Ini Buku Favorit Member CORTIS yang Bikin Mindset Naik Level!

CORTIS

Bukan Sekadar Idol! Ini Daftar Bacaan CORTIS yang Bikin Mindset Makin Tajam

Prolite – Kalau kamu pikir idol K-pop cuma sibuk latihan dance, rekaman lagu, dan tampil di panggung, siap-siap kaget! Karena, boy group CORTIS membuktikan kalau image keren dan performa maksimal ternyata juga ditopang oleh kebiasaan membaca yang serius.

CORTIS adalah boy group asal Korea Selatan yang dibentuk oleh Big Hit Music, anak perusahaan HYBE Corporation. Grup ini beranggotakan lima orang: Martin, James, Juhoon, Seonghyeon, dan Keonho. Mereka resmi debut pada 18 Agustus 2025 dengan single pertama “What You Want” dan langsung mencuri perhatian lewat konsep fresh, musikalitas kuat, dan karakter member yang unik.

CORTIS

Menariknya, meski usia mereka masih tergolong muda, selera bacaan para member jauh dari kata biasa. Buku-buku yang mereka rekomendasikan bukan sekadar bacaan ringan, tapi karya-karya reflektif yang membahas kreativitas, jati diri, filosofi hidup, hingga mental resilience.

Penasaran buku apa saja yang masuk reading list mereka? Yuk, kita bahas satu per satu lengkap dengan sinopsis dan kenapa buku ini relevan banget buat generasi sekarang.

1. The Creative Act: A Way of Being – Rick Rubin

Buku karya produser legendaris Rick Rubin ini bukan buku teknis tentang cara bikin lagu hit. “The Creative Act: A Way of Being” justru membahas kreativitas sebagai cara hidup.

Rick Rubin dikenal sebagai produser yang bekerja dengan banyak musisi besar lintas genre. Dalam buku ini, ia menekankan bahwa setiap orang sebenarnya adalah makhluk kreatif. Kreativitas bukan soal bakat langka, tapi soal cara kita melihat dan merespons dunia.

Sinopsis singkat: Buku ini berisi refleksi singkat, hampir seperti kumpulan meditasi, tentang bagaimana menjaga kepekaan, menerima ketidaksempurnaan, dan membiarkan ide mengalir tanpa terlalu dikontrol ego.

Kenapa ini cocok buat idol seperti CORTIS? Karena industri hiburan menuntut inovasi terus-menerus. Buku ini membantu kreator tetap grounded dan tidak kehilangan esensi diri saat berkarya.

Buat kamu yang ingin jadi content creator, musisi, penulis, atau pekerja kreatif, buku ini bisa jadi pengingat bahwa kreativitas bukan tentang viral, tapi tentang kejujuran ekspresi.

2. Honmono – Seong Hae-na

“Honmono” karya Seong Hae-na membawa pembaca pada pencarian makna tentang keaslian dan identitas. Kata honmono sendiri dalam bahasa Jepang berarti “yang asli” atau “yang autentik”.

Sinopsis singkat: Novel ini mengeksplorasi karakter-karakter yang hidup di tengah tekanan sosial dan ekspektasi publik. Ceritanya menggambarkan konflik antara citra yang ditampilkan dan diri yang sebenarnya.

Tema ini sangat relate dengan dunia idol. Di balik panggung megah dan sorotan kamera, ada manusia yang tetap bergulat dengan pertanyaan: siapa aku sebenarnya?

Buku ini mengajak pembaca untuk berani jujur pada diri sendiri, bahkan saat dunia menuntut kita tampil sempurna.

Buat generasi muda yang sering merasa tertekan oleh standar media sosial, “Honmono” seperti cermin yang mengajak refleksi: apakah kita hidup sebagai diri sendiri, atau sekadar versi yang ingin dilihat orang lain?

3. The Subtle Art of Not Giving a F*ck – Mark Manson

Kalau kamu pernah merasa overthinking, terlalu peduli komentar orang, atau takut gagal, buku ini mungkin jadi alasan kenapa member CORTIS tetap terlihat santai meski berada di industri super kompetitif.

Karya Mark Manson ini dikenal sebagai buku self-help yang anti-klise. Alih-alih menyuruh pembaca selalu positif, buku ini justru mengajak kita menerima bahwa hidup penuh masalah.

Sinopsis singkat: Intinya sederhana: kita tidak bisa peduli pada semua hal. Energi kita terbatas, jadi pilih dengan bijak apa yang benar-benar layak diperjuangkan.

Mark Manson menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi, batasan sehat, dan keberanian menerima kegagalan.

Untuk idol yang terus dinilai publik, pola pikir ini sangat penting. Tidak semua kritik harus ditelan mentah-mentah. Tidak semua ekspektasi harus dipenuhi.

Buat kamu yang sering merasa burnout karena ingin menyenangkan semua orang, buku ini bisa jadi wake-up call yang menyegarkan.

4. Übermensch – Friedrich Nietzsche

Pilihan yang cukup mengejutkan datang dari karya filsuf klasik Friedrich Nietzsche tentang konsep Übermensch.

Dalam pemikiran Nietzsche, Übermensch adalah manusia yang mampu melampaui batasan moralitas konvensional dan menciptakan nilai hidupnya sendiri.

Sinopsis singkat: Konsep ini muncul dalam karya filsafat Nietzsche yang membahas tentang keberanian menjadi individu yang mandiri secara pemikiran dan tidak sekadar mengikuti arus.

Mengapa ini menarik bagi idol generasi baru? Karena di tengah sistem industri yang ketat, gagasan tentang membangun nilai diri dan tidak terjebak dalam standar lama bisa menjadi sumber kekuatan mental.

Bagi pembaca, konsep ini mengajak kita bertanya: apakah kita menjalani hidup berdasarkan nilai yang benar-benar kita yakini, atau sekadar mengikuti norma tanpa berpikir?

Dari Panggung ke Halaman Buku

Menarik melihat bagaimana member CORTIS tidak hanya fokus pada karier musik, tetapi juga memperkaya diri lewat literasi. Dari kreativitas ala Rick Rubin, refleksi identitas di Honmono, mental resilience ala Mark Manson, hingga filsafat Nietzsche, semuanya menunjukkan kedalaman cara berpikir mereka.

Di era 2026, ketika generasi muda semakin sadar pentingnya self-development dan kesehatan mental, pilihan bacaan seperti ini terasa sangat relevan.

Kalau idol favoritmu saja meluangkan waktu untuk membaca dan mengasah pemikiran, masa kamu nggak?

Yuk, pilih satu buku dari daftar ini dan mulai perjalanan refleksimu sendiri. Siapa tahu, bukan cuma playlist kamu yang naik level, tapi juga mindset dan cara pandang hidupmu.