Berpikir kritis melibatkan logika dan penalaran, bukan sekadar perasaan. Misalnya, merasa marah saat membaca berita tertentu itu wajar. Tapi berpikir kritis berarti tetap mengevaluasi isi berita tersebut: apakah datanya valid, apakah judulnya provokatif, dan apakah ada sudut pandang lain yang tidak ditampilkan.
Dengan kata lain, emosi boleh hadir, tapi tidak memegang kendali penuh atas kesimpulan yang kita ambil.
Kenapa Berpikir Kritis Penting di Era Informasi?
Kita hidup di era information overload. Informasi datang dari mana-mana: media sosial, grup chat, portal berita, podcast, sampai AI. Tanpa kemampuan berpikir kritis, seseorang rentan terjebak hoaks, misinformasi, dan opini dangkal yang dibungkus seolah-olah fakta.
Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia punya kecenderungan bias, seperti confirmation bias (lebih mudah percaya informasi yang sejalan dengan keyakinan kita). Berpikir kritis membantu kita menyadari bias ini dan tidak langsung percaya hanya karena informasi tersebut “cocok” dengan apa yang kita pikirkan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan