Indonesia pernah jadi “Kepulauan Rempah” yang bikin bangsa-bangsa Eropa rela berlayar berbulan-bulan. Tapi hari ini, sebagian warisan itu sedang menuju kepunahan. Siapa yang bertanggung jawab?

Prolite Bayangkan kamu sedang memasak kari, tapi bumbu-bumbu khas Nusantara yang harusnya ada di dalam panci perlahan-lahan menghilang dari muka bumi. Bukan karena kamu lupa beli di pasar — tapi karena pohonnya memang tidak ada lagi. Ngeri, kan?

Inilah realita yang sedang mengancam beberapa rempah asli Indonesia. Di balik nama-nama asing seperti “saffron” dan “truffle” yang ramai diperbincangkan di media sosial, Indonesia punya harta karunnya sendiri yang jauh lebih tua, lebih kaya khasiat — tapi sayangnya sedang terancam punah.

Alih fungsi lahan, kurangnya minat budidaya, dan banjirnya rempah impor di pasar modern menjadi biang keladi utamanya. Mari kita kenali mereka, sebelum terlambat!

1. Pohon Kepel (Kisereh) — Si Deodoran Alami Putri Keraton yang Hampir Hilang

Namanya mungkin asing di telingamu, tapi bagi para putri keraton Raja Mataram di Yogyakarta, pohon ini adalah “kecantikan rahasia” mereka. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol), yang di beberapa daerah juga dikenal sebagai burahol, cindul, atau turalak — adalah flora identitas resmi Daerah Istimewa Yogyakarta yang kini termasuk dalam kategori tanaman langka.

Yang bikin pohon ini luar biasa: buahnya yang berbentuk mirip sawo dipercaya bisa mengubah aroma keringat, napas, dan urine menjadi harum — digunakan sejak lama sebagai deodoran alami oleh para putri bangsawan.

Daging buahnya juga dikenal sebagai peluruh kencing (diuretik), pencegah radang ginjal, bahkan disebut-sebut sebagai KB alami bagi wanita dalam tradisi Jawa. Daunnya bermanfaat untuk mengatasi asam urat dan menurunkan kadar kolesterol, sementara kayunya sangat kuat dan tahan lama untuk bahan industri.

Ironisnya, pohon ini menjadi langka justru karena sejarahnya sendiri. Konon, rakyat zaman dahulu tidak berani menanam kepel karena takut kualat — karena pohon ini hanya boleh ada di halaman keraton. Akibatnya, pohon kepel hanya tersisa di beberapa titik di Pulau Jawa dan butuh upaya konservasi genetik yang serius untuk diselamatkan.

Ananditha Nursyifa
Editor