“Kota Bandung sebagai kota jasa tidak hanya dipengaruhi permintaan penduduk lokal tetapi juga wisatawan dan penduduk komuter, kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terutama bahan makanan sehingga ketersediaan pangan harus memperhitungkan seluruh aktivitas masyarakat masuk ke Kota Bandung,” ungkap Nevi.

Nevi menilai keberadaan dua pasar induk di Kota Bandung memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran distribusi bahan pangan. Optimalisasi fungsi pasar induk sebagai katalisator rantai pasok dinilai penting untuk memastikan pasokan ke pasar-pasar tetap lancar dan harga lebih stabil.

“Kita memiliki keuntungan strategis dengan adanya dua pasar induk. Bagaimana kita bisa memerankan fungsi pasar induk sebagai katalisator penjaga stabilitas rantai pasok ke pasar-pasar yang ada di Kota Bandung,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Barat, Budi Kurnia, menambahkan bahwa kompleksitas aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu daerah dengan variabel penghitungan inflasi yang cukup tinggi.

Rizki Oktaviani
Editor