Dibangun Lewat Kolaborasi Internasional
Menariknya, perjalanan Empat Musim Pertiwi tidak hanya melibatkan Indonesia. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi internasional yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Singapura, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan negara lainnya.
Proses pengembangannya juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga perfilman internasional. International Film Festival Rotterdam melalui Hubert Bals Fund mencatat Four Seasons in Java sebagai salah satu proyek yang memperoleh dukungan HBF+Europe pada 2026. Film ini sebelumnya juga masuk dalam proyek yang dipresentasikan di CineMart 2025.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia semakin memiliki ruang untuk berkembang melalui jaringan produksi dan pendanaan internasional.
Bukan Sekadar Film tentang Kepulangan
Pada akhirnya, Empat Musim Pertiwi tampaknya tidak sekadar ingin bercerita tentang seseorang yang kembali ke kampung halaman.
Kepulangan Pertiwi menjadi pintu untuk membicarakan trauma, kekerasan, ketidakadilan, solidaritas perempuan, serta bagaimana seseorang berusaha mengambil kembali kendali atas hidupnya.
Kini, perhatian publik tinggal tertuju pada Toronto. Apakah kisah Pertiwi akan menjadi salah satu film Indonesia yang mencuri perhatian penonton internasional di TIFF 2026?
Jawabannya tentu baru bisa ditemukan ketika film ini akhirnya diputar di Toronto pada September mendatang.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan