh Psikologi yang Mengubah Cara Kita Memandang Penderitaan!

Prolite Bayangkan kamu kehilangan segalanya dalam semalam. Rumah, keluarga, pekerjaan, kebebasan — semuanya lenyap. Kamu dilempar ke dalam situasi yang paling brutal dan dehumanisasi yang pernah ada dalam sejarah manusia.

Di sana, di kamp konsentrasi Nazi, kebanyakan orang mungkin akan kehilangan satu hal terakhir yang tersisa: harapan.

Tapi Viktor Emil Frankl tidak. Dan dari kegelapan paling dalam itulah lahir salah satu teori psikologi paling berpengaruh di abad ke-20: Logoterapi.

Dari Vienna ke Auschwitz: Perjalanan Hidup yang Membentuk Sebuah Teori

Viktor Frankl

Viktor Frankl lahir pada 26 Maret 1905 di Vienna, Austria, dalam keluarga Yahudi kelas menengah. Sejak remaja, kecerdasannya sudah menonjol — ia bahkan saling berkirim surat dengan Sigmund Freud di masa mudanya, dan Freud sendiri yang membantu mempublikasikan salah satu tulisan awal Frankl.

Ia menempuh pendidikan kedokteran di University of Vienna dan segera mengembangkan ketertarikan khusus pada psikiatri dan neurologi. Di awal kariernya pada 1930-an, ia fokus menangani pasien yang rentan — termasuk perempuan yang berisiko bunuh diri dan remaja yang kehilangan arah. Pada 1937, ia membuka praktik pribadi di neurologi dan psikiatri — karier yang tampaknya akan gemilang.

Tapi sejarah punya rencana lain.

Pada 1942, Viktor Frankl dan keluarganya dideportasi ke kamp konsentrasi Nazi. Ia melewati kengerian Auschwitz, Dachau, dan beberapa kamp lainnya selama hampir tiga tahun.

Di sana, ia menyaksikan dan merasakan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa. Dan ia kehilangan hampir semua orang yang ia cintai — istrinya, orang tuanya, saudaranya — dalam kamp-kamp tersebut.

Tapi di tengah semua itu, Frankl melakukan sesuatu yang luar biasa: ia mengamati. Ia memperhatikan apa yang membuat sebagian orang bertahan sementara yang lain menyerah. Dan jawaban yang ia temukan menjadi fondasi dari seluruh hidupnya.

Ananditha Nursyifa
Editor