Alasan perubahan tanaman ini lanjut Didi, guna bukan hanya luasan terpenuhi tetapi juga indeks hijaunya yang saat ini tidak terpenuhi.

“Nah kita mengejar indeks hijaunya jangan hanya luasan tapi indeks hijaunya, setelah tumbuh dewasa itu kemampuan ekologi makin tinggi, kalau di RT RW itu namanya ruang terbuka hijau (RTH) tapi oleh masyarakat ditanami palawija gak ada tegakannya. Kalau hujan palawija itu meresp air tapi tidak menahan air yang berpotensi tanah tergerus,” tegasnya.

Saat curah hujan tinggi dan luapan air besar, pohon palawija tak bisa menahannya berbeda dengan pohon pelindung, potensi air terbawa kecil. Kemudian resapan air makin tinggi sehingga mampu menahan air, efek positifnya ketika musim kemarau tidak kering.

“Satu giat ini untuk banyak manfaat, kalau dari kami, itu bagian dari mitigasi bencana longsor dan banjir. Bagi DSABM itu bagian dari pengurangan daya rusak air dan banjir, mungkin DPKP itu bagian pemenuhan hutan kota, bagi DKPP itu adalah budi daya perkebunan, bagi DLHK itu adalah mengurangi global warming. Ini baru dua titik karena kebetulan pohon habis kemarin,” tutupnya.

Rizki Oktaviani
Editor